Mari kita tengok album usang di pojok rak berdebu itu, Lihat, ada kita di situ; tersenyum menggemaskan. Digendong, dicubit-cubit, ditimang, diangkat tinggi-tinggi Oleh seorang malaikat yang tak bersayap, Oh ternyata ada satu di sampingnya!

Siapa mereka?

Adalah orang tua kita, mereka itu, Yang juga suatu saat bisa tiba-tiba terbang kembali ke langit, Kembali pada pemilikNya. Lalu kita hanya bisa meraba halus potretnya di ingatan kita. Menyesali sebagian ataupun seluruh perbuatan yang pernah kita lakukan.

Karena itu aku ingin bercerita, kepadamu, khususnya anak-anakku kelak.

14 tahun pertama, aku jarang bahkan hampir tidak pernah terikat secara emosional dengan kedua malaikatku. Aku diasuh nenekku, tidur dengan beliau, dibelikan ini itu, dan dimanjakan. Wajar, karena nenekku tidak menikah dan waktu beliau cukup banyak dihabiskan di rumah. Ayah dan mama sibuk bekerja, mencukupi kebutuhan finansial keluarga yang saat itu baru dimulai.

Mereka memang membelikanku susu, tetapi yang membuatkan aku, yang menidurkanku setelah minum susu bukan mereka; tapi nenekku. Mereka memang memberikan uang saku, tetapi yang mengantarku sekolah, menunggu dan menjemputku di sekolah bukan mereka; tapi nenekku. Mereka memang memberikan uang untuk baju baru ketika lebaran tiba, tetapi nenekku lebih sering menjahitkan baju-baju lucu sesuai keinginanku. Mereka membelikanku buku dan seragam, tapi yang menemani belajar, membelikanku bahan untuk tugas, mengatasi masalah di sekolahku adalah nenekku.

Dan mereka saat itu, tidak belajar soal ilmu parenting. Dan mereka saat itu, tidak tahu bahwa dampaknya akan terbawa hingga aku dewasa. Dan mereka saat itu, tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan akan membuatku sulit diatur karena minimnya ikatan emosional.

Hingga akhirnya, di usia yang ke 14, nenekku meninggal. Aku mengalami depresi yang tidak terlihat; jujur aku baru saja tahu ini setelah perlahan aku belajar ilmu psikologi sedikit-sedikit. Aku tidak punya sosok yang bisa kupercaya; bahkan kepada mereka aku bersikap dingin dan menjauh.

Tunggu, aku paham secara teori soal harus menghormati orang tua dari pelajaran agamaku di sekolah dan TPA. Tetapi aku tidak tahu caranya agar seorang anak bisa dekat dengan kedua orang tuanya. Hingga aku pun mencari sosok pengganti yang bisa kujadikan pelindung; sosok lelaki yang pernah kuceritakan di blog ini. Lalu akibatnya menyedihkan dan aku mulai berpikir ulang.

Sejak kematian nenekku, ada sinyal dari kedua orang tuaku untuk lebih memperhatikan aku. Karena aku berbeda dari kedua adikku. Aku memang lebih kuat dan tangguh, tapi aku jauh dari mereka.

Terutama soal melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mereka masih tidak setuju dengan ideku ini. Awalnya kukira ini persoalan finansial dan kesempitan berpikir. Tapi lalu, mengapa mereka terus mengulanginya seakan-akan aku belum paham maksud mereka sebenarnya. Think, orang cenderung akan terus mengulangi apa yang dimaksud sampai orang lain tahu maksudnya dan menangkap pesannya, bukan?

Dan tadi pagi, debat itu terulang kembali. Posisiku masih cukup jauh, meskipun jarak kami sedikit lebih dekat dengan kuasaNya. Awalnya aku merasa mereka masih belum mengerti apa maksudku dan mempermasalahkan finansial kami. Tapi meski sudah kujelaskan berkali-kali, mereka tetap keukeuh menyuruhku kuliah lanjutan di Indonesia saja, bila perlu di UI. Baiklah, aku memilih keluar rumah untuk mendinginkan hati dan kontemplasi.

Malam, sebelum shalat Isya’, pikiran itu melintas. Bagaimana jika kedua malaikatku itu tiba-tiba terbang kembali? Akankah mereka melihatku di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana perasaan mereka terhadapku di akhir hayatnya? Ridhokah, atau justru sedih karena mereka merasa gagal mendidikku? Siapa yang bisa menjamin usia seseorang, karena kematian tak pernah permisi.

Tiba-tiba aku mengerti apa sesungguhnya alasan di balik penolakan mereka. Sungguh, butuh 6 tahun untuk mencernanya. Saat ini, aku sedang diberi kesempatan untuk berbakti pada mereka, untuk memperoleh ridho mereka, untuk menghabiskan sisa waktu mereka. Mereka takut, di akhir hayatnya, mereka tidak akan melihatku; mereka takut kehilanganku lagi setelah nanti aku bertemu dengan pangeranku; mereka takut jika aku terluka dan meninggalkan mereka di sini untuk pergi lebih dulu.

Ide itu mungkin sangat sederhana; tetapi bisa melampaui motivasi apapun dalam psikologi yang terlalu canggih. Bahkan, untuk mengerti ide sesederhana ini, aku butuh 6 tahun. Betapa bodohnya aku. Bahwa mereka bukan ingin membatasi mimpiku, tetapi takut kehilangan anak-anaknya.

Seseorang pernah bilang bahwa impian terbesar setiap orang tua adalah melihat anak-anaknya terbangun tiap hari dengan wajah gembira dan tenang, hingga waktu mereka habis. Hanya itu. Apakah sulit? Tidak.

Setidaknya, jika aku yang pergi lebih dulu, semoga mereka ridho atas pemenuhan baktiku itu. Atau jika mereka pergi lebih dulu, mereka tenang karena mereka berhasil mendidikku agar mengutaman keberkahan setiap aktivitasku karena Allah. Dan dengan begitu, ridho mereka akan terus mengalir, bersama ridhoNya, membahagiakan kehidupan selanjutnya.

Maafkan aku, kedua malaikatku.

Advertisements