Kau tahu, penulis-penulis top model Asma Nadia, Helen Keller, dan Pipiet Senja punya kekurangan dalam fisiknya; tapi karakter mereka yang kuat tak pernah menghalangi mereka untuk terus berkarya dan berkontribusi.

Kau tahu, tokoh bangsa seperti Moh. Hatta dan Hoegeng punya kekurangan dalam latar belakang finansialnya; tapi karakter mereka yang teguh hati tak pernah menghalangi mereka untuk terus berprestasi untuk negeri.

Kau tahu, seorang Chairul Tandjung, juga berasal dari keluarga melarat sebelum jadi konglomerat. Lagi-lagi, karakter beliau yang pantang menyerah tak pernah menghalangi beliau untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

Fisik, harta, dan kuasa memang tak pernah jadi alasan yang berarti untuk menghambat langkah seseorang. Tetapi jika yang hilang adalah karakter; selamat datang pada awal kehancuranmu. 

Ketika karakter sudah mati; maka kau harus sekuat tenaga untuk membangunkannya kembali. Pernah membaca jika dalam karya sastra tak ada karakter yang menjalankannya? Hil yang mustahal, bukan? Maka bagaimana sang penulis akan mampu menjalankan alur cerita yang diinginkannya?

Karakter tak ubahnya manusia, atau mungkin lebih bisa disebut fitrahnya manusia. Jika karakter itu mati; maka manusia (fisiknya) bisa juga akan mati. Oh iya, ketakutan adalah sakaratul maut yang paling menyakitkan bagi karakter. Rupanya, syahadat karakter itu memang khusus hanya pada Allah, bukan pada ketakutan untuk apapun. 

Ingin membangunkan karaktermu? Perbaiki dulu syahadatmu, lantas kau akan tahu betapa Allah Maha Pemurah untuk (terus) membangunkannya kembali, bahkan ketika kau tak sadar dengan kehadiranNya. 

Advertisements