Ada beberapa asumsi merdeka di dunia ini:

1. Merdeka, kata sebagian besar orang; berarti kamu tidak terikat organisasi apapun dan kepentingan apapun. Ya, mereka seringkali dikategorikan orang yang “merdeka”.

2. Pengertian merdeka adalah mereka yang bebas menentukan jalan hidup mereka sendiri, tanpa ada hasutan dari kelompok ini dan itu.

3. Pengertian merdeka adalah mereka yang tidak diatur-atur agama.

Tapi, mengapa mereka menamakan diri mereka “merdeka” jika terikat dengan sebuah kata “merdeka” itu sendiri?

Sebutlah Soe Hok Gie. Seorang mahasiswa aktivis legendaris atas segala prinsip-prinsipnya yang berujung pada kata “kemerdekaan diri”. Hingga akhir hayatnya, Soe Hok Gie memang tidak membela organisasi apapun (kecuali menjadi dosen di kampusnya) dan meninggal dalam pendakian Semeru. Kiprahnya di dunia aktivis mahasiswa masih dikenang hingga kini karena berhasil membangun “mental pejuang” pada mahasiswa. Aku tidak menyangsikan perjuangannya yang begitu berat, berliku, tapi sangat menggetarkan jiwa para mahasiswa itu. Tidak. Tetapi, kadang-kadang, pendapatnya tentang kemerdekaan patut dipertimbangkan.

Atau tentang para atheis materialis. Sebagai orang yang beragama, mungkin ini sangat subjektif. Mereka, memandang bahwa beragama adalah bentuk ketidakmerdekaan diri dari Tuhan yang menurut mereka bahkan tidak ada (karena tidak terlihat wujudnya). Tapi, tahukah para atheis bahwa mereka terjebak oleh peraturan-peraturan yang mereka buat sendiri? Sama, terikat dengan sebuah kata “merdeka” itu pun sebenarnya sudah tidak merdeka.

Dua contoh di atas, memang hanya sekedar contoh yang tidak bisa digeneralisasikan. Konsep merdeka ini, sangat relatif, mengingat sudut pandang kemerdekaan ini bisa sangat berbeda pada setiap orang. Tapi kalau menurutku -yang notabene umat Muslim- merdeka adalah ketundukan sesungguhnya hanya pada Allah. Dua kalimat syahadat itu sudah cukup untuk membuktikan kemerdekaan diri sendiri yang hanya terikat pada Allah. Merdeka itu tidak takut dengan ancaman apapun selain ancaman Allah. Tapi, percayalah, syahadat model begini justru yang membuat perjuangan akan semakin seru, keras, tapi inshaaAllah berpahala dan bernikmat syurga.

Berusaha memerdekan diri dengan syahadat itu sudah cukup.

Surabaya,
Di tengah sore yang sendu.

Advertisements