Sejak semester ini hingga semester depan, aku fix jadi anak BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Yap. Gitu deh, belajar jadi aktivis. Soalnya, kata banyak orang; termasuk keluargaku; kuliah yang kupu-kupu, lebih ga asyik. Alias, kalo kuliah jangan cuma belajar! Imbangi juga dengan berkegiatan, karena masa muda cuma sekali dan energi yang kita hasilkan juga tumpeh-tumpeh. By the way, jadi aktivis itu seru dan menarik, basically. Tapi, ada beberapa alasan kenapa aku milih aktif di BEM (dan bahkan HIMA).

Curhat aja sih, dulu pas ospek Fakultas, ada beberapa timdis (tim disiplin) dari panitia yang mem-brainstorming aku dan sejumlah maba di sebuah ruangan. Karena rata-rata mereka adalah anak-anak aktivis, mereka pun berorientasi agar maba-maba di depan mereka itu nggak cuma belajar; juga membuat sebuah karya. Nah sayangnya, setelah ospek tabiat asli mereka ketahuan. Ck, ah, paling sebel sama senior yang sok berwibawa pas ospek padahal di dalam kehidupan sehari-harinya nggak bisa ngasih contoh yang baik ke juniornya. Ok ya Mbak-Mas! Tiga setengah tahun ke depan, aku bisa buktiin ke kalian kalau aku bisa dapet IP cumlaude, jadi mahasiswa berprestasi, plus aktif berorganisasi. Tekad itu sekuat baja kutanamkan dan langsung kususun langkah-langkah yang akan kulewati di buku target tahunan.

Honestly, tujuan utamaku memang belajar. Di sini, di jurusan Sastra Inggris, aku sudah memilih ini dengan kesadaranku sendiri. Aku bahkan sempat diskusi alot sama orang tuaku perkara keputusanku yang ngotot pingin ngambil jurusan sastra. Emang buat apa sastra? Mana ada orang yang mau mempekerjakan anak sastra? Weitts, alhamdulillah, setelah setahun di sini, tujuanku menjadi semakin gamblang; bahkan di sini banyak pintu-pintu baru yang terbuka.

Merasa sudah ada di zona (ny)aman, maka bergabunglah aku dengan barisan BEM yang visi dan sistematika kerjanya sama denganku. Untunglah, ketua dan mayoritas anggota BEM-nya setipe denganku; suka belajar, berdebat, dan ilmiah. Di sini, aku bertemu sosok-sosok hebat. Sebagian besar dari mereka adalah mawapres-mawapres yang penuh dengan segudang jadwal dan lomba; tapi masih bisa ber-IPK sangar. Masya Allah. Mereka adalah contoh yang patut ditiru dan aku menduplikasi mereka perlahan-lahan.

Ah, perkara kerjaan. Aku diamanahi sebagai Sekretaris Menteri Kebijakan Publik. Kata salah seorang senior yang sudah lulus; Kelik adalah corong mahasiswa. Kelik itu membuktikan eksistensi BEM serta peran BEM kepada masyarakat intern dan ekstern. Lebih spesifiknya, Kelik bagaikan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (ngurus masalah politik, kebijakan yang tidak merugikan, dan kekuasaan). Whoaa… Seru sih, tapi menantang; karena kementerian ini baru pertama kali didirikan pada tahun ini. Bukan amanah yang mudah; tetapi aku tahu akan selalu ada tangan-tangan yang membantuku mencapai target-target kami bersama.

Di BEM itu, entah kenapa romantismenya semakin terasa. Well, ini bukan romantisme karena ada affair sana-sini. Bukan seperti itu. Tetapi, terasa sekali kalau kita menjadi seperti keluarga. Ah, pak ketua emang cocok jadi kepala keluarga. Ada anaknya yang sakit, bondong-bondong disambangi. Ada anaknya yang kekurangan uang, semuanya pada bantu. Ada anaknya yang nggak jelas dan jealous, dia mencoba mempercayai kami. Kadang-kadang aku mikir, ini pak ketua apa nggak capek ya, dicuekin, dikhianatin, diejekin, ditekan, diobrak-abrik sama anak-anaknya dan pihak-pihak yang nggak bertanggung jawab. Dia, mengajariku dan semuanya satu hal: cinta. Suatu hari kukejar dia dengan pertanyaan kenapa bisa ada cinta? Jawabannya simple, “Aku ngelakoni kabeh iki yo mung kerono Gusti Allah“, dia melakukan ini hanya karena Allah.

Ya, itulah rupanya yang membuatnya menjadi manusia yang tak pernah berhenti karya, sekalipun harus menahkodai sebuah kapal bernama BEM yang ada di samudera ganas. *eh, kok jadi ngomongin pak ketua sih.

Menjadi staf BEM, adalah pembelajaran yang paling menyenangkan bagiku; walaupun ada campuran rasa pahit, asam, manis, sedih, dan masih banyak lagi. Miniatur masyarakat, belajar menjadi pelayan masyarakat yang sesungguhnya.

Advertisements