Yak, kali ini kelompok Youth Culture ku memilih komunitas yang lagi-lagi di luar lingkaran kami: komunitas break dance,

Bungkul Break In.

Setelah kenalan sama para cowok kece bermotor gede dari kalangan perlente beberapa episode yang lalu, kali ini kelas komunitasnya lebih beragam. Dengan hobi yang beda, ngapain? Nari.

Jadi, berawal dari kegiatan nongkrong minggu lalu di Bungkul buat survei, foto-foto sama satwa eksotis plus beli balon; Aping, Hida, dan aku berhasil menemukan satu komunitas yang mantap untuk dijadikan bahan penelitian. Sesuai perkiraan (ketika meneliti D’Bikerz lalu), mereka dengan senang hati menerima kunjungan singkat kami untuk kenalan lebih jauh.

Well, awalnya mas-mas nya agak canggung gimana gitu diajak kenalan cewek-cewek cantik nan alim kek kami bertiga. Tapi, ya setelah kami melakukan proper approach dengan sedikit latar belakang yang kami ketahui, kami berhasil dapet kontaknya Sofi (mas-mas pendiri komunitas Bungkul Break In) untuk janjian wawancara.

Dan Sabtu malam kemarin akhirnya tereksekusi dengan baik. Mau tau hasilnya? Check this out!

Jadi komunitas Bungkul Break In didirikan atas dasar cari temen buat latihan break dance bareng. Sekali lagi, nggak banyak orang yang berminat dengan tari ekstrim dan butuh kelenturan serta kekuatan fisik ini. Awalnya, hanya bertiga; yaitu Sofi, sama 2 mas-masnya yang lain (aku lupa namanya). Mereka pun saling menemukan di Facebook di tahun 2013. Mereka ketemuan dan segera kumpul di Skate Park sebelahnya Delta untuk latihan.

Nah, mereka berinisiatif untuk ngajak lebih banyak orang (dari yang pemula sampai yang ahli) untuk gabung di komunitasnya. Dari sini, mereka sampai membentuk struktur komunitas meski sebatas ketua, dan bikin kaos hingga 3 kali.

Nah, karena di Skate Park Monkasel sudah terlalu ramai dan nggak nyaman, mereka pun memutuskan pindah tempat latihan di taman Bungkul, pusat segala komunitas. Ngapain? Ya jelas latihan lah. Plus ngasih atraksi ke pengunjung Taman Bungkul setiap malam Minggu.

Mereka saling belajar antara satu sama lain dan nggak sungkan untuk berbagi teknik koreografinya dengan pemula. Meskipun para seniornya seperti Sofi menceritakan seringnya harus belajar otodidak dan mengalami kecelakaan fatal yang mengerikan (tulang keluar dari tubuh, patah leher, sesak napas, dll), mereka tetap dengan humble-nya share ke yang lain. Gaya yang diajarkan pun bervariasi, seperti free style, head spin, plus gaya lain yang aku belum paham sepenuhnya.

Meski begitu, mereka sering diundang untuk tampil di acara kampus, mall, dan masuk SBO TV (berkolaborasi dengan Surabaya Kedjang, komunitas B Boy senior di Surabaya). Apa yang dilakukan kalau mau tampil? Mereka latihan koreografi dulu, style, dan pengaturan kostum.

Uniknya, komunitas Bungkul Break In terbuka dan egaliter dengan siapapun (termasuk hijabers cantik kaya kami) untuk sekedar tanya-tanya sampai ikut latihan. Sekali latihan, mereka bisa disambangi sekitar 20 an dancer (cewek-cowok) dari berbagai usia dan latar belakang. Ada yang masih sekolah, kuliah, kerja, bahkan anak-anak. Kalau kata orang break dance identik dengan cowok; member cewek yang aktif di sini justru mematahkan pemeo itu. Bahkan minggu lalu katanya ada orang dari Korea Selatan yang ikut latihan bareng mereka pas liburan dan nongkrong di Bungkul.

Ditanya soal kenapa milih break dance, Sofi mengatakan, “Keren. Ini olahraga yang paling nggak butuh alat dan sekaligus bisa buat refreshing karena ada musiknya.” Eksistensinya ditemukan melalui break dance ini. It is like, you can break your limit through break dance.

image

Advertisements