Aslinya, ini tadi pingin nulis soal budaya televisi. Tapi kok ya… 2 hari ini aku sudah menulis hal-hal yang berat. Beralihlah tema tulisanku menjadi tentang kucingku.

Aku punya 2 kucing betina yang lucu-lucu dan kupanggil Papoys. Kenapa papoys? Karena jumlahnya lebih dari satu (kan kalo plural jadi papoys), karena mereka betina dan imut-imut dan cantik, karena aku ngefans banget sama minion yang menurutku lucu dan saling memanggil dengan kata papoy, dan fix nama mereka jadi Papoys. Entahlah, aku suka sekali memanggil nama orang/benda beda dengan nama aslinya. Awalnya cuma aku yang memanggil mereka begitu, tapi lama-lama, seluruh keluargaku juga ikut-ikutan manggil Papoys.

Yap, fisik kucingku sama seperti gambar di atas. Warna dominan cokelat dengan garis-garis samar warna putih di punggungnya. Sementara warna bulu dadanya putih bersih. Bulunya halus, hidungnya lancip, kecil, dan mengerucut; mulutnya kecil; dan matanya agak sipit membentuk oval cantik di wajahnya. Ekornya panjang dan selalu melambai ke kanan dan kiri pas jalan atau ngusir nyamuk.

Induknya sudah menghadap Yang Kuasa, sekitar 2 bulan yang lalu. Kini, mereka yatim piatu karena bapaknya lari; tak mau bertanggungjawab atas kehadiran Papoys. Jadilah keluarga kami yang merawatnya. Meski berawal dari kucing jalanan, tapi setelah dilahirkan, mereka nggak kami biarkan jalan-jalan ke luar rumah. Itu bikin terkontaminasi sama kucing jalanan yang bau, kotor, dan sembarangan.

Well, mereka masih kecil; umurnya baru sekitar 8 bulan. Eh, tapi sekarang udah punya temen akrab kucing-kucing pejantan yang badannya bongsor, garang, gagah perkasa. Tau kucingnya sapa. Keliatan dari matanya. Kalo malem, ah, mereka bercanda seakan dunia milik berdua. Suaranya yang satu ngeong-ngeong, satunya lagi nyaut ngeong manja khas betina. Dasar Papoys! Masih kecil udah berani pacaran! Anakmu nanti mau kasih makan apa, Papoys!
Kukira aktivitas mereka bakal berhenti pas siang… Lhah lah lah, mereka juga masih sahut-sahutan; padahal Ayahku sudah mengurung Papoys seharian di rumah. Jadilah kami sekeluarga sibuk menghalangi kedua kucing kasmaran ini. Bahaya. Karena Papoys masih kecil dan belum pantes pacaran. Takutnya, tubuhnya belum kuat untuk bereproduksi. Lucunya, kalo berusaha dipisahkan, si Papoys bakalan galau, kelonjotan di lantai, atau mengeong-ngeong manja nyariin pasangannya.

Kulihat-lihat, ini kucing ternyata sama aja kaya manusia. Mulai dari tingkah lakunya yang galau kalo nggak ketemuan, teriak manja kalo ketemu pasanganya, sampe bertingkah mesra kalo pas ketemu. Hihihi. Lucu ya.

Ngeliatin mereka pacaran, ah… jadi inget seseorang yang pernah singgah di hati. Wetseh… Yaudah deh. Biar aku nggak sama kaya Papoys, kan lebih baik ditahan dan menunggu sampai dihalalkan. Daripada kaya Papoys… Hihihi.

Advertisements