Repost dari sini

Aku ingin bercerita tentang kita. Tentang pertemuan pertama kita. Tentang degup jantung ini yang… entah kenapa tak seperti biasanya. Detaknya cepat seperti berlari-lari mengejar waktu. Kapan pertemuan kan kita lakukan? Padahal kita ingin sekali pertemuan pertama ini tak berakhir. Ah… rasanya sulit menggambarkan perasaan yang kita miliki bersama.


Aku ingin bercerita tentang kita. Tentang kesan pertama saat kita berkata, saat kita bertatap muka, saat semuanya terasa begitu sempurna, walau orang lain kan menganggapnya biasa saja. Pernahkah kita bertanya kenapa kebersamaan ini begitu mesra? Terasa indah segalanya. Terasa sempurna. Apakah mata, telinga dan hati kita telah buta?

Aku ingin bercerita tentang kita. Ya, hanya tentang kau dan aku. Bukan yang lainnya. Hei… kenapa hati kita serasa begitu dekat? Padahal deretan jarak dalam angka memisahkan kedua raga. Tapi pikiran dan hati ini terjebak dalam warna dan pikiran tentang kita. Jika kita tak menahan diri, entah apa yang akan terjadi.

Aku ingin bercerita tentang kita. Saat hati ini begitu rekat, aku takut kecewa, benci, marah, dengki, sedih dan semua perasaan itu bersembunyi dari kita. Aku takut perasaan-perasaan negatif itu akan buncah memporak-porandakan semua rasa yang kita punya. Apakah kau menyadarinya? Apakah cerita tentang kita ternyata dusta? Aku takut sekali.

Cerita tentang kita memang kadang egois. Melupakan dunia. Melupakan orang-orang yang menyayangi kita. Bahkan tak jarang melupakan sang pencipta. Atau jangan-jangan cerita tentang kita tak ubahnya nafsu belaka? Tidak. Aku tidak mau hal itu terjadi padamu. Aku yakin Pencipta tak mau itu terjadi pada kita. Perasaan ini selayaknya bukan cuma antara kita, tapi mereka yang terbukti selalu ada entah itu suka apalagi duka.

Cerita tentang kita ternyata baru sekejap saja. Di antara ribuan waktu, momen, kejadian dan peristiwa. Kita kira cerita ini abadi, tapi mungkin hanya fana dan akan hilang ditelan lupa. Jujur aku takut… pisau ini mencabik-cabik bagai candu menggurat baret luka dan rasa. Ya, rasa dan luka di hati kita, di cerita tentang kita. Mungkin kita mabuk… dan tak menyadarinya. Untunglah kita tak keras kepala ya… masih ada orang-orang yang mau menggenggam tangan kita. Tak membiarkan kita terperosok dalam cerita duka dan dosa.

Aku ingin yang terbaik untukmu. Bukan… bukan seperti lilin yang membakar diri sendiri. Tapi seperti matahari yang menerangi segala. Cita ini sederhana, kita berdua menjelma menjadi matahari. Cerita kita bukanlah tragedi egois hanya tentang kamu dan aku, sedangkan mereka semua menjadi peran pembantu. Maukah kau bersamaku menjadi matahari?

Aku tak tahu apakah aku cukup gila untuk menabrak semuanya. Lagi-lagi kesadaran kita dibutakan oleh rasa. Sudah menunggu duka, luka, suka, yang akan mewarnai hari jika kita berani mengikat janji yang sama. Cukup kuatkah kita?

Cerita kita bukan cuma cerita tentang kita. Aku ingin banyak warna yang tertulis dalam kata. Ada tentang manusia, tentang cita, harapan, kehidupan, agama, perdamaian, tentang semua yang kita bisa, tentang mimpi kita menjadi matahari.

Hei kau… kau jarang bercerita atau merangkai kata. Aku tahu kau sedang memasrahkan semuanya pada Sang Pencipta. Fyuhh… kadang aku sedih ketika Pencipta seolah tak mau bicara. Apakah harus kuganti judul cerita ini jadi cerita tentang aku, kau dan Pencipta?

Aku tak tahu apa yang dimau Pencipta. Atau jangan-jangan aku yang sebenarnya berjarak dengan Dia yang berada di balik cerita kita. Tidak… aku yang bodoh. Seseorang pernah berkata padaku bahwa dia hanya menjadi air, mengalir bersama apa yang dimau Pencipta. Padahal kalo kita mau mengambil waktu, keluar sebentar dari frase cerita tentang kita, mungkin kita akan menemukan apa yang Dia mau.

Pada akhirnya aku tak tahu akan bermuara ke mana cerita tentang kita. Suka, luka, duka, bahagia, dan berbagai rasa pasti akan ada dalam cerita kita. Tapi aku tak mau cerita tentang kita adalah cerita tentang dosa anak manusia. Cerita tentang orang-orang yang melawan Pencipta. Cerita tentang rasa yang semu, cerita tentang topeng nafsu.

Aku ingin bercerita tentang kita. Cerita yang akan memahat suka di wajah sang pencipta. Mungkin aku tak sepenuhnya sadar, mengerti atau paham tentang hikmah yang ada di cerita kita. Atau kenapa cerita kita ini harus terjadi? Dan kenapa setiap orang di dunia ini memiliki cerita?

Aku ingin bercerita tentang kita. Tanpa menyebut satu kata. Kata yang baru akan dimulai ketika kita mengikat janji yang sama.

Aku ingin bercerita tentang kita. Cerita tentang cinta.

Jumat, 22 Agustus 2014
(dimuat di Annida Online oleh salah satu Tim Redaktur-nya sendiri)

Advertisements