Banyaaak, banyaaak banget yang pingin kuceritain.

Yak, ini sedang menata diri ke arah sisi positif dari kehidupan kompleks seorang mahasiswi yang mencapai kepala 2. Crowded things are coming! Storm, wave, typhoon, and things like that are actually exist. Yeah, what was my seniors said are true and happening. Alhamdulillah, ternyata aku masih dipegang erat-erat oleh Allah sejauh ini. Entah apa jadinya aku jika badai ini semakin kencang dan aku tak punya tempat berpegang dan berteduh. Innalillahi…

Tapi, ada sebuah hikmah kecil di balik itu semua. Sebuah obrolan siang antar para calon ummahat di Rumah Prestasi Indonesia, di daerah Ngagel. Siang itu, empat orang (2 psikolog, 1 teknisi, dan 1 budayawati) sedang asyik diskusi soal kuliah S2 di luar negeri. Semua pada heboh, baiklah 3 di antaranya, buat pergi ke Turki dalam rangka melanjutkan studi. Kecuali seorang, sang budayawati –iya itu aku–, yang bersikukuh untuk menjelajah Negeri Matahari yang Tak Pernah Tenggelam.

“Ya soalnya, di Turki itu sudah mulai bagus pemerintahnya.”

“Lihat aja, aturan-aturan Islam ditegakkan di sana. Wuuh, Inshaa Allah mantap untuk belajar psikologi Islam!”

“Di sana juga lebih mendukung Dek, suasananya. Misalkan kalau mau belajar sejarah Islam, di Turki lebih cocok atmosfernya, ketimbang di Amerika.”

“Hahaha, entahlah, nggak minat ke US, Mbak. Tujuanku masih berkutat di UK aja. Inshaa Allah di Oxford atau Birmingham. Kalau nggak ada di Oxford ya, pindah ke Birmingham, ngng… bisa aja Cambridge.”

Tapi lama-lama, obrolan ini mempersoalkan pertanyaan mau lulus kapan; ya, karena S2 hanya mungkin dilakukan kalau sudah lulus S1 kan?

“Makanya Mbak, kalau mau cepet lulus, ya bikin jadwal belajar regular gitu lho… Jangan SKS… Kapan pahamnya kalau SKS?” kataku.

“Lhoo, jangan salah, aku justru mulai SKS sejak kuliah, Dek…” kata Mbak Teknisi, tapi sudah mau wisuda.

“Nggak bisa belajar kalau nggak SKS…” kata Mbak Psikolog yang udah semester 7.

“Aku yakin kok, kita akan lulus di waktu yang tepat…” kata Mbak Psikolog yang masih semester 5.

“Eh, eh, kan ini (nunjuk Mbak-Mbak Psikolog), ini, aku pada SKS. Kamu doang yang nggak mau SKS dan pingin lulus cepet. Hahaha. Berarti kamu abnormal, Dek!” kata Mbak Teknisi.

Habislah aku dengan guyonan itu. Tapi, akhirnya juga ikutan ketawa. Oke, aku sukses membuat lelucon yang berbau akademis. Sepertinya topik SKS dan kapan lulus adalah hal-hal yang bisa sangat menghibur di kala tekanan-tekanan tugas. Jujur, aku senang jika diizinkan lulus 3,5 tahun dan langsung S2. Aku lebih senang tak berlama-lama di bangku S1, entah itu mencari waktu yang tepat untuk lulus atau lulus di waktu yang tepat.

Yang aku tahu, di sini aku mencari ilmu; melalui ceramah dosen, kegiatan organisasi, kepanitiaan, pengabdian masyarakat, semuanya. Intinya cuma 1, mencari ilmu, melalui berbagai macam guru yang kutemui di Universitas Kehidupan. Bangku-bangku S1 hanyalah batu lompatan sebagai cara berpikir kritis dan ilmiah, ada dunia yang lebih besar di sana.

Seperti yang dikatakan dosen filsafatku (yang kali ini ada benarnya), bahwa kata-kata membakukan pengalaman, mengurangi makna paling esensial yang bisa diciptakan pengalaman. Ada dunia yang harus ditengok dengan ilmu dan hidayah dariNya; untuk menemukan bahwa Allah telah begitu dengan sempurnanya menciptakan semua hal dengan berpasang-pasangan, membolak-balikkan hati manusia, dan bahkan memberi makan serta kehidupan kepada seluruh makhluk, tanpa pandang bulu.

Advertisements