Di tengah zaman UAS serba penelitian dan makalah, kadang-kadang idealisme yang muncul untuk memberikan sumbangsih yang lebih bermanfaat dan realistis bagi masyarakat Indonesia terlalu menggebu-gebu.

Mengapa begitu? *seruput susu cokelat panas*

Aku mengambil konsentrasi di kajian budaya dengan alasan observasi budaya selalu menarik. Melihat fenomena-fenomena keseharian masyarakat dan bagaimana mereka bertahan hidup, seeing their way of life menurutku sangat berarti. Tetapi, aku lantas berpikir kembali, atas dasar manfaat apa yang bisa kuberikan seandainya observasi ini kulakukan?

Yang cukup menggangguku (sekaligus yang perlu diketahui) adalah, di Indonesia, jarak antara kaum akademisi dengan praktisi sangat jauh. Penyebabnya banyak; bahasa penelitian yang terlalu teoritis, konsep penelitian yang terlalu memperhatikan kondisi paling ideal, biaya yang tidak ekonomis, dan tetek bengek lainnya. Syukurlah, akhir-akhir ini mulai terkurangi dengan adanya riset gabungan dan inovasi bersama antara akademisi dan praktisi. Akan tetapi, kolaborasi tersebut baru terjadi pada dunia praktisi yang melibatkan teknologi (dengan produk berwujud materi).

Sebaliknya, mereka yang berkecimpung di dunia budaya, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial humaniora lainnya cenderung menghasilkan produk-produk abstrak (sekali lagi, selain yang bersentuhan dengan teknologi seperti media atau artefak). Pun jika ada produk paling konkrit, bentuk paling final adalah melalui gerakan atau komunitas. Namun para peneliti budaya dan humaniora lebih banyak dan sering menghasilkan tulisan dan teori. Ide. Kritik. Ironisnya, penelitian semacam ini hanya mandeg di meja dosen atau di rak-rak perpustakaan usang. Tapi kalau beruntung, media memuatnya dan menjadi diskursus di masyarakat. Setidaknya, dibaca massa dan sedikit-sedikit berbagi pengetahuan kepada mereka.

Masih di tengah kegamanganku mencari topik penelitian untuk UAS (ini belum skripsi); aku pun mendapati saran seorang sahabatku, “Dengan kamu meneliti apa yang dibicarakan orang banyak, itu juga sudah bermanfaat kok, Nis. Setidaknya, kamu memberikan ulasan yang lebih dalam atas apa yang dianggap wajar di masyarakat.”

Ah, jadi ingat tulisan yang kubuat beberapa waktu lalu soal pentingnya akademisi. Fungsi dari seorang akademisi adalah untuk menyibak alasan dari berbagai rasa, terutama rasa takut, di masyarakat dengan penelitiannya. Menembus rasa takut bukan perkara mudah karena membutuhkan ilmu, pengalaman, dan mental yang kuat. Menembus rasa takut berarti membukakan jalan untuk orang lain dalam menyelesaikan berbagai masalah masa kini maupun yang akan datang. Bahkan dalam beberapa kasus, menembus rasa takut berarti mengorbankan nyawa karena cuma Tuhan yang tahu takdir akademisi.

Baiklah, saatnya kembali bekerja. Susu cokelatku sudah dingin, terlalu lama menungguku menulis kegusaranku soal ini.

Advertisements