Setelah merenungi peristiwa hati semalam; aku menemukan satu alasan (lagi) mengapa Allah berfirman di salah satu surat bahwa “Laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik; begitu juga sebaliknya.” – well, entahlah, kenapa bahasan umur-umur menjelang 20 ini cenderung berbau hati.

Sederhana; karena pada dasarnya, hati kita adalah gelombang yang beresonansi.

Hati itu seperti gelombang dari langit yang kupandang sore ini. Warnanya biru muda, berhias selapis awan putih tulang. Ia datang dengan angin yang lembut dan menenangkan. Langit yang menciptakan gelombang damai di hati; dengan kehendak dari Pemilik Seluruh Hati.

Masih ingat materi Fisika tentang gelombang dan getaran? Nah, gelombang adalah getaran yang memiliki frekuensi. Disebutkan lebih jauh, gelombang yang mempunyai kesamaan frekuensi akan mengalami resonansi. Ngomong-ngomong, frekuensi tergantung dari n (jumlah getaran) dan t (waktu). Jadi, untuk menghasilkan suatu frekuensi tertentu, kita harus terus membuat getaran-getaran sepanjang waktu. Di dalam kehidupan nyata, getaran itu adalah aktivitas-aktivitas kita, sementara waktu tetap mewakili wujudnya. Jika aktivitas kita positif -sesuai hukum Fisika- tentu saja frekuensi yang kita hasilkan akan menarik atau tertarik pada orang-orang yang memiliki kesamaan frekuensi.

Begitu pula yang berkaitan dengan jodoh. Jika kita memunculkan frekuensi positif, maka inshaALLAH kita dipertemukan dengan orang yang memiliki frekuensi sama. Jika cenderung frekuensi negatif, maka begitupun orang-orang yang datang kepada kita. Karena sekali lagi, hati adalah gelombang yang beresonansi dengan banyak hati di dunia ini. MahaBenar Allah atas segala firmanNya.

Advertisements