Setelah membaca esai-esai singkat Pak Ariel Heryanto dan menyimak perkuliahan matakuliah Youth Culture selama 4 minggu penuh, aku berkesimpulan,

“Jadi, youth culture adalah alasan yang dibalut kondisi nyaman seseorang untuk melepaskan diri dari kematian.”

Terlalu ekstrim?
Mungkin runtutannya begini…

Aku setuju dengan lirik yang ditulis Pak Joko Pinurbo di dalam puisinya, “…we are all afraid being old…“. Siapa yang tidak? Setiap hari sejatinya umur kita berkurang, tapi kita mengkamuflasenya menjadi “bertambahnya tahun”; ya tentu saja bertambah tahunnya kehidupan kita di dunia dan pada saat yang sama, semakin mendekatkan kita pada kematian.

Penuh paradoks memang manusia ini.

Banyak cara kita yang membuktikan pernyataan beliau. Di media-media saja bilangnya, “Belilah produk merk P, maka Anda akan terlihat 10 tahun lebih muda” atau “Produk Z akan meremajakan kulit Anda”. Dampak iklan begitu, ternyata tidak berhenti pada produk yang diiklankan saja; tetapi malah merambat ke produk-produk lainnya. Ketika kita beli baju, kita cenderung akan tersenyum bangga saat ada yang mengatakan, “Wah, Anda kelihatan lebih muda menggunakan bentuk ini atau warna itu ya!” Hayo, siapa yang mau menyangkalnya?

Youth Culture menurut beberapa scholars tak terbatas pada produk budaya fisik seperti baju, tas, fashion saja; tetapi meliputi aktivitas-aktivitas, ide-ide, dan segala hal yang mensyaratkan dinamika dan kekreativitasan yang tinggi. Dinamika dan kreativitas menjadi tolak ukur yang penting dalam youth culture karena hal ini adalah ciri dari sifat pemuda (secara fisik). Dan sifat yang paling utama dari para pemuda adalah tidak mau menjadi tua. Mereka terlalu nyaman dengan segala hal yang dialamatkan pada mereka; padahal ternyata mereka juga dikejar oleh waktu yang sama dengan orang-orang yang secara fisik lebih tua dibanding mereka. Mereka ingin kesenangan selamanya menjadi milik mereka, sedikit naif, tapi tetap berangan-angan. Belum lagi ada pemeo seperti ini, “Masa muda adalah masa terbaik yang kita punya. Nikmatilah.” Jadi, Youth Culture mengidentifikasi habis-habisan seperangkat ideologi para pemuda untuk dijadikan dasar bagi siapapun penganut budayanya (meski yang secara fisik sudah berumur).

Jika tidam terlalu ekstrem, mungkin aktivitas yang berkaitan dengan Youth Culture bisa dipandang sebagai aktivitas rekreasi atau refreshment for a while jika dilakukan sewajarnya. Tapi, kadar sewajarnya ini pun berbeda-beda untuk setiap orang kan? Jadi daripada mengambil parameternya ribet karena relativitasnya, menurutku lebih baik mengambil definisi secara general; sesuai pernyataan awal.

Bahwa aktivitas Youth Culture cenderung menolak konsep menjadi tua, lalu berujung pada kematian; setidaknya mengingkari konsep waktu yang berjalan ke depan. Aah, menariknya, konsep Youth Culture juga bisa dipandang lebih positif jika kita melihanya sebagai cara manusia bertahan hidup. Karena menurut strukuralisme, bukankah pasangan kematian adalah kehidupan? Bukankah menepis kematian sama dengan mempertahankan kehidupan seburuk apapun kematian itu?

Lantas apakah penulis yang masih terkategorikan pemudi ini juga tersangkut pada aktivitas Youth Culture? Tentu saja. Itu pasti, itu pasti. Akan tetapi, bayangan kematian yang semoga khusnul khotimah itu tetap terasa menyakitkan; dan nyata.

Advertisements