“Maaf, saya nggak biasa. Kan, biasanya di masjid. Sekarang di mall. Hehe,” begitulah aksi nyentrik Ustadz Miftahul Jinan, M.Pd. ketika aku mengikuti training sehari parenting nya yang diselenggarakan oleh YDSF dan Griya Parenting di Grand City. Ya Allah… semoga Allah memberikan keberkahan hidup kepadamu, yaa Ustadz… Hihihi, sukses membuat semua peserta tertawa.

Oke, berikut resumenya; semoga bermanfaat 🙂

Anak-anak adalah satu-satunya harapan orang tua. Karena itu, mereka wajib dijaga, dirawat, agar menjadi orang-orang yang Allah akan jadikan. Orang tua wajib membekali mereka dengan bekal ruhiyah, jasmani, dan pola pikir yang cukup untuk menghadapi kehidupannya di masa depan. Nah, di sinilah potensi anak-anak mulai terbentuk.

Dari mana asalnya potensi anak-anak? Dari Allah, tentu saja! Tetapi, orang tua tetap berperan untuk memunculkan potensi anak-anaknya. Yakni melalui tiga hal berikut:

1. Stimulasi anak: pada masa golden age (0-8 tahun), anak perlu banyak menerima stimulasi untuk mengembangkan dan menyambungkan syaraf otak. Mereka membutuhkan banyak pengalaman-pengalaman. Nah, jika syaraf otak banyak yang tersambung, maka akan keluarlah potensi-potensi mereka. Akan tetapi, pernahkah ketika kita melihat anak-anak main garpu dan sendok untuk memecahkan telur dan kita kasihan padanya? Lantas kita ikut campur dengan ikut membantu mengupas telurnya? “Maka berhentilah proses belajar si anak!” Lebih penting lagi, stimulasi harus terus diberikan berulangkali; tidak bisa jika hanya satu kali, karena stimulasi akan membentuk pembiasaan.

2. Pembiasaan terhadap aturan yang dimulai sejak dini, aktivitas kemandirian, serta komunikasi dengan teman. Orang tua harus berusaha konsisten tentang aturan-aturan yang ada di rumah; termasuk soal prinsip (agama). Beri anak-anak contoh melalui perbuatan nyata. Upayakan ada satu komando (di mana seluruh anggota keluarga taat pada satu jenis aturan) agar anak-anak juga belajar konsisten. Jika dari awal orang tua bilang ya, maka lakukanlah. Jika tidak, meskipun anak-anak menangis, biarkan tidak. Begitu juga ketika anak menghadapi masalah dengan temannya. Ustadz bercerita, “Suatu hari, anak saya pulang dengan lutut terluka sambil menangis dan menyebut salah satu temannya. Jadi saya langsung mengobati lukanya. Urusannya dengan temannya, biar dia yang selesaikan sendiri.” Orang tua perlu membiarkan anak menghadapi kesulitannya sendiri; tapi juga harus tetap menunjukkan kasih sayangnya.

3. Aktivitas bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Anak yang normal tidak akan duduk dan diam saja sementara menunggui ibunya memasak atau ayahnya yang sedang duduk di depan laptop. Anak yang normal tidak hanya diam bermain gadget sendirian; tetapi akan beraktivitas dengan benda-benda di sekitarnya. Orang tua harus mengubah paradigmanya untuk mencekoki anak dengan gadget agar ia diam. Itu tidak baik. 🙂

Ajari anak untuk kontrol diri. Hal ini bisa dilakukan dengan pola orang tua untuk menyeimbangkan antara memberi dan menolak. Adakalanya, orang tua boleh mengalah; asalkan bukan termasuk pada hal yang prinsip (agama). Sekali lagi harus konsisten dengan aturan yang dibuat dan disepakati bersama. 

Sekian dan terima kasih.

Advertisements