Pagi ini, aku iseng bereksperimen dengan beberapa aksesoris di kamar. Yap, aku dapat dua bolpoin dengan hiasan bunga warna baby pink dan baby green plus tempat pensil dari karet (oleh-oleh dari Sampit, Lebaran lalu). Bentuk tempat pensilnya cukup unik; perahu dengan dua orang suku Dayak yang berpose seperti mendayung.

Kuatur sedemikian rupa kedua bolpoin itu agar bisa masuk dengan rapi di tempat pensil. Lalu, kutempatkan objek itu di atas alas putih berupa banner. Kemudian kufoto dengan kamera Samsung Fit (android model jadul).

Mencoba profesional, aku mencoba memilih angle terbaik untuk mendapatkan efek betapa cantiknya bunga artifisial di atas perahu itu.

2015-01-05 07.39.18

Itulah objek yang kufoto. Maafkan karena tidak bisa dirotasi. 🙂

Aku sempat mengambil dari berbagai sisi; atas, bawah, dan tengah samping. Awalnya, pengambilan angle itu memang tujuannya untuk mendapatkan gambar terbaik. Tapi, lama-lama, akibat kepikiran teorinya Ferdinand deSaussure dan Roland Barthes soal semiotik, angle pengambilan gambar pun pasti menyembunyikan maksud tertentu.

Lensa, sama dengan mata kita. Diafragma, adalah bentuk metaforis dari hati kita. Dan kerjasama dari keduanya berintegrasi membentuk kamera yang menghasilkan sebuah gambar; sebuah sudut pandang. Objek yang dilihat adalah peristiwa hidup sehari-hari. Manusiawi, jika kita ingin mendapatkan gambar terbaik, peristiwa terbaik dalam hidup kita; tapi sayangnya kita harus mencoba beberapa kali sampai kita menemukan momen itu.

Dari sini, aku akhirnya belajar soal sudut pandang. Kadang, sudut pandang kita berbeda dengan orang lain. Tergantung dari mana kita memandang, dan begitulah cara kita menghadapi.

Dalam foto di atas, ada dua foto yang menurutku sangat menginspirasi. Pertama, foto yang kuambil dari bawah, yang memperlihatkan secara penuh kedua pendayung itu membawa bunga. Perahunya tampak gelap, berat, dan seram. Bayangan dari kedua bunga terlalu besar hingga menutupi sensasi kedua pendayung. Wajah mereka tergurat kelelahan yang sangat.

Foto kedua adalah foto di atas. Yang berfokus pada keindahan bunganya, kecerahan saturasinya tertangkap. Bayangan kedua pendayung mempertegas kerja mereka, tapi tak sampai tertutupi bayangan bunganya. Meskipun perahunya tampak gelap; tapi pemandangan dari samping atas menimbulkan efek semangat.

Jika saja aku sedang meriset soal mise-en-scene film, angle adalah hal yang paling penting untuk menentukan myth (makna) yang ada di baliknya. Dari suatu gambar, pasti ada makna yang ingin disampaikan pembuatnya. Angle menentukan posisi pembuatnya dalam menghadirkan maksud kepada penontonnya.

Di foto itu, aku belajar bahwa manusia seringkali lupa bahwa mereka punya sudut pandang. Ketika menghadapi suatu masalah, manusia sering lupa, bahwa ada Allah di atas sana yang memandang sangat luas dan jauh; dan bahkan tahu potongan gambar yang belum kita ketahui; yang bisa saja sangat indah. Kita terlalu sering memandang dari arah kita, arah bawah; dan akhirnya menimbulkan banyak keputusasaan dan ketakutan. Sedihnya, kita pun melakukan hal-hal yang menyimpang; tidak yakin atas kuasaNya.

Karena itulah, kita diberikan mata; bukan hanya untuk memandang, tapi juga mencari sudut pandang yang tepat. Agar kita tahu bahwa selalu ada harapan dengan hadirnya kesulitan. Inna ma’al ‘usri yusra. Ada kemudahan dibalik kesulitan. Bahkan, hingga Allah mengulangnya dua kali.

Itu adalah bentuk kasih sayangNya; agar kita memilih sudut pandang yang benar. Agar kita selalu bisa bergantung padaNya; dengan sudut pandang yang jauh lebih baik, cerah, dan indah.

Advertisements