Setelah jadwal mengajarku berakhir, biasanya aku membuka diskusi bebas dengan murid-muridku. Ya, mereka boleh curhat tentang masalah apa saja; termasuk soal lopek-lopek, teman-teman mereka, pengajian, bahkan sharing soal pengalaman hidup, ciyeh.

Ulfiyah, salah satu muridku berkata, “Mbak, aku beli kerudung ini lho cuma 15,000…”

Jawabku, “Eh sumpah? Beli di mana, kok murah banget?” sambil mengamati kerudung instannya yang nggak terawang, chest-covered, simpel, ringan, plus modelnya cucok banget buat anak muda. Warnanya cokelat kalem lagi. Aaaww… langsung ngefans aku sama kerudung itu…

“Beli di temenku, Mbak…”

“Nitip po’o…”

“Lho… tapi nunggu temenku pulang ke Jombang.”

“Lha… ya suruhen pulang gih, ke Jombang. Terus aku tak beli lusinan. Buat koleksi sekalian jualan. Hahaha.”

“Tapi, tau nggak Mbak. Aku pakai kerudung ini tuh, gimana ya… Aku ntar disangkain L*II (salah satu Ormas Islam). Soalnya ada temenku yang ortunya ikut itu dan dia pakai kerudung model gini juga, Mbak. Padahal, kan aku N*…” kulihat dia menyincing (duh, Bahasa Indonesia-nya menyingkap) bagian tepi kerudung yang seharusnya menutup kedua bahunya. Dengan cepat, bagian itu kuturunkan lagi dan akhirnya menutup kedua bahunya. Kelihatan sekali Ulfiyah risih.

“Ulfi, gimana kalo aku yang masuk sekolahmu? Kamu kan tahu kalo aku juga pake kerudung panjang, tebel, gak terawang, dan menutup tubuh bagian atas sampai tengah.”

“Nggak enak, Mbak. Bagusan kaya tadi,” tapi tangannya kutahan supaya mempertahankan bentuk kerudungnya yang sekarang.

“Sekarang gini aja, Ulfi. Tujuanmu pake kerudung itu apa? Menutup aurat kan? Auratnya Muslimah dari mana sampai mana?”

“Semuanya; kecuali muka dan telapak tangan.” jawabnya tegas.

“Yaweslah. Udah, kupingmu dibikin tebel aja ya… PD aja. Satu lagi, dengan berkerudung seperti ini, kelihatan banget rapi dan cantiknya. Percaya deh sama aku.”

“Iyo yo, Mbak.” Ulfiyah pun melangkah pulang dengan senyuman.

Advertisements