Mau tahu cerita sebelumnya? Silakan klik postingan setelah ini.

Jadi, penelitian lapanganku sudah selesai dan akhirnya aku membuat laporan. Ngertilah ya, tugas mahasiswa; tapi yang ini terasa begitu spesial. Ahahaha. Oke #lupakan. Aku tak cukup pintar merahasiakan yang satu ini. Tapi mari kembali fokus soal komunitas si H.

Kemarin aku menulis tentang core value mereka. Nilai-nilai ini yang mereka internalisasikan dan dipraktikkan setiap kali mereka kopdaran, touring, riding, atau bahkan saat berkomunikasi di media sosial.

1. Dermawan.

Benar memang, kebanyakan dari mereka adalah the have secara material. Tapi bukan berarti lantas mereka mengabaikan yang di luar kelas sosial mereka. Komunitas si H di momen-momen tertentu mengadakan acara bagi-bagi takjil, atau kunjungan ke panti asuhan, atau menjenguk anggota yang sakit, atau sekedar saling mentraktir sesama anggotanya. Itulah, karena prinsip mereka, berbagi tak pernah merugi. Menjadi dermawan akhirnya membudaya di kalangan mereka; dan tentu saja, dari sinilah perasaan brotherhood itu muncul.

2. Saling melindungi.

Ini adalah pengalaman personal si H dengan salah satu anggota komunitas yang cukup dekat dengannya. Ketika mereka mengadakan agenda di tempat yang agak anti-mainstream (di pub, di klub, di tempat-tempat begitu), sohib si H ini akan meminta izin untuk menemani si H pulang karena keluarganya agak strict soal jam malam. Mereka memang hobi sekali riding dan punya motor-motor keren (katanya si H, itu mainan cowok dewasa); tapi tak hobi main ke tempat-tempat itu). Kalau sudah begini, perlu partner dekat untuk melipir pulang dengan alasan yang tepat, kan?

3. Gerakan Safety Riding.

Anggota bikers moge seringkali dicap arogan karena perilaku individunya, karena suara motornya yang bising, atau penampilan pengendara yang kadang seperti pembalap profesional. Tapi, jangan salah sangka; komunitas si H ini kalau touring teratur rapi, ditata mannernya, plus menggunakan safety kit dengan benar. Motor mereka memang besar, di atas motor standar (100-225 cc); karena itu, jelas suara mesinnya lebih bising dan keras. Mereka hanya menggunakan motor-motor itu jika mereka sedang ingin menyalurkan hasratnya; jarang sekali yang dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Kalau mereka sedang mengendarainya, anggota komunitas si H pasti akan langsung dengan sigap membiasakan safety riding. Mulai dari menghentikan kebiasaan mengendarai zig-zag di jalanan, mengambil lajur kanan karena kecepatannya harus tinggi, sampai berhenti di belakang garis marka ketika lampu lalu lintas berubah merah. Kalaupun ada pengendara moge yang ugal-ugalan, percayalah… itu sepenuhnya tanggung jawab personal pengendaranya.

image

Kenalin, di atas adalah motornya si H. Berkali-kali aku diajaknya riding tapi atas alasan takut, kutolak terus. Tapi kuakui, motornya cantik. Jadi, sekarang tak ada tendensi lagi untuk menyamaratakan bahwa semua pengendara moge ugal-ugalan bin sombong ya. Tak sesederhana itu, banyak yang bisa kita pelajari dari mereka.

Baiklah, laporan ini akan kubuat lebih serius versinya. Nantikan laporan lengkapku di majalah kampus FIB tercinta.

*psst, mereka juga keren-keren lho, punya masa depan cerah lagi.
*lupakan.

Advertisements