Sabtu – Minggu ini, aku dikasih kesempatan buat hidup mandiri bareng satu-satunya adek cowokku (Baca: Ortu dan Uti lagi liburan). Daripada nganggur, hari ini ada kesempatan buat jalan-jalan ke toko buku langganan; Togamas Pucang. Niatnya mau cari buku pelajaran titipan muridku; tapi ternyata belum beredar. So, I was planning to buy one of thousands book here, for me. =)

Ya, pada dasarnya sih, mata cewek di mana-mana sama; kalo liat barang yang disuka, kemungkinan terbesarnya adalah dia bakalan beli tanpa ada alasan yang jelas. Padahal, nggak butuh-butuh juga. Bedanya, kebanyakan cewek mungkin bakal tergila-gila sama produk clothing (sebangsa Zara, Armani) ato make up ato aksesoris yang lagi diskonan. Kalo aku, buku. Ya, buku. Menurutku, buku lebih awet daripada produk clothing dan makanan. Okelah, cukup di sini ke mana-mananya #kebiasaan di luar topik.

Voila! Setelah muter-muter seluruh belantika toko Togamas; ada sebuah buku yang sangat menarik perhatianku. Buku itu cuma satu; dan harganya masih muat di kantong. Buku klasik sih, terbit perdananya aja taun 1848. Yup, zaman penjajahan Belanda. Buku ini dan pengarangnya selalu disebut di setiap pelajaran Sejarah dari SD hingga SMA; bahkan mungkin kuliah umum. Pengarangnya melegenda, mengisahkan tentang aksinya menentang kawan-kawan seperjuangannya sendiri di Negeri Belanda. Bahkan, “Buku ini yang membunuh kolonialisme” begitu kata Pram.

Max Havelaar. Multatuli.

Dari kelas 3 SD hingga 3 SMA; aku begitu hapal menjawab pertanyaan dari guru-guruku tentang judul buku ini; tapi nggak pernah tau ada apa di dalamnya.

Guruku, “Buku apa yang dikarang Multatuli?”
Aku, “Max Havelaar.”

Begitulah, ketika aku masih SD. Hanya ditanya tentang nama pengarang dan judul bukunya. Cukup.

Guruku, “Mengapa Belanda seperti kebakaran jenggot dengan buku ini?”
Aku, “Karena Multatuli mengkritik pemerintah Belanda yang menjajah di Indonesia dengan sangat kejam.”

Sotoy ya? Hahaha. Tau dari mana kalo isi buku itu mengkritik Belanda oleh warga Belanda sendiri? Iya, gara-gara aku baca buku Sejarah. Kan di semua buku hampir selalu disebutkan seperti itu. Tapi bahkan, aku belum tahu jenis buku itu. Esaikah? Laporankah? Biografikah? Novel? Roman?

2014-12-13 20.44.16

Sekarang, Max Havelaar sudah ada di tanganku. Aku akan membacanya sampai habis. Tidak, pasti lebih dari sekedar membaca. Aku ingin menganalisisnya dari sudut pandang cultural studies and literary criticism. Hingga ketika aku mampu bercerita, apa yang terjadi dengan si Douwes Dekker hingga ia menulis buku setajam ini.

Sedikit berkhayal sih, sempat terlintas begini…

Nanti, kalo anak-anakku sudah menerima pelajaran Sejarah tentang penjajahan Belanda; dan mereka tanya, “Bunda, buku Max Havelaar itu isinya apa?”

Akan kusodorkan bukunya sembari cerita, “Buku inilah salah satu penyebab mengapa Indonesia bisa melangkah sejauh ini, Nak.”

Advertisements