Dunia penerjemahan lagi ngehits sejak aku ambil kelas Translation for General Texts dan Translation for Specific Purpose. Aku dan beberapa anak angkatan setahun di atasku lagi rajin-rajinnya cari klien dan bikin portofolio untuk tugas akhir kelas tersebut. Tapi kadang, pemahaman para klien atas proses penerjemahan ini bikin ngenes. 

Nih kaya gini nih contohnya:

Kejadian #1
Klien: “Mbak, bisa nerjemahkan teks ini?”

Aku: “Oh bisa, Mbak. Deadline kapan ya?”
Klien: “Seminggu, Mbak…”
Aku: *pingin makan tuh teks 30 halaman A4* “Ngg… saya usahakan ya, Mbak. Tapi, tarifnya naik ya.. Hehe.. Karena standarnya kalo halamannya segini banyak, minimal 3 minggu…” *plis… aku juga banyak kuliah, ngajar, dan lain-lainnya


Kejadian #2
Klien: Mbak tolong terjemahin ini dong…
Aku: Oke sip Mbak. Besok udah jadi kok.
*Besoknya setelah kirim email*
Klien: Berapa, Mbak?
Aku: Lima puluh ribu aja.
Klien: Kok mahal, ya?
Aku: *kirim emot senyum* 🙂 *Cuek aja ngelirik hape. Si Mbaknya mah gatau apa yang sudah aku korbankan dan lakukan untuk menerjemahkan kuesionernya yang buat skripsi itu. Musti buka berapa kamus tebal dan berapa sumber yang aku mintain tolong untuk ngedit terjemahanku.


Kejadian #3
Klien: Halo, Mbaknya di mana ya?
Aku: Di gazebo depan Fakultas Mbak. Ke sini aja. Aku belum pulang.
*dateng dianterin pacarnya*
Klien: Mbak ini penerjemah ya… Bisa tolong bantuin aku gak, Mbak?
Aku: Hehe… bener Mbak. Dapet rekomendasi dari siapa?
Klien: Dari temen se-Fakultasnya Mbak.
Aku: *Alhamdulillah, bisnis mulai tersohor. Ahaha* Ooh.. Iya… mau nerjemahin apa, Mbak?
Klien: Anu… ini lho buat alat ukur skripsiku. Satu halaman aja ya… Kalo bisa 2 hari ini jadi.
Aku: Oke, Mbak. Ini jadinya dua puluh ribu.
Klien: Hah? Mahal banget, Mbak…
Aku: Mbaknya minta cepet, tapi materi ini lumayan sulit Mbak. Karena kan butuh editing juga dari ahlinya. Psikologi ini gak main-main lho. Gimana? Kalo nggak mau di aku ya gapapa sih Mbak…
Pacar Klien: Ng, tapi itu udah se-back translation-nya gak?
Aku: Hah? Apa, Mas? Back translation? *kaget* *YaAllah… turun dong pasaranku kalo sampe gatau ini istilah*
Pacar Klien: Itu lho Mbak, yang setelah diterjemahin, trus diterjemahin lagi ke bahasa sumbernya. Tapi penerjemahnya beda.
Aku: Oooh itu ya.. *sok paham* Ehehehe… iya-iya.. Itu juga udah se-back translation-nya kok. Ehehe.
Klien: Oke… ini ya Mbak. Saya bayar sekarang aja. Dua hari lagi saya tunggu.
Aku: *brb googling teknis back translation*

Kejadian #4
Klien: Dek… Minta tolong terjemahin ya. Waktunya satu bulan.
Aku: *gampang… teks sastra. Sesuai bidangku kok. Santai…* *lihat lagi lebih detail* Mbak, ngng… ini buku pake istilah bahasa inggris jaman Romawi?
Klien: Iya Dek.. makanya, aku minta tolong kamu untuk nerjemahin ini. Kan kamu anak Sastra Inggris…
Aku: *oh, jadi gara-gara aku anak Sastra Inggris; dipikir aku sudah belajar bahasa Inggris kuno. Sudah terlalu sering aku dengar alasan itu. Sudah biasa…* *menghela nafas panjang*

Kejadian #5
Klien: Dek… jangan lupa ya… hari ini deadline-mu jam 3.
Aku: *ngedumel* Kenapa kemarin-kemarin aku gabisa manajemen waktu dengan baik sih.. *kesel sama diri sendiri* *brb ngebut*

Lucu juga kalo jadi penerjemah ini. Klien memandang prosesnya sebagai one-way translation. Padahal, kalo menurut para suhu di HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia), seorang penerjemah wajib hukumnya menjadi editor independen. Tentunya, proses penerjemahan pun nggak bisa dilakukan satu kali. Misal nih, sekarang aku nerjemahkan satu halaman selesai. Besoknya, harus diedit lagi. Jika memungkinkan, konsultasi dengan yang ahli di bidangnya harus dilakukan. Baru diserahkan kepada klien untuk menyesuaikan makna apa yang dimaksudkan. Setelah itu baru merancang draft final dan hasilnya langsung bisa digunakan oleh klien. Nah, jadi bagi yang ingin tahu kenapa (sebenernya) proses menerjemahkan itu lama dan mahal, sudah tahu alasannya, kan?

Aku sih enjoy aja menjadi seorang penerjemah. Selain bisa belajar banyak kosakata baru di berbagai bidang, menambah wawasanku, aku juga bisa belajar menulis dengan struktur yang baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Meskipun nantinya aku nggak ngambil konsentrasi di linguistik (yang akan sangat mendukung karir sebagai juru bahasa, interpreter /penerjemah); setidaknya aku cukup paham ilmu-ilmu dasarnya.

Yeah… di jaman yang semakin mengglobal ini, peran orang-orang bahasa, khususnya yang menguasai lebih dari 1 bahasa, nggak bisa diremehkan lagi. Kalo nggak ada para ahli bahasa, gimana hayo mau nyampein informasinya? Sukses terus untuk dunia penerjemahan Indonesia!

Advertisements