Baru beberapa bulan lalu aku ketemu (almarhumah) Mbak Nuzul di PLK kampus B. Seperti biasanya, beliau sedang beraktivitas layaknya seorang dokter muda. Tapi, aku tidak tau bahwa itu adalah perjumpaan terakhirku dengan mbak Nuzul.

Meskipun kami bukan satu SMA, tapi kami sering terlibat dalam event-event yang sama di sebuah organisasi keIslaman ekstern kampus. Dan kemudian, kabar kematiannya begitu tiba-tiba. Tapi juga begitu mengharukan; dibersamai mereka yang langkah-langkahnya masih setia di jalanNya.

Lantas….
Tebersit kembali langkah itu yang mulai kulepas perlahan,
Yang dulu pernah menjadi cita-cita suci di sepanjang hidup,
Yang berujung pada transit kematian,
Yang bermuara pada dua kepastian;
RahmatNya,
Atau
MurkaNya.

Variasi kematian adalah tentang mengetahui seperti apa jati diri kita yang sebenarnya; sudah berapa banyak yang kita berikan untuk sesama; dan masanya adalah hitungan yang tak bisa diubah.

Hidup boleh berlomba soal representasi, tapi kematian hadir lebih pasti dibanding sehela nafas ke depan. Lalu aku,
Tertegun, tertegap lagi, bertanya lagi,
Setelah mati, akankah Tuhanku menghadirkan narasi yang indah?

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…
Mbak Nuzul, bahkan dengan kepergianmu, engkau masih tetap mengajakku, mengajak semua yang masih di sini,
Untuk kembali meneguhkan hati,
Membersamaimu, dan para pendahulu kita.

Mungkin inilah sebenarnya, mungkin inilah mestinya.
Aku yakin Allah sangat, sangat, dan sangat mencintaimu.
Moga engkau menjadi bidadari surga di sana.
Aamiin.

Advertisements