Matematika manusia, berbeda dengan matematika Allah.

Entah siapa yang bilang kata-kata itu; tapi sungguh, jika selama ini kita menghitung-hitung memang beda. Bayangkan, bagaimana seorang suami yang hanya bekerja sebagai kurir sebuah perusahaan komputer dengan gaji sejuta lebih sedikit; bisa menghidupi keluarganya yang terdiri atas seorang istri dan tiga anaknya. Putrinya yang tertua, sedang menempuh kuliah semester 3 di Unair, putranya yang kedua masih kelas 1 SMK, dan putri terakhirnya masih sekolah kelas 1 SD. Coba hitung secara nalar. Mana mungkin sang suami bisa menghidupi mereka, membelikan mereka berbagai teknologi, dan membayar uang bulanan pendidikan; plus lain-lainnya. Menurut akal manusia, jawabannya pasti impossible. Mana mungkin gaji sejuta lebih sedikit itu bisa meng-cover seluruh kebutuhan hidup.

Tetapi, keluarga yang kuceritakan adalah keluargaku. Allah, Tuhan Maha Pemilik Rezeki, ada di atas sana dan Dia melihat kami juga usaha-usaha kami. Maka dengan sifat Penyayang dan PemurahNya, Allah membukakan pintu-pintu rezeki lain yang bisa menyelamatkan hidup kami. Tunggu, meskipun begitu bukan berarti kami bisa hidup seenaknya sendiri tanpa menyisihkan rezeki untuk saat-saat kritis. Lagi-lagi, kami pun diberi rezeki berupa akal yang akan menjadi alat penuntun dariNya untuk bertahan hidup. Alhamdulillah.

Begitu pula dengan melakukan kebaikan; memang benar kata Allah, sedikit dan sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah benar-benar akan membalasnya. Dalam bentuk apa atau bagaimana, biar itu jadi urusan Allah. Pun dengan kejahatan, sebersit perbuatan jahat, pasti akan mendapatkan balasannya juga. Adil, kan?

Ahmad Fuadi dalam bukunya, Rantau 1 Muara, juga berkali-kali meyakinkan aku soal matematika Allah ini. Ia ngeyel sekali menulis dan menegaskan jika Allah itu Maha Melihat usaha hamba-hambaNya; yang mana yang lebih dan yang mana yang rata-rata atau kurang. Dan semua itu, tidak akan pernah ditemukan hikmah sebelum kita tahu keseluruhan puzzlenya.

Well, jadi aku baru usul di forum Konspirasi Taberu soal CFD #3. Karena akan musim Unas, aku pun usul untuk mengadakan tutorial dan membagi-bagikan alat tulis (plus buku latihan) kepada anak-anak SMP. Tapi, Tiwi langsung menolaknya dengan alasan tidak efisien, efektif, dan segala hal soal tetek bengek jadi tutor. Akhirnya, debatlah kami berdua di forum perihal plus minus CFD #3. Banyak pro dariku dan kontra dari Tiwi. Bas mencoba menengahi dengan jalan memberikan solusi soal tempat dan pengajuan volunteer. Mas Ari sementara absen karena ada Temu Generasi GenJi.

Antara mempertahankan ide sekaligus mengalah pada teman; adalah hal yang sulit. Aku memikirkan bahwa ide ini baik untuk semakin men-down to earth-kan MuslimWAY di semua kalangan; tapi aku juga paham bagaimana latar belakang Tiwi yang kental dengan teori-teori ekonomi barat. Ada perasaan yang tak nyaman berdebat seperti itu (padahal aku baru saja membuat note tentang romansa kami). Rasanya awkward. Tapi setelah berpikir lebih jauh; ada baiknya saling adu argumen begini. Aku pun bisa lebih tegas dan merasionalisasi alasan-alasanku yang selama ini masih sering berdasar perasaan, Tiwi juga terbukti lebih menghargai orang lain (maap ye Wik :D). Meskipun akhirnya Tiwi menolak ikut bagian rencanaku; setidaknya kami masih saling menghormati keputusan akhir yang ditentukan Bas.

Bas pun membuat keputusan untuk sama-sama mengambil sebagian rencana dari kami dan menggabungkannya jadi satu. Lalu ia segera mengalihkan pembicaraan. Yeah, resiko bersatu dengan para perempuan yang cukup sering melibatkan perasaan. Hahaha, aneh, tapi lucu. Gontok-gontokan, tapi setelah itu guyonan.

Nah, kenapa aku langsung menuliskannya? Aku hanya tidak setuju dengan Tiwi bahwa rencanaku untuk memberi tutorial tidak efektif, efisien, dan feasible. Menurut perhitungannya, rencanaku akan membuang tenaga dan uang tanpa hasil signifikan karena hanya dilakukan dalam 3 kali pertemuan; sementara belajar yang efektif perlu waktu tahunan. Aku ingin membantah itu dengan argumenku tentang matematika Allah; bahwa sekecil apapun kebaikan, pasti ada manfaatnya. Seujung biji sawi pun manfaat kita untuk orang lain, Allah akan merupakan kebermanfaatan itu melalui cara-cara yang tidak kita duga.

Memang, itulah yang kusampaikan di grup. Kemudian Bas langsung mengoceh lagi soal pilihan balon atau lemper di CFD #2 kita. Entah, perasaan apa yang sedang kami rasakan; tapi aku percaya, cerita malam ini akan membawa dampak positif di masa depan. Sekali lagi, biar Allah yang menentukan.

Advertisements