Manusia selalu takut terhadap apa yang tidak diketahuinya.

Dalam bidang keilmuanku, justru yang membuat takut itu harus diteliti, kemudian diukur dengan kaidah-kaidah ilmiah, studi fenomenologi, lalu diungkapkan hasilnya kepada masyarakat. Penjelasan ilmiah semacam ini penting untuk klarifikasi masalah dan mencegah kekacauan situasi sosial yang bisa menimbulkan massive social chaos karena citra yang seringkali ditimbulkan media.

Di bidang keilmuan lain pun cenderung melakukan hal yang sama. Para akademisi seringkali mengorbankan ketakutannya (karena disebabkan persepsi masyarakat), mengendurkan urat malu, bahkan mengorbankan nyawa untuk mengungkap fenomena yang menjadi sumber ketakutan masyarakat. Seperti kasus salah seorang dokter muda yang sedang internship di salah satu pulau terpencil, kemudian terinfeksi dan meninggal.

Baru kusadari, peran para akademisi sangat penting, mendesak, dan dibutuhkan; untuk hal yang sangat remeh; mengatasi ketakutan publik. Lantas, batasan dari seorang akademisi ialah takdir, yang terletak di luar jangkauan akal manusia, di kuar batas cakrawala terjauh panca indera mereka.

Kepada takdir, para akademisi selalu melandaskan alasan mereka pada alasan-alasan misterius yang sudah digariskan Allah. Karena itulah, sains tidak akan bicara banyak tentangnya. Sains hanya bisa bebicara tentang sebab-sebab fisiknya, tetapi tak pernah mengerti rancangan agung nan indah yang dibuatNya sejak lauhul mahfudz tercipta.

Advertisements