Semua ini diawali dari Konspirasi Taberu.

Nyangkruk  yang akhirnya membawa beragam mimpi dan cerita kehidupan empat alumni Smala untuk diwujudkan menjadi nyata. Maka anggota Konspirasi Taberu adalah aku, Tiwi, Bas, dan Mas Ari.

Suatu malam,  aku,  Bas,  dan Mas Ari lagi duduk-duduk di East Coast. Kami ngobrol ngalor ngidul sambil nunggu film Paddington main. Mas Ari tiba-tiba bilang padaku,  “Nis kayanya kamu harus memperluas pergaulan deh.  Kamu beneran nggak punya temen cowok yang akrab?”

Aku mengangguk saja.

Lalu dia bilang lagi, “Nis nggak semua pekerjaan bisa dikerjakan sama cewek lho.  Kamu pasti butuh bantuan cowok untuk hal-hal tertentu.”

“Tapi gini ya Mas.  Aku tau itu. Well, kalo aku berteman dengan cowok terlalu akrab,  aku takut ada perasaan sama dia.  Haha.  Yaa takut ge er atau apalah gitu.  Semacamnya. Ngerti kan?  Makanya aku sampai sekarang ga punya temen cowok yang seperti itu. ” kilah ku. Aku jadi merasa aneh setelah bilang begini.  Maklum, aku sudah kadung punya mindset kalo berteman dekat dengan cowok yang bukan mahram akan membahayakan dan itu yang akhirnya membuatku mikir kalo ada cowok yg nanya lebih jauh berarti dia nyimpen sesuatu untukku. Oh my…  That’s really weird.

“Hahaha.  Gak semua cowok yang berteman sama kamu ada perasaan. Belum tentu. Oh kalo gitu ya kamu jangan takut.  Itu harus dihadapi. Kamu harus bisa memposisikan diri sendiri dulu berarti.  Benerin sudut pandang. Kaya sekarang ini.”

Sepertinya memang harus ada yang dibenahi dalam pikiranku. Sepertinya aku terlalu lama berada di dalam dunia akhwat – meski aku tak menyangkal kalau itulah zona teraman dan ternyaman. Dan ketika saatnya membuka pergaulan, aku jadi sedikit kagok. Sungguh aneh.

Saat itu juga aku sadar bahwa selama ini aku diajari untuk jadi Feminis. Bahwa perempuan yang belum bersuami haruslah mandiri dan tak tergantung pada orang lain,  terutama para cowok yang bukan mahram. Dampak positif nya aku memang terbiasa sendiri dan berdiri di kaki sendiri,  tapi negatifnya aku jadi kurang bisa bergaul dengan lawan jenis tanpa rasa ge er dan curiga. Hmm…

Well ini sangat subjektif. Apa yang terjadi padaku belum tentu terjadi di orang lain. Tapi mungkin sudah saatnya aku lebih membuka diri sekaligus menjaga diri.

Obrolan malam itu sungguh membuatku geli. Tapi yaa…  Nice beginning to start open up my world. Thanks friends.

Advertisements