A: Hai, kamu jurusan apa?
B: Hallo juga! *Kibas rambut* Aku jurusan kedokteran di FK sini… Kamu?
A: Waaah, hebat! Aku jurusan Sastra Inggris.
B: Oooh…. *diem* atau *mengalihkan bahan pembicaraan*

Dulu, waktu masih jadi mahasiswa cupu, pertanyaan begitu itu seringkali muncul. Kadang, ada rasa minder tersendiri karena sudah jadi mahasiswa sastra; jurusan paling nggak favorit di kampus manapun. Stereotip orang-orang selalu begini,

“Mau jadi apa kamu, cuma belajar baca? Emang baca sendiri di rumah nggak bisa?”
“Sastra Inggris? Kenapa nggak les aja di LBB gede macem EF atau IALF?”

Well, perkenalkan. Saya adalah Annisa Rochma Sari, mahasiswa Sastra Inggris semester 3. Ini nih yang saya dapat dari 3 semester saya kuliah di sana:

1. Ilmu Budaya. Kenapa prodi sastra dimasukkan ke dalamย the Faculty of Humanities? Terjemahan secara literalnya adalah fakultas kemanusiaan; tapi secara harfiahnya adalah Fakultas Ilmu Budaya. Sastra adalah cerminan dari budaya yang diwujudkan dengan adanya bahasa. Iye… bahasa. Coba kalau nggak ada bahasa; nggak ada yang namanya iklan, bahkan blog macem gini. Iya nggak?

2. Ilmu tentang Media. Jangan salah… justru, orang-orang bahasa lah yang mengerti tentang konspirasi di balik media. Karena yang jarang kita tahu sebenarnya, di dalam jurusan sastra, ilmu tentang media begitu penting. Sebagai orang sastra, kami dituntut untuk bersikap kritis dengan apa yang ingin disampaikan media. Nanti pasti belajar soal semiotik,ย myth, simbol, tanda, kode, dan sebagainya. FYI, media itu luas ya. Bisa film, novel, iklan, majalah, koran, dsb dsb. Jadi, jangan heran kalau masuk sini, tugasmu adalah nonton film, baca novel, mantengin sinetron, ngomentarin iklan, dan semua yang berhubungan dengan media. Seru lho, sumpah! Mana ada kuliah yang nugasin mahasiswanya buat nonton film?! ๐Ÿ™‚

3. Ilmu tentang Linguistik. Ini berguna untuk mendeteksi pilihan kata yang digunakan oleh orang lain. Kenapa dia bilang gini, kenapa dia nggak bilang kaya gitu. Dibekali ilmu psikologi, dan yang pasti kita bakal lebih mudah untuk menghafal berbagai bahasa-bahasa di dunia. Ternyata, sistem linguistik pun sudah diatur oleh pusatnya yang bernama IPA (International Phonetics Association). Kalau kita hafal simbol-simbol IPA, baca bahasa apapun nggak akan sulit. Keknya, (almh) Gayatri yang menguasai 14 bahasa itu sudah lebih dulu belajar soal simbol IPA ini deh. Hm…

4. Labnya adalah nongkrong. Kalau prodi sains, labnya yaaa… begitulah. Di ruang tertutup, dingin, penuh cairan-cairan kimia, dan mesin-mesin. Nggak nyalahin sih bagi yang suka. Kalau emang itu passion kamu,ย nggih monggo sekecak’aken. Tapi, kalau di FIB, khususnya prodi Sastra, kamu bisa nongkrong sepuas-puasnya supaya bisa dapet ilmu. Lah, nongkrong kan sesi hiburan, gimana bisa dapet ilmunya? Ya, nongkronglah yang bermanfaat. Contoh: kemarin aku habis nonton film The Mockingjay part 1 sama 3 temenku. Ditraktir pula. Di sana, kita emang enjoy nonton filmnya; tapi kita juga diskusi soal film itu. Apa sih sebenernya yang pingin disampein film itu, gimana cara sutradara dan produsernya menyampaikannya? Seringkali, kami juga nongkrong lihat pameran lukisan atau pertunjukan-pertunjukan drama yang diadain fakultas atau prodi Sastra yang lain. Bedanya dengan masyarakat awam, hasil dari nongkrong itu kemudian dikritisi dan diseriusi. Lantas ditulis dimasukin blog atau dijadikan bahan tugas kuliah. Asyik kan?

5. Easy to Go International. Prodi Sastra Inggris paling banyak dan sering nerima pertukaran mahasiswa. Yaiyalah…, namanya juga prodi bahasa internasional *bangga*. Seenggaknya, kalau kamu belum bisa bahasa Inggris, padahal udah belajar sejak orok sampai lulus SMA, pertukaran mahasiswa ini bisa jadi solusi yang sangat efektif; meskipun cuma 1 bulan. Bahasa itu bisa karena kebiasaan. Sekarang sudah jelas bahwa, ternyata, orang Indonesia nggak lancar-lancar bahasa Inggrisnya itu ya karena nggak dipraktekkin tiap hari. Lagi, walaupun kamu dilarang pergi ke luar negeri (karena alasan finansial, terutama), kamu masih tetep bisa sering kontak dengan para mahasiswa asing yang datang ke kampus. Sebentar, aku tanya, tujuan ke luar negeri apaan sih? Cuma pingin temenan sama orang-orang bule, memperkaya pengalaman, dan jalan-jalan aja kan? Yaudah, dengan datangnya para bule itu ke Indonesia, manfaatkan momen itu. Nggak nguras kantong kok. ๐Ÿ™‚

6. Belajar jadi guru bahasa Inggris yang nggak sesat. Tahu nggak, selama ini ternyata sebagian besar guru bahasa Inggris kadang nggak bener ngajarin siswa-siswanya. Atau ini mungkin dampak dari kurikulum pendidikan kita yang agak eror; jadi gurunya juga agak nggak nafsu ngajarin. Yang penting, dateng, ngajar, ngabsen, ulangan, udah selese. Tapi, di sini kamu bakal belajar tentang idealismenya mahasiswa untuk tidak mengajarkan hal-hal yang salah; sekecil apapun itu di dalam elemen-elemen bahasa Inggris (Grammar, Listening, Reading, Writing, dan Speaking).

7. Skill Translation. Ini nih, kalau yang nanya terus soal “Kamu mau jadi apa?” Keterampilan teknis para mahasiswa Sastra Inggris adalah menerjemahkan tulisan. Iya, dan kamu tahu, bayaran tiap kali nerjemahin ini bahkan lebih tinggi dari gaji guru; bisa freelance lagi. *sigh*. Sekarang, aku pun membuka jasa terjemahan untuk teks biasa atau makalah. Harga per halamannya maish Rp 25.000, 00 dan kata rekan-rekanku sesama penerjemah; itu terlalu murah. Tau, dia mematok Rp 400-Rp 500 per kata! per KATA! Bayangkan, sekali menerjemahkan yang cuma 2 hari-1 minggu, bisa dapat Rp 300.000-Rp 500.000. Atau bisa jadi interpreter. Kalau dapat klien pengusaha asing, nggak usah ditanya bayarannya. Pasti sering ke hotel-hotel bintang lima, nemenin klien, plus dapat sangu minimal sejuta. Asal, tetap jaga diri saja. Hmm… mau berapa proyek per bulan? Kalkulator, mana kalkulator.

8. Berkenalan dengan Anomali. Pernah tau LGBTQ (Lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer)? Iya, meskipun aku nggak setuju sama keberadaan mereka; tetapi aku juga sadar bahwa mereka ternyata ada dan eksis. Di sini, aku belajar untuk menghargai mereka dengan apapun pilihan mereka; tanpa menghakimi.

Mahasiswa sastra, bisa!

Advertisements