Beberapa hari yang lalu, ayah dari seorang teman dekatku meninggal. Bertebaranlah ucapan “Innalillahi wa inna ilaihi Rajiiun”; tak terkecuali dariku. Selain itu, ada beberapa teman yang ikut sedih, bahkan menangis; berempati pada temanku atas kepergian ayahnya. Aku? Biasa saja.

Kenapa? Karena aku merasa ayahku hilang.

Ayahku hanyalah seorang kurir di sebuah toko komputer di daerah Manyar, Surabaya. Tugasnya, mengantar komputer dan perangkatnya ke alamat para pemesan. Setiap hari, ia berangkat pukul 8 pagi, dengan sedikit omelan gara-gara kelamaan nulis catetan dagangannya, kunci motornya hilang, atau kucing kami yang mengeong-ngeong manja, atau bekal yang belum sepenuhnya tersedia karena Mama sibuk dengan murid-murid lesnya.

Setelah itu ia akan pulang jam 6 sore, membunyikan klakson motornya dan seseorang dari anak-anaknya (entah aku, Wahyu, atau Dila) akan mengambil tasnya dan membukakan pintu garasi yang berwarna hijau. Ketika Ayah sudah duduk di kursi di ruang tamu kami, dengan berbagai alasan, kami bertiga pasti sebisa mungkin menghindar dengan omelannya sepulang kerja.

Sebenarnya, bukan omelan. Tapi wejangan. Wejangan yang disampaikan dengan nada omelan, begitulah. Itulah sebabnya kami selalu nggak suka drama pulang kerja ini. Karena pasti isinya adalah ceramah tentang kami yang disalah-salahkan atau kelakuan kami yang belum bisa beradab. Lanjutannya pasti soal azab dan siksaan. Bahkan, sedikit sekali Ayah cerita tentang surga dan segala kenikmatannya. Aku heran, kenapa yang diingatnya selalu neraka tanpa perimbangan yang ideal dengan kenikmatan surga.

Ini adalah kata-kata khasnya, “Manusia itu ya, harus ditunjukkan yang buruknya, bejatnya dulu. Supaya dia ngerti, kalau itu dia melakukan itu, buruklah dirinya. Lek wes bejatkon mene gak dadi opo-opo!

Nah, terhadap prinsipnya yang begini ini aku paling nggak setuju dan membuat kupingku panas. Ya Allah… aku pingin lari aja dari rumah kalo gini terus tiap hari.

Ayah, adalah sosok yang koleris (tak mau dibantah) dan plegmatis (suka kesepian). Ya, dia adalah seorang yang penyendiri, kaku, saklek, tapi teguh dengan prinsipnya. Bagusnya, Ayah selalu memberikan ceramah pada seluruh anggota rumah; bahkan Uti pun kadang tak luput dari ceramahnya.

Meski begitu, aku kadang merasa nggak punya ayah. Karena Ayah selalu sibuk dengan dunianya sendiri; berdagang, setel musik dangdut keras-keras (tapi kadang kalo insyaf nyetel murottal sih), suka ngoleksi barang elektronik (karena terobsesi, sampe kardusnya numpuk di loteng kamar), cuek, dan sedikit materialistis.

Ayahku nggak pernah tau; apakah aku sedang sedih atau senang, sedang tertekan atau kesulitan, sedang sakit atau sehat-sehatnya, sedang punya utang atau nggak, sedang jatuh cinta atau jatuh dari tangga. Ayah nggak pernah tau hal seremeh itu. Ayah memang berusaha menjagaku -dengan ceramahnya- agar terhindar dari zina dan hal-hal buruk lainnya (termasuk ngotot menentukan jurusanku atau memilihkan baju untukku atau ngomel ketika aku pulang malam dan nggak telepon); tapi nggak pernah lebih dari itu. Hingga aku nggak tau, bentuk cinta seperti apa yang sebenarnya ia berikan padaku. Ketika aku jauh darinya pun, aku nggak pernah kangen padanya. Nggak pernah.

Hingga hari ini.

Aku berangkat jam 9.30, untuk mengajukan proposal ke beberapa perusahaan yang letaknya cukup berjauhan. Perjalanan hari ini, cuaca sangat panas, dan aku nggak bawa minum. Setelah berhenti di salah satu toko roti rekanan sponsorship di daerah Dharmahusada; aku pun membeli beberapa snack dan mampir juga di Indomaret untuk beli air mineral dan susu cokelat.

Setelah itu, aku harus muter lagi ke salah satu LBB yang ada di dekat SMA ku dulu, SMA kompleks. Alhamdulillah, ada kemudahan dan kemajuan di sini. Aku masih belum menyentuh snack-ku dan memutuskan untuk melaju ke daerah Bratang; dekat Manyar, dekat kantor ayahku. Sungguh, aku sudah nggak kuat melanjutkan perjalanan dan istirahat sementara di RAPID (Rumah Prestasi Pelajar Indonesia) di daerah Ngagel. Perjalanan yang cukup jauh itu membuatku dehidrasi dan kepanasan. Ya Allah… capek, ngantuk, kudu ambruk aja bawaannya.

Dua jam aku di sana; membaca buku, makan, dan ketiduran beberapa menit. Setelah kurasa istirahatku cukup; aku memutuskan pulang ke rumah. Mama baru datang dari toko besar langganannya buat kulakan buku; dan aku pun makan siang. Sengaja kuhemat uang hari ini.

Di tengah-tengah itu, tiba-tiba air mataku mengalir. Beginikah, rasanya menjadi seperti Ayah? Mengingat aku tadi muter-muter nyari alamat kantor, panas-panas, penuh debu, belum lagi dehidrasi, macet, dan ya begitulah. Balada jalanan ya…. Jelas, jika Ayah mungkin penat, lelah, dan segala keruwetan bercampur jadi satu dalam pikiran beliau.

Lalu kuingat, beberapa bulan yang lalu, Ayah pernah ditipu orang. Orang itu nggak membayar pesanannya seharga 8 juta. Akibatnya, Ayahlah yang harus mengganti itu semua. Alhamdulillah, Ayah nggak dipecat dari pekerjaannya. Aku sempat meledek beliau, “Ayah kurang sedekah tuh,” sambil ketawa-tawa. Ayah hanya diam saja dan tersenyum mendengar kritikanku. Tapi esoknya, di hari Minggu yang cerah, Ayah mengajakku ke suatu tempat. Beliau nggak bilang dari awal, ke mana kami akan pergi. Pada akhirnya, beliau pergi ke suatu masjid di Jalan Bogowonto; di dekat tempat kerja beliau pertama kali sebagai guru SMP. Ayah bersedekah satu juta rupiah. Aku terdiam seribu bahasa.

Dan kuingat lagi, momen di mana Ayah yang menggebu-gebu di siang bolong ketika pulang untuk istirahat, bilang padaku bahwa, “Kamu harus kuliah 3,5 tahun langsung lanjut S2. Ayah sudah sediakan dana buat kamu sampai kamu berhasil jadi dosen. Berapapun biayanya, sudah, jangan khawatir. Kamu fokus belajar. Bila perlu, kamu nggak usah ngelesi lagi.” Lagi-lagi aku hanya mengangguk takzim.

Atau, waktu Ayah bilang, “Besok-besok, kalo cari suami, yang pinter ya. Yang bisa ngayomi kamu, yang bisa melindungi kamu, bukan yang nginjek-nginjek orang perempuan. Kamu juga gitu, kalo jadi istri yang bener, jangan ngerepotin suami. Ngerti, Nisa?” dan esoknya mesti bilang, “Nisaaaa…. ayo Nduk, sini bantu-bantu Mama masak, kamu kan sebentar lagi mau jadi nganu…”

Dan anehnya, kata-kata “istri” nggak diucapkan Ayah. Aku juga nggak tau kenapa. Mungkinkah, Ayah selalu takut kehilangan putri pertamanya ini? Mungkinkah, Ayah belum siap melepaskan putrinya ini kepada lelaki yang akan menjadi suaminya? Mungkinkah Ayah khawatir? Ah, Ayah memang orang yang nggak bisa ditebak. Beda dengan Mama yang selalu tegas dan ngomel panjang lebar mengungkapkan perasaannya kalau aku nggak boleh a,b,c,d sampai z.

Beda dengan Ayah. Aslinya Ayah nggak tega. Aslinya, Ayah hanya berpura-pura menguatkan diri untuk membiarkan aku menjadi anak yang tegar, padahal Ayah nggak mampu melihat aku bersusah payah.

Begitu kan Yah?

Maafkan aku yang masih juga belum bisa memahami dirimu. Aku sayang Ayah. :’)

Nisa.

Advertisements