Mungkin ini agak berat topiknya, soal kekacauan massal 65. Hanya saja, aku tidak mau terlalu terperangkap seputar masa lalu; dan mencoba bersikap untuk membuat wacana yang lebih ramah soal peristiwa 1965.

Peristiwa 65-66: Hegemoni Masa Kecil

Sebelum masuk kuliah, seluruh buku pelajaran Sejarah yang kupelajari selalu merujuk pada fakta bahwa pembunuhan para jenderal AD di Lubang Buaya dapat disahkan sebagai penyebab tragedi G30S/PKI. Hal ini membuatku dan teman-temanku, mungkin seluruh pelajar di Indonesia berpikir bahwa oh, ternyata PKI itu kejam sekali. Karena sudah berani mengeksekusi para jenderal AD tersebut. Banyaknya spanduk, poster, dan tulisan-tulisan bersifat resmi dari Pemerintah di jalan-jalan yang menegaskan bahwa adanya bahaya laten PKI semakin menambah keyakinan atas asumsi tersebut.

Dan setelah masuk kuliah, fakta-fakta ini terbalik. Setelah mengikuti beberapa diskusi soal ini, menonton film The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer, mengikuti seminar soal IPT, sampai ketemu dengan Pak John Roosa secara langsung; peristiwa 65 tidak sesederhana yang pernah kupelajari di buku sejarah saat akhir SD hingga SMA. Kenapa? Alasannya di bawah ini.

Diskusi dengan Pak John Roosa tentang Dalih Pembunuhan Massal

Peristiwa 65 merupakan mekanisme global akibat perang dingin antara blok barat (liberal sekular) dan blok timur (komunis sosialis). Blok barat jelas menginginkan kepunahan komunis sosialis karena mengekang kemerdekaan pribadi seseorang untuk menguasai sesuatu. Demi melancarkan agenda tersebut, negara-negara blok barat yang diketuai (seperti biasa) oleh AS, menargetkan pemusnahan ideologi komunis sosialis di berbagai negara; tak terkecuali Indonesia. Saat itu, Soekarno mempunyai cita-cita untuk mewujudkan ideologi sosialisme di Indonesia melalui Nasakom nya. Nah, karena itulah narasi eksekusi jenderal AD (diduga) dirancang oleh pihak-pihak yang sejalan dengan agenda AS untuk menggulingkan Soekarno, ideologi sosialisme, plus PKI.

Satu hal yang perlu diingat, pada masa Soekarno, PKI adalah salah satu partai terbesar di Indonesia, mendampingi PNI dan partai Islam (duh, lupa namanya). Lantas, akibat narasi dengan agenda barat di dalamnya, penggulingan Soekarno dan serentetan aksi untuk menghilangkan PKI menjadi masalah HAM yang serius. Banyak propaganda yang dilakukan sehingga menciptakan kesan bahwa gerakan tersebut membahayakan Indonesia.

Tapi begini, peristiwa di atas sebenarnya hanya terjadi pada ranah para penguasa Indonesia di zaman awal kemerdekaan. Rakyat tidak tahu apa-apa soal ini, hanya para elit yang tahu kerumitan sejarahnya.  Untuk lebih jelasnya, download dan baca saja bukunya pak John Roosa.

The Act of Killing

Film dokumenter berdurasi 3 jam, yang meskipun membuatku mengantuk; tetapi ternyata cukup mencengangkan. Kaget dan kagum; karena ternyata, setelah pembantaian para jenderal AD hampir seluruh orang-orang yang tergabung dalam PKI dieksekusi tanpa ampun. Pada titik ini, konflik di antara penguasa menjalar ke akar rumput. Keadaan di Indonesia menjadi semakin mencekam dan menyeramkan.

Tokoh utama film ini yang merupakan salah satu jagal para komunis tahun 65-66 mengakui bahwa mereka mendapatkan mandat untuk membersihkan Indonesia dari ideologi komunis. Dimulailah konflik horizontal yang menewaskan jutaan nyawa dari ujung Sumatera hingga Bali.

Meskipun film ini cenderung subjektif serta parsial, dan mungkin ada kepentingan di balik pembuatan film ini; setidaknya perspektif baru telah dibuat. Dan, tentunya perlu pengkondisian mental melalui diskusi agar tidak timbul konflik baru. Sejauh ini, beberapa kampus sudah mulai memutarnya dan dijadikan bahan diskusi di forum-forum Badan Eksekutif Mahasiswa. Bagus sih, artinya mahasiswa mulai membuka diri terhadap fakta sejarahnya untuk belajar lebih bijak.

Diskusi International People Tribunal untuk Peristiwa 1965

Tanggal 10-14 November tahun ini, diselenggarakanlah IPT di Den Haag, Belanda. Memang tidak berkekuatan hukum, tetapi membuka fakta sejarah itu perlu agar di masa depan tidak diulangi lagi oleh generasi muda yang memimpin pemerintahan kita.

Dalam pengadilan ini, para korban 1965 didatangkan dari Indonesia untuk memberikan kesaksian terhadap apa yang terjadi dengan mereka saat itu. Banyak yang bercerita bahwa mereka disiksa, diperlakukan tidak beradab, hingga dibunuh hanya karena mewarisi dosa komunis. Setidaknya, dari pengakuan para korban ini; akan sedikit membuka mata kita soal betapa keterlaluannya stigma yang mereka dapatkan bahkan setelah setengah abad.

Dan, menurutku, IPT justru hal yang baik untuk memulai rekonsiliasi. Karena jika negara langsung minta maaf terhadap para korban, mungkin menimbulkan kekacauan akibat tidak ada wacana awal pada pihak-pihak yang sangat tidak pro dan memiliki trauma di masa lalu.

Baiklah, tulisan ini tidak berujung membela siapa-siapa. Hanya saja, apa yang kita terima dari buku sejarah selama ini adalah pandangan yang tidak adil, bahkan terlepas dari kebenarannya. Memang sejarah diciptakan oleh pemenang; tetapi jika hal itu sudah melanggar kemanusiaan, bukankah sepatutnya diluruskan?

Advertisements