Kecerdasan majemuk-lah yang membuat setiap anak menjadi hebat. Ya! Bagaimana tidak hebat? Sejak sebelum dilahirkan; kita adalah satu dari berjuta-juta sel sperma ayah yang berhasil menembus dinding sel telur ibu. Lantas sel-sel itu bersatu dan membentuk gumpalan darah. Dan pada usia 4 bulan, Allah pun meniupkan sebuah ruh. 

Tapi, masa sekolah begitu menajdi berbeda. Entah kenapa sekolah-sekolah di Indonesia mengkategorikan anak pandai adalah anak yang punya nilai-nilai yang memuaskan (mendapatkan nilai A) di hampir seluruh evaluasi kognitifnya. Termasuk saya -dulu-. Saya adalah langganan juara kelas dari sejak TK hingga SMP. Tapi, sekali lagi; itu hanya tingkat kognitif. Saya tak pernah berani untuk maju ke tingkat yang lebih (seperti ke olimpiade sains nasional atau lomba-lomba internasional lainnya). Saya belum sampai pada tingkat aplikasi seperti teman-teman saya yang maju ke berbagai lomba tingkat internasional. Dan ketika SMA, akhirnya saya pun memilih untuk ‘sekedar’ bertahan di jurusan IPA, dengan terpaksa; demi orang tua saya. Saya tahu, saya mampu; saya tahu, saya anak yang cerdas. Tapi, tingkat kepercayaan diri saya sudah kadung menurun drastis akibat belum bisa mencapai prestasi yang lebih tinggi. Sekali lagi, karena saya hanya menguasai tingkat kognitifnya saja. Untunglah, Allah meluluskan saya. Dan akhirnya, tak mau repot-repot, saya lebih suka ke dunia bahasa dan sosial; hingga saya ada di jurusan sastra.

Begitulah, mungkin kini orang tua saya tidak menganggap saya sebagai anak yang cerdas. Karena saya hanyalah mahasiswa dari jurusan sastra; yang menurut mereka pilihan kerjanya hanya satu: jadi dosen, jika mau lebih baik maka sandanglah titel dosen PNS.

Saya hanya tersenyum sembari bersyukur; karena saya mampu memilih jalan saya sendiri. Awalnya saya minder, tapi setelah mengetahui teori Gardner di atas, saya justru bersemangat untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian saya. Tentu saja, bagi orang tua saya; kecerdasan (logika-matematis) saya mungkin agak sedikit pudar karena saya terlalu banyak membaca kata-kata. Tapi saya akan sangat senang jika saya bisa menciptakan teori-teori tentang media studies, mengajarkan bahasa dan budaya, atau menjadi penerjemah ahli para duta besar.

Saya percaya jika semua orang memang punya kecerdasannya masing-masing. Sebagai analoginya, lihat saja; bagaimana nasib ikan jika disuruh berjalan di daratan? Bagaimana ayam jika disuruh terbang seperti elang? Setiap orang punya keahliannya, di mana ia ahli dalam pengerjaannya. Sungguh, tidak ada yang bodoh. Thomas Armstrong dalam bukunya menyatakan jika para siswa tidak pernah salah; yang kurang tepat adalah bagaimana guru mengajari mereka (dalam buku Kecerdasan Multipel di dalam Kelas, 2013). 

Saya percaya, setiap orang punya bintang mereka masing-masing, dan kemauan merekalah yang menentukan apakah bintang itu akan bersinar atau tidak. Sisanya, biarkan Allah yang mengaturnya.

Advertisements