Well, let me use the Bahasa Indonesia for this new subject of college life. Haaah, there are more than 3 assignments every week. Luckily, I still have a group to accompany me and we stay side by side to finish them! Fiuh. Alhamdulillah!

Jadi, ini adalah filsafat. It is like this picture:

Filsafat, philosophy, philo – cinta; sophy – kebijaksanaan. Gitu ya? Nggak tahulah, intinya gitu. Ini maksudku, filsafat itu adalah cinta kebijaksanaan. Kenapa bisa begitu? Aku pernah mendapatkan quote yang seperti ini: Tuhan tidak akan pernah berhenti memberikan sesuatu pada kita sebelum kita berhasil mengambil pelajaran di dalamnya. Entah itu masalah, ujian, musibah, keuntungan, dan sebagainya. Ya, Dia tak akan berhenti sebelum kita mengambil pelajaran dari apa yang datang pada kita. Jadi, kalau kita mau mikir sedikiiit saja, hikmah bisa berarti kebijaksanaan. Bagi seorang Muslim, hikmah adalah harta benda yang hilang dari kehidupannya, makanya kita perlu cari hikmah -bukan Mbak Hikmah-. Karena itulah, sebenarnya dengan belajar filsafat, kita belajar mengambil hikmah dari apapun yang kita dapatkan; sekalipun itu sesuatu yang sederhana. Karena itu pulalah, kegiatan utama dalam berfilsafat adalah merenung!

Betewe, maksudku… kenapa aku menyematkan cewek di atas dengan muka-muka ceria? Apakah ada keceriaan dalam merenung? Kok kontradiktif sekali. Kata dosenku a.k.a Mr. Moses, dalam filsafat, kita harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi seperti anak-anak; mencoba mengajukan hipotesis; berdebat dengan antitesis; sehingga nantinya akan menghasilkan sintesis yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mengerti? Yasudahlah. Nggak apa-apa kalo nggak ngerti makanan yang berakhiran -sis itu. Exactly what I meant was creating a logical and critical thinking. Well, I said better in English. Mbulet nih lama-lama pake bahasa Indonesia *keep loving Indonesia* =D

Dalam filsafat, segala sesuatu itu dicari dasarnya. Dasar yang paaaliiing dasar! Contoh…

Apa itu kursi?

Kursi itu benda.

Apa itu benda?

Benda itu materi.

Apa itu materi?

Materi itu tersusun dari atom.

Apa itu atom?

Partikel paling kecil.

Apa itu partikel?

Suatu zat yang…. (*krik-krik-krik).

Dan dosenku menjawabnya dengan satu kata simpel: ADA! Duh, gitu panjang banget mikirnya. Lama pula. Jadi intinya, kursi itu yang penting ada, eksis, hadir di dunia ini. Kalo ruangannya kosong dan nggak berisi apa-apa, ya berarti benda itu bukan kursi dong. Iya apa iya? Itu lho, yang kumaksud dengan critical dan logical thinking. Jujur, dosenku yang lain (yang mengajar Pengantar Ilmu Budaya) berkata, “Kalau saja orang Indonesia itu mau berpikir dan memperbaiki filsafatnya, negara ini jauh lebih maju dari Amerika! Kita itu, cuma kalah di filsafatnya saja. Bangsa kita tidak berani punya sistem filsafat sendiri.” Aku manggut-manggut saja, sok paham. Padahal menurutku sejarah sudah banyak berkata dan merekam jejak orang-orang besar hasil didikan Barat yang juga suka berfilsafat. Lalu yang kurang di mana, Pak? #gagalpaham. Mari kita kembali ke filsafat!

Premis 1: Filsafat membentuk setiap manusia menjadi bijak dengan sendirinya.

Premis 2: Filsafat membentuk setiap manusia menjadi sesat karenanya. 

Premis itu bahasa Indonesianya adalah pernyataan (statement). Premis 1, benar. Iyalah, kan di atas sudah kusebutkan; bahwa arti filsafat sendiri cinta kebijaksanaan. Tuh, ada unsur bijaknya. Itu benar. Nah, dalam filsafat, cara ngomongnya begini, “Premis 1 menurut akal otomatis benar, karena isi blog ini mencantumkan pengertian di awal bahwa arti kata filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Apabila premis 1 diuji secara etimologis dan ontologis, premis 1 tetaplah benar, atau mendekati benar.” 

Bagaimana dengan Premis 2? Benar lah. Ada beberapa kasus yang dialami teman-temanku mengenai belajar filsafat. Setelah melakukan riset sana-sini, aku menemukan fakta bahwa karya zaman kuno hingga pertengahan seperti Aristoteles dan Nietzche cenderung menggunakan bahasa puitis. Siapapun tahu, jika penggunaan bahasa puitis itu terlalu sering, akibatnya tahu sendiri orang-orang akan dibiusnya; padahal isinya juga belum tentu benar secara akal. Bahasa puitis itulah yang mengubah beberapa temanku menjadi orang yang bukan dirinya, orang gila, hingga orang atheis (tidak percaya adanya Tuhan). Kata Mr. Moses, orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang tidak mau kembali ke alam nyata. Akhirnya mereka pun menjadi linglung dan bingung dengan dirinya sendiri. Akibatnya, kata-katanya menjadi tidak stabil dan hal itu justru menghancurkan pemikiran dan filsafatnya sendiri. Dalam filsafat, cara ngomongnya begini, “Premis 2 masih perlu diuji lagi keabsahannya. Terlalu banyak antitesis dan konteks yang dipertemukan; maka terlalu lemah untuk mengambilnya sebagai pernyataan yang bisa dipertanggungjawabkan.”

Wah, kita juga sudah menemukan konsep filsafat yang kedua: berpikir logis. Setelahnya baru mengambil simpulan. Tapi, simpulannya bukan seperti si pinguin unyu di atas. Ada beberapa metode ya; ada deduktif (dari khusus-umum) dan induktif (dari umum-khusus). Untuk logika berpikir ini, filsafat sengaja memetakan diri menjadi beberapa kompetesi logika yang dimiliki para filsufnya. Phytagoras misalnya; tentu saja kemudian dia mengidentikkan segala sesuatu dengan angka dan menghitung secara matematika. Thales misalnya; dia sangat meyakini air adalah awal penyebab dari kehidupan. Thales melihat jika air bisa berubah wujud terus-menerus. Akal didewakan dalam rangka penciptaan target-target yang logis untuk menguasai dunia dalam waktu singkat. Itulah buah dari logika berpikir yang sering dinamakan filsafat.

Begitulah filsafat. Tapi, ada suatu quote yang menarik dari Syaikh al-Mawzuun. Filsafat, sebenarnya adalah pencarian atas eksistensi Yang Maha Esa, Allah Subahanahu Wata’ala. Daripada nurutin premis 1 dan 2, bagiku, aku lebih memilih pendapatnya Syaikh al-Mawzuun. Allah adalah alasan yang paling azali dan kekal untuk dijadikan dasar bahwa sebuah barang atau makhluk hidup itu ADA!

Advertisements