Setelah insiden yang agak pelik terjadi semalam antara Mas Ari dan Mbak S; forum Taberu jadi tak biasa; sepi. Tinggal Bas, Tiwi, dan aku. Kebetulan hari ini UAS baru kelar dan hanya satu yang kami pikirkan: liburan dan nganggur refreshing diri. Ya, tapi MuslimWAY tetep jalan lah ya. Setelah menghilang seharian dan masuk guanya; Mas Ari akhirnya muncul jam 4 dan usul ketemuan di Taberu. Topiknya pasti satu: bicara masalah hati. Maklum, karena dia sudah waktunya untuk mencari sebuah hubungan yang serius. Kami bertiga yang masih 2013 hanya patuh saja dengan topik ini. Hitung-hitung sebagai bekal kami juga nanti. Hehe.

Aku datang paling akhir, hampir jam 7. Pesanan paket crab soup nya Bas dan Tiwi baru datang juga. Ibu yang meladeni kami di Taberu tersenyum melihatku. Bergabunglah aku dengan mereka. Diskusi kecil dari hati-ke-hati ini dimulai dari satu pernyataan:

“Apakah Mas Ari mau melanjutkan atau tidak?”

Jujur saja, aku sudah kurang setuju dengan model pacaran untuk menuju pernikahan. Salah satunya karena ya akan terjadi insiden seperti ini. Pacaran adalah bentuk spekulasi tentang siapa jodoh kita. Apakah si A, B, atau C, atau bahkan Z. Daripada pacaran, yang melibatkan proses standar berupa: PDKT-nembak-jadian-jalanin-konflik-komitmen-lamaran-nikah; bukankah lebih baik dengan saling mengirim proposal yang detail soal visi dan misi hidup sambil terus menjaga diri dan hati, memperbaiki kualitas diri? Berinteraksi memang akan lebih membuka siapa sebenarnya target pasangan kita; tapi tak menjamin perilakunya akan sama setelah menikah. 

Baiklah, jadi curcol :D.

Masalah hati hari ini, membuat kami bertiga agak sedikit galau; berbagai kemungkinan juga akan datang di masa-masa yang akan datang. Berbagai tipe orang akan kami hadapi dan kami menerka-nerka tentang siapa pasangan hidup kami. 

Dan di saat-saat seperti ini, keluarlah celetukan-celetukan ouch, so sweet bingit seperti

“Seneng lho bisa pulang ke rumah.”
“Lebih seneng lagi kalo pulangnya bareng kamu.”

atau

“Aku harus banyak baca buku-buku tertentu nih,”
“Aku hanya perlu baca hati aja deh,”
“He, baca hati itu gak akan pernah bisa selesai.”

Dan masih banyak celetukan lain yang tak bisa diceritakan di sini karena keterbatasan privasi. Hahaha, lucu juga. Kebetulan, waktu itu sudah mendekat jam 9 dan saatnya kami berpisah.

Tapi, ah, di perjalanan pulang aku sempat berpikir soal ini. Kok, sepertinya kami belum yakin ya dengan jodoh yang akan diberi Allah? Kok, sepertinya kami belum yakin ya dengan janji Allah soal wanita-wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik, begitu juga sebaliknya

Well, jodoh memang di tangan Tuhan. Kalau tak dijemput juga tak baik; tapi bagaimana cara menjemputnya itulah yang harus dijaga prosesnya. Jangan terlalu lama, dan lebih baik disegerakan. Masalah hati memang selalu pelik; tapi akan lebih mudah, ketika hati memang ditundukkan hanya pada Allah. 

Hati tak akan mengalami masalah yang pelik; manakala Allah yang menuntunnya. Hmm… jadi ingat cerita pernikahan Ali dan Fatimah. Betapa mereka berdua benar-benar menjaga perasaannya satu sama lain; bahkan setan pun tak tahu. Aku masih ingat apa yang diucapkan Ali ketika Abu Bakar datang meminang Fatimah melalui Rasulullah,

“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Prinsipnya, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Atau saat Fatimah dikhitbah Umar, beginilah kata Ali, “Umar jauh lebih layak,” ia ridha.

Tapi, Rasulullah menolak mereka berdua. Hingga Ali pun memberanikan diri untuk meminang Fatimah. Apa kata Rasulullah?

“Ahlan wa sahlan,” begitulah Rasulullah menyambutnya. Jawaban yang mengherankan menurut Ali. Tapi, ya, itu nyata. 

Lihatlah, hati memang lebih mudah ditundukkan jika sudah mantap hanya kepada Allah; bukan berharap pada selainNya. Begitulah, cinta yang baik tak pernah menimbulkan penantian kecuali jika telah resmi diikat.

Oke, kembali ke topik masalah hati hari ini. Sungguh, sayang jika kita tak bertanya atas jawaban-jawaban pelik kepada Pemilik Hati. Karena hanya Dia yang punya jawabannya; bukan kita. Kita hanya bertugas melaksanakan saja; biarkan Allah yang mengatur. 

Kenapa harus ragu jika Allah sudah menyiapkan jawabannya? Kita hanya perlu meminta agar ditunjukkan mana yang terbaik. Hanya perlu meminta, sesederhana itu. Tak perlu dibuat pelik.

 

Advertisements