“Duh Deek, kok kamu kerjain semuanya sendiri seh?”
Dia yang kutegur hanya menoleh ringan. Tersenyum, lalu menyahut,
“Kebanyakan di-PHP Mbak.”
“Sama siapa?”
“Cowok.”

Okay, urusan perasaan memang fatal sekali akibatnya. Bisa jadi kepercayaan sekarang sulit didapat bukan soal apa-apa, tapi berasal dari perkara remeh temeh seperti ini. Memori yang kita bangun dengan seseorang akan selalu membekas dan terbawa dalam alam bawah sadar kita. Memori itu seringkali menjadi pre-judgement kita atas orang lain di saat kita hendak bekerja sama dengannya.

Kadang, pertanyaan-pertanyaan seperti,
“Aku bisa percaya dia nggak ya?”
“Dia bisa nyelesaikan ini sesuatu dengan tepat waktu nggak ya?”
“Dia bisa nyelesaikan target kah?”
“Dia bisa memenuhi standar kah?”
Sangat mungkin terjadi.

Keragu-raguan kita terhadap seseorang yang sangat berarti di masa lalu bisa sangat mempengaruhi pola hidup, sikap, dan karakter kita sekarang. Tetapi, bukankah seseorang dianggap dewasa jika kita mampu manajemen emosi dan diri; sehingga apa yang terjadi di masa lalu tidak akan begitu signifikan mengambil hidup kita yang bahagia di masa sekarang dan di masa depan.

Istilah kerennya, move on dengan totalitas.

Ya, mengembalikan rasa percaya terhadap orang lain salah satu bagian dari move on itu sendiri. Memang sulit, apalagi jika diselingi dengan cerita patah hati #duh. Tetapi, bukan berarti tak bisa, kan?

Hidup ke depan, akan penuh dengan kolaborasi. Kalau kita kita masih terkungkung dengan nostalgia dan segala rupa kenangan pahit di-PHP, ah berarti kita belum sepenuhnya beranjak dewasa.

Tahap penyembuhan dan akselerasi diri selalu sama kok;
Terima. Maafkan. Lakukan perubahan.
Selalu sesederhana itu, kan?

Advertisements