Hidayah itu bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan bagaimanapun caranya. Pengertian ‘hidayah’ yang aku ungkapkan di sini adalah kemauan untuk hijrah dari pribadi dengan kecenderungan negatif (berdasarkan nilai-nilai Islam yang universal) menuju pribadi yang lebih positif. Pendefinisian awal hidayah ini penting sebelum terjadi penilaian-penilaian yang menyimpang dan untuk menghindari salah paham. 🙂

Selasa minggu ini, rapat editor Jurnal Mozaik bersama salah satu dosen dan beberapa mahasiswa diakhiri tepat pukul 12.00. Karena di luar sedang hujan, aku menunda kepergianku ke Rapid dan menemani Mbak Tian, salah satu mahasiswi S2 Cultural Studies di fakultasku, cerita-cerita. Awalnya tentang girls talk; lalu Mbak Tian tanya, “Dek, kamu pakai kerudung sejak kapan?”

“Sejak SD kelas 6, Mbak…”

“Wah! (wajahnya sumringah). Kalo aku, baru sejak kuliah S1 semester 2…” yang dilanjutkan Mbak Tian dengan wajah menerawang. Mengalirlah cerita lucu waktu dia mulai ikut SKI (Sie Kerohanian Islam) di SMA-nya. Keisengannya dan teman-teman se-gengnya untuk ikutan SKI karena ingin mendapatkan uang jajan gratis selama sebulan; membuatnya bertahan duduk di pertemuan rutin di masjid, membaca Qur’an, dan mendengarkan tausiyah kakak seniornya. 

Perasaan awkward dan aneh karena nggak bawa Qur’an dan ngaji yang terpatah-patah diiringi decakan kagum karena kakak seniornya begitu tulus menyampaikan materi pengajian; membuat Mbak Tian dan gengnya merasa, “Wah, iya ya. Ternyata, kita selama ini sesat banget nggak tau beginian. Ternyata kita butuh ya…” 

MashaAllah, betapa niat tulus dan ikhlas itu memang benar-benar menggerakkan hati orang lain…

Peristiwa inilah yang menuntun Mbak Tian untuk bergabung menjadi staf SKI di kampus; serta mendorongnya untuk mantap berjilbab meskipun masih mengenakan celana-celana lebar. “Ya Allah… sampai para senior itu bilang, kamu tak belikan rok ya Dek Tian… (dia tertawa) Tapi, tahu nggak Dek, aku masih belum dipanggil Ukhti gara-gara itu. Lak yo sakit. Masa yang lain sudah dipanggil Ukh A, Ukh B, aku masih saja dipanggil Tian, Tian…”

Aku ngakak dengan sukses. Ekspresi Mbak Tian yang polos itu benar-benar membuatku terkesan. Lantas, dia cerita tentang jilbabnya. 

“Aku memang dari keluarga Muslim, Dek. Tapi, keluargaku mayoritas hamba hukum, kebanyakan mereka kan orang pemerintahan. Mereka sempat menentang keputusanku buat berjilbab. Aku jadi dikucilkan…”

Baru kali ini aku mendengar alasan orang tua yang melarang anaknya berjilbab karena jadi hamba hukum negara. 

“Aku juga nggak dianggep dan oh ya, disembunyikan.”

Disembunyikan adalah istilah Mbak Tian untuk menggambarkan konteks bahwa dia jarang diajak keluar dan jalan-jalan sejak dia memutuskan berjilbab. Padahal, dulu dia adalah jagonya keluarga; kalau ada apa-apa, pasti dia yang diandalkan; tapi keputusannya berjilbab ditentang sekeras itu untuk ukuran keluarga Muslim. 

“Karena itu Dek, aku harus memperjuangkan agamaku, memperjuangkan jilbabku. Waktu Natalan, aku juga kan dapat SMS yang jangan dateng ke acara Natalan itu. Tapi… di keluargaku ya nggak bisa. Kalo ada saudaraku yang merayakan Natalan ya aku dateng dengan jilbabku. Di situ niatku adalah memperjuangkan agamaku. Aku ingin menunjukkan, ini lho sosok Muslim yang toleran, yang jauh dari anggapan negatif mereka.”

Duh, rasanya pingin nangis mendengar cerita Mbak Tian. Ketika banyak Muslimah di luar sana yang masih ragu dan melepas-pakai jilbabnya, Mbak Tian di hadapanku ini sedang mati-matian berjuang dengan mahkota terindahnya di depan keluarganya yang mayoritas Muslim. Tetapi, silakan jika ada pembaca yang memutuskan mengambil sudut pandang sendiri. 

Aku hanya berdoa, yaa muqollibal quluub, tsabbit ‘alaa diinik. Ya Allah, teguhkan dan kuatkan hati kami agar tetap berada di atas agamaMu. 

Surabaya,
Pagi yang hangat.

Advertisements