Apa yang kita ucapkan saat pada akhirnya -setelah berdarah-darah dalam prosesnya- mimpi itu kita raih? Alhamdulillah… oke. Apa lagi? Ayat di atasnya, yang dengan gembira kita ucapkan, lalu mungkin ditambahkan “Aah… Allah baaik banget. Allah sayang sama aku ya, ternyata…” [plus emot :3]

image

Di situasi-situasi seperti itu, Alhamdulillah kita masih dimampukan mengingatNya. Kasih sayangNya seperti begitu nyata, seakan-akan cuma kita satu-satunya orang yang paking disayang sama Allah; bukan begitu?

Lalu situasi mendadak berubah 180○! Dikhianati pasangan, utang numpuk, IP nasakom (nasib satu koma), kecopetan, STNK ilang, laptop ga fungsi, modem ngadat, cucian numpuk, tugas menuntut, plus ujian akhir di depan mata pula! (*hanya mendata daftar cobaan anak kuliah, haha). Itu juga masih ditambah baca akun-akun galau di sosmednya. Berasa jatuh tertimpa tangga ketindihan gajah! Perfecto! Berasa kiamat kah? Atau bahkan kita masih berpikir bahwa sebenarnya maksud ayat itu masih membekas di hati? Atau bahkan hingga berburuk sangka pada Allah, merasa sudah tidak dipedulikan lagi olehNya? Kamu yang mana?

Nah! Aku ikut bersyukur kalau kita di posisi yang kedua. Di posisi pertama, aku akan bilang kalau itu manusiawi. Lantas apakah jika di posisi kedua langsung jadi malaikatwi? Tidak, aku tidak berpendapat seperti itu.

Bagaimana kita menafsirkan ayat tersebut? Ayat ini tergolong ayat-ayat yang ‘terang’ arti dan maksudnya sehingga umat Islam mudah memahami perkataan Allah di dalamnya. Ya…

“Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Yuk, jika menemui kondisi yang kedua, bagaimana jika kita mengubah cara pandang kita. Kemarin, baru pulang dari suatu acara kampus dan kepikiran di jok motor belakang adikku. Aku hanya duduk, tapi bisa juga bernafas, bisa mencerna makanan, sambil mikirin ide apa, bisa mendengar deru mesin, melihat-lihat jalan, mengedipkan mata, dan sesekali mengomentari cara adikku menyetir. Bayangkan! Kita melakukan semua itu secara simultan! Tau kan? Simultan. Berbarengan, selaras.

Nah, pernahkah kita berpikir bahwa nikmat yang tidak terasa itu kita dapatkan setiap detik? Pernahkah sekali saja memikirkannya? Maka benar bahwa nikmatNya tidak terhitung. Memang benar bahwa Allah masih sangat sayang pada kita, meskipun Allah memberi kita ujian. Sungguh, sangat mudah bagi Allah untuk memenuhi segala permintaan kita; tapi dia ingin mengetahui yang terbaik dari kita, untuk bekal menghadapNya kelak.

Sekali lagi, “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ingat, bahkan kedipan mata itu adalah nikmat; masih tegakah kamu, menganggap keadaanmu yang sedang jatuh tertimpa tangga itu sebagai bentuk hilangnya kasih sayang Allah?

Advertisements