Aktivis dan pasivis,
Hayati lelah mendengarnya. Haha…
Yang di tengah selalu koar-koar, kalo yang mojok gak kerja dan gak berkontribusi. Yang di pojok juga gitu, nyibir-nyibir yang tengah sok eksis.

Nggak sadar, kalo dunia ini banyak masalah?
Nggak sadar kalo dunia ini lebih butuh aksimu daripada bacotmu soal pasivis vs aktivis, soal aktif vs pasif, soal kontribusi vs ‘keliatan nganggur’?
Nggak sadar kalo tiap orang punya kapasitasnya masing-masing?
Nggak sadar kalo tiap orang punya jalan masing-masing?
Terlalu dikotomi, kemakan teori strukturalis kali ya. Padahal semua juga tau, dunia manusia tak pernah sesederhana oposisi biner strukturalis.

Sebenernya, sejauh mana sih mahasiswa dikatakan pasivis atau aktivis? Kalo definisinya dalam konteks politik aja, duh, sempit banget hidup situ jadi mahasiswa.

Kapan mahasiswa Indonesia bisa sejajar dengan negara lain kalau diskursus dunia mahasiswanya seperti ini, terus saja mbulet, njelimet, serba definitif tapi minim aksi nyata. Jadi mendingan, kontribusilah sesuai bidang situ… Masyarakat bisa lihat kok dan pasti akan dukung situ kalau kegiatan yang situ lakukan memang manfaatnya langsung mereka rasakan.

Advertisements