Berhubung kemarin baru saja submit abstrak ke IACS-inter asia cultural studies Conference 2015 tentang identitas free man film Jagal atau The Act of Killing; aku jadi tertarik menghubungkan antara apa yang terjadi dalam film tersebut, fenomena begal-an yang lagi marak, dan akhirnya malah merujuk pada sebuah negara gagal.

Secara singkat, film Jagal bercerita tentang pembantaian yang dilakukan oleh Pemuda Pancasila terhadap sekitar 1000 orang yang diduga anggota PKI di Sumatera Utara. Untunglah bentuknya film dokumenter; bukan film narasi. Betapa ngerinya jika nonton film narasi; meskipun aku tahu itu artifisial belaka. Pemerintah (baca: militer) jelas berang dengan produksi Joshua Openheimer ini; bagaimana tidak, sejarah buram yang mereka buat akibat peristiwa G30S/PKI ditampilkan kembali, lengkap dengan penutur pelaku pembantaiannya. Sang pelaku, Anwar Congo dan seorang rekannya, mengaku bangga melaksanakan ‘perintah’ tersebut (ketika masa mudanya di tahun 66). 

“Kami itu free men,” begitu katanya (dengan sedikit perubahan). Kata free men inilah akar dari kata preman yang kita dengar sekarang ini. 

Co-sutradaranya yang disamarkan dengan anonim (karena tidak aman untuk mengungkapkan namanya); mengatakan negara akan rusuh seperti kejadian 65-66, bahkan 98, jika pemerintah masih membangun negara dengan kebohongan, keserakahan, dan kemunafikan atas dasar keuntungan pribadi dan golongan. Demi mengamankan posisi, mereka menciptakan identitas free men  yang diberikan kepada rakyat ‘bawah’ untuk mengerjakan tugas-tugas yang bisa membahayakan mereka. Identitas ini seakan memberikan legitimasi kepada segolongan orang untuk berbuat seenaknya; bahkan hingga urusan mencabut nyawa. Pun, tentu saja rakyat menerimanya karena akan diberikan ‘imbalan’ duniawi.

Nah, motif ekonomi lagi-lagi menjadi penyebab kerusakan yang tak henti-hentinya di Indonesia masa kini; setelah 3 tahun dari pemutaran film Jagal. Fenomena begal di hampir seluruh Jawa akhir-akhir ini meresahkan masyarakat. Banyak motor dan jiwa melayang kena clurit, bahkan sekedar untuk melepaskan motornya. Mereka, para pembegal, terkenal punya ilmu kebal yang membuat mereka tak mempan dilukai; tapi membawa pedang ke mana-mana untuk menyerang korbannya yang bahkan tak mempunyai senjata apapun.  

Berikut ini tanggapan wakil presiden RI, Pak Jusuf Kalla soal pembegalan (sumber lihat di sini)

Menurut Wapres Kalla, dirinya terkejut dengan aksi tersebut di tengah-tengah persoalan bangsa.

“Saya menduga, sistem pendidikan karakter kita yang perlu dibenahi lagi di sekolah dan dalam pergaulan sehari-hari,” tuturnya.

Lucu rasanya melihat tanggapan ini. Apalagi dengan kalimat pertama dari berita di atas. Terkejut dengan aksi tersebut di tengah-tengah persoalan bangsa. Berarti aksi human error menjadi cobaan di era Yang Terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Jika Anda terkejut, berarti Anda belum siap dengan segala resiko dan konsekuensi menjadi pucuk pemerintahan negara. 

Sebenarnya, yang paling punya efek signifikan terhadap fenomena-fenomena ini adalah pemerintah sendiri; bukan pendidikan. Lihat saja di media mainstream, persoalan bangsa yang kerap terjadi adalah pembegalan uang rakyat dan hukum. Dunia politik dan pemerintahan sekarang punya sinetron sendiri; Tukang Bubur Naik Haji atau Jodha Akbar mungkin bakal tersaingi episodenya. Dan ya… itulah yang dilihat masyarakat tiap hari. Lantas, bagaimana Anda bisa terkejut?

Motif para pembegal adalah finansial yang tak kunjung membaik; tapi harga terus merayap naik. Sistem kapitalisme yang sedang menjerat kita memang cukup sadis; tapi tak bisakah pemerintah membuatnya lebih ramah untuk masyarakat? Susah memang punya presiden mental pengusaha yang tak diimbangi mental menyejahterakan rakyatnya.

Jangan-jangan, para pembegal (yang bisa jadi belum nonton film sejarah berjudul Jagal) juga sudah beridentitas free men. Toh, mereka mengklaim dirinya bisa sekehendak hatinya berbuat apa, asalkan mendapatkan apa yang mereka inginkan.  

image

Akankah episode Jagal dan para begal ini berujung pada episode negara gagal?
Ya, tunggu saja sang sutradara akan berkata seperti apa.

Jangan lupa berdoa setiap waktu.

Advertisements