Kalo di jagad hiburan ada artis pendatang baru, maka di dunia realita ada yang namanya new comer urban. Yap, urban pendatang baru. Baru baca kemarin pagi di koran Jawa Pos, tim wartawan JP nemu empat orang yang bakalan jadi penghuni baru Surabaya. Mereka bukan siapa-siapa, nggak punya saudara, plus nggak punya tujuan mau ke mana. Semuanya serba spontan tanpa rencana.

Biasanya sih gitu kalo di kota-kota besar pasti habis liburan panjang -entah itu libur Lebaran atau sekolah-, banyak pendatang baru di Surabaya (tahun ini sampe 100.000 orang!) yang ingin mengadu nasib. Parahnya lagi, kota segede dan metropolitan ini belum tentu cocok dengan keahlian mereka. Maksudnya, di Surabaya ini kan semuanya berhubungan dengan teknologi, sementara mereka belum tentu punya skill yang memenuhi permintaan kerja di sini.

Yang seperti ini nih, kadang menimbulkan masalah bagi banyak pihak. Karena ya mau cari kerjaan seperti apa dengan ketrampilan yang pas-pasan. Orang Surabaya asli saja masih sulit mencari pekerjaan yang layak, apalagi para urban. Aku bingung, kenapa nggak mikir dulu yah. Bukan berarti kedinamisan metropolitan akan selalu bersinergi dengan iklim pedesaan yang terlalu damai. The city is totally running.

Mulai dari masalah tempat tinggal, KTP, pekerjaan, hingga masalah kriminal yang lagi-lagi urusannya karena “perut”. Seakan-akan di kota besar itu semuanya halal dan dihalalkan, begitu? Nope. Kerja di kota nggak selalu jadi pilihan yang tepat. Justru di kota itu kehidupan lebih keras dari desa yang tenang bin damai. Kalo nggak, kenapa para eksekutif muda pada lari ke Puncak, Trawas, Pacet, Tretes, dan pegunungan-pegunungan untuk menenangkan diri?

Menurut laporan JP, pemkot Surabaya sih bakalan benar-benar merealisasikan Perda entah nomor berapa itu. Semoga itu bukan hanya isapan jempol belaka. Tapi bukannya kalo urusan “mengusir orang-orang kecil”, lebih mudah ya, bagi Pemkot? Yang susah itu kalo sudah kena suap orang-orang besar yang usahanya ilegal. Harusnya yang diusir bukan cuma orang kecil lho, orang besar juga. Selama membahayakan kota kita? Minta tolong ya, Bu Walikota…

Jadi, daripada berkejaran di kota tanpa keahlian, lebih baik mengembangkan ilmu di desa via internet. Plis, bagi kaum muda di pedesaan, internet sudah menyentuh kalian. Kalian bisa belajar dari rumah, sekolah, dan di tengah-tengah sawah kalian. Terus, ilmu itu bisa langsung diaplikasikan menurut keadaan desa masing-masing. Dengan jalan seperti itu, maka tiap daerah akan mengoptimalkan sumber dayanya masing-masing. 🙂

Indonesia itu, akan maju kalau orang desa dan orang kotanya bener-bener ngerti perannya masing-masing. Let’s move on together, Indonesian!

Advertisements