Hari ini, jujur, jadwalku padat. Ada 3 mata kuliah; 1 selalu kuis tiap minggu, 1 nya lagi ada kuis, 1 nya lagi wajib ngumpulin tugas tiap minggu. Selain itu ada jadwal meeting dengan beberapa teman soal BEM, sponsorship, leaflet, dan proposal (bukan proposal nikah sih). Terakhir, urusan… Aksi Damai. Intinya, demonstrasi menolak UU Pilkada Tak Langsung yang lagi santer di parlemen. Berhubung aku sebagai salah satu anak Kebijakan Publik yang tukang mengkritisi berbagai kebijakan, menteri ku pun rajin menerorku buat ikut. Sayangnya, jam 1 – 5 ada kuliah yang nggak bisa di skip, karena lagi ada kuis. Maaf ya Pak Menteri, saya absen (lagi) kali ini. Maafkan saya… T.T

Aksi damai itulah yang membuatku merenung. Kenapa? Adalah fakta bahwa mahasiswa di FIB (cenderung) apatis dengan dunia-dunia aktivis. Eh, sebentar. Bukankah katanya para aktivis, rata-rata mahasiswa sekarang kupu-kupu (kuliah-pulang) atau kudet-kudet (kuliah-ngedate) atau kumal-kumal (kuliah-ngemall). adalah fakta bahwa mahasiswa di FIB (cenderung) individual. Bukankah katanya para aktivis, mahasiswa masa kini terlalu sibuk sama gadget, sibuk apdet status sana-sini, cek in tiap detik, bahkan ol-shop non stop. Mahasiswa, pada umumnya, kurang bereaksi terhadap gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh rekan-rekan mahasiswa itu sendiri.

Seperti dugaanku, dalam aksi damai kali ini, nggak sampai 15 mahasiswa FIB yang berpartisipasi. Mereka yang sebenernya pingin ikut (termasuk aku dan beberapa anak BEM lain), tertahan kuis di kelas. Sebenarnya, kenapa bisa sampai begitu? Terasa sekali ada gap yang cukup lebar antara anak aktivis dan non-aktivis. Kemudian, anak-anak aktivis (cenderung) mengecap negatif mereka yang nggak terjun di dunia organisasi kampus sebagai anak-anak apatis, pragmatis, cuek, dan nggak berjiwa nasionalisme. Sementara anak-anak non aktivis yang eksis di luar kampus (juga cenderung) melabeli para aktivis ini orang OMDO MAKSI (omong doang minim aksi).

Tadi dalam perjalanan pulang sempat merenung soal ini. Ada satu hal yang menurutku cukup kuat untuk menjadi penyebab timbulnya jurang pemisah antara dua kubu mahasiswa: penyempitan makna nasionalisme.

Kubu aktivis memformalkan nasionalisme, sehingga menjadi bentuk-bentuk demonstrasi, aksi damai, debat, dan protes melalui berbagai media. Mereka vokal menyuarakan hak-hak rakyat, bangga akan gelombang perubahan zaman baru yang mereka bawa. Mereka terpacu semangatnya dengan mars perjuangan, berdampingan dengan kerasnya jalan kehidupan mereka. Mereka menantang dunia, mencoba memberikan solusi baru atas permasalahan dunia. Kubu non aktivis, sementara itu, mematerialkan nasionalisme, sehingga menjadi bentuk-bentuk aksi lingkungan, pecinta alam, pemenang lomba, dan berbagai prestasi yang mereka torehkan. Mereka berusaha menjadi wirausahawan muda yang sukses, profesor-profesor dan tenaga kependidikan yang berkualitas, ahli kesehatan dan teknologi yang membuat ratusan paten.

Lihat!

Betapa banyak perbedaan; bahkan dari aktivitas-aktivitas awal mereka di kampus. Maka, jika perbedaan itu menjadikan mahasiswa punya gap gara-gara label negatif dari masing-masing kelompok; kemudian, di mana esensi nasionalisme sesungguhnya?

Nationalism was a spirit state for it contained the following aspects (1)
cognitive; (2) goal/value oreintation; (3) strategic; (4) affective of a
nation. Nationalism would always rellevant and adatable with era
claim when nationalism guaranteed state identity and integrity
individual as well as group leberty, equality for each person,
personality forming and performance or superiority for the nation
future – Sutarjo Adisusilo, J.R.

Relaks ya. Hahaha. Oke, ini sudah agak mulai berat. Dalam pengertian di atas, nasionalisme mengandung makna semangat kebangsaan yang melingkupi aspek kognitif (pemikiran), orientasi terhadap tujuan bersama, strategi, dan rasa cinta kepada suatu bangsa. Nah, di sini kita bisa tahu bahwa nasionalisme itu sendiri bisa diwujudkan dalam varian rasa. Mulai dari yang suka demo sampai artis sekalipun; bisa mengklaim dirinya bahwa ia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi; selama dia berjuang untuk bangsa Indonesia. Mulai dari yang hidupnya dihabiskan untuk kepentingan rakyat Indonesia sampai mereka yang hidupnya tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah gedongan; bisa mengaku bahwa dirinya nggak boleh diragukan tentang kenasionalismeannya; selama dia berjuang untuk bangsa sendiri.

Jadi inget novelnya Mas Pram (Pramoedya A. Toer) yang judulnya Larasati. Seorang perempuan Jawa tulen yang beruntung bisa menjadi aktris terpopuler di zaman Revolusi (setelah kemerdekaan-1965). Larasati pun dekat dengan beberapa jenderal (pengikut revolusi maupun pengikut Sekutu) dan mengorek informasi yang berguna. Jika dari pihak pengikut revolusi menginginkan suatu informasi tertentu, Larasati tinggal mengorek info saja dari banyak kenalan jenderal NICA (Netherland Indies Civil Administration) atau Jepang. Jika ia ingin pasukan Revolusi diamankan, maka dia akan mengalihkan perhatian para pejabat NICA dan selamatlah para pahlawan revolusi itu. Lebih dari itu, Larasati juga selalu memainkan cerita-cerita pro Revolusi di layar perak dan panggung gerak; menolong ajudan yang sekarat di penjara NICA; menangisi setiap prajurit yang ia temui di perjalanan; bahkan jika situasi sangat genting, maka ia ikut berperang. Melalui tindakan Larasati, apakah artis seperti dia nggak punya rasa nasionalisme? Tentu punya, kan?

Jadi, ke manakah langkahmu wahai para mahasiswa?

Advertisements