Siapa sangka, di balik penampilan tenang seseorang; terdapat cerita yang begitu dahsyatnya mengguncang jiwa. Kalau kata Om Pram, manusia dibahas seperti apapun, tetap tidak akan pernah habis oleh rentangan kata.

Sore ini, setelah menemani seorang teman dari Brunei jalan-jalan sebentar di Royal Plaza; kami bertiga (aku, Tante Vila, & Mas Deka) meluncur ke kafe baru favoritku di sebelah perumahan Ketintang Permai; Arung Senja. Mereka agak ilfeel terus mencak-mencak waktu aku bilang “dekat” dan ternyata menurut mereka agak jauh. Hahaha, maap yak. Ternyata jauh-dekat itu tergantung perspektif memang.

Sambil menunggu segelas caffe latte plus bitter ballen disajikan; Deka memulai obrolannya soal Boston University, LPDP, IELTS, dan sejenisnya.

“Kamu tuh terlalu obses, Dek. Jangan gitu lah,” protes Tante. Yang diprotes malah nyengar-nyengir, bingung mau ngomong apa lagi. “Nggak ada topik soal keluarga, gitu?” sambungku. Masih juga menggeleng. Lama-lama, dia mulai cerita juga soal beberapa teman yang pernah se-program beasiswa dengan kami. Si R, J, dan K yang disinyalir punya masalah dengan kedua orang tuanya.

Si R, dia begitu hebat dan menjadi seorang calon profesor karena ternyata cerita hidupnya begitu nyeri. Ayahnya meninggal dan dia masih punya konflik dalam keluarganya. Si J, dia cowok supel yang bahkan sudah ketemu Taylor Swift untuk wawancara eksklusif dengannya. Tapi ternyata cerita keluarganya juga tak lebih baik dari si R. Si K sampai tidak mau menikah karena trauma dengan hubungan orang tuanya. Dan, selidik punya selidik, Deka juga mengalami hal yang serupa. Akhirnya, akupun sedikit membuka tentang masa laluku soal hidup 14 tahun tanpa sentuhan orang tuaku.

“Hah? Serius? Wah, cerita kalian kayak di TV-TV, ya. Aku kira kalian baik-baik saja; ternyata… di balik segala ambisiusitas itu ada sebabnya.” sambung Tante.

“Yaiyalah, kita semacam seperti punya desakan untuk berbuat hal yang lebih dengan segala luka itu.Ya, itulah kenapa akhirnya kita jadi punya target untuk diperjuangkan. Karena hidup kita tidak seperti orang lain, nggak kaya kamu, Vil.”

Ingin rasanya kutambahkan bahwa pencapaian target di atas rata-rata adalah bentuk defense mechanism positif (sublimasi) demi mengalihkan pikiran dari kecemasan-kecemasan yang kadang muncul dan mengganggu akibat bocornya alam bawah sadar kita karena reaksi-reaksi tertentu. Tapi entah kenapa aku lupa melakukannya.

“Oh, makanya hidupku juga santai. Sama orang tuaku ya, difasilitasi; mereka nggak pernah nuntut aku dapet nilai berapa. Bahkan sampai skripsiku mau kelar, mereka sudah nyiapin uang buat semester berikutnya. Lak yo ngawur seh,” tawa kami berderai-derai. Lantas tanpa debat, kami setuju bahwa tantangan membawa mereka yang berhasil bertahan pada jalan-jalan terang yang tidak semua orang bisa mencapainya. Mereka melanjutkan cerita di lembar baru dalam sebuah buku yang berisi kenangan pahit; tapi mereka bisa menulisnya dengan indah, seizinNya.

Ah sudah lama rasanya aku tidak berbincang tentang kehidupan. Benar, bahwa nahkoda yang hebat tidak dilahirkan dari lautan yang tenang. Harus ada badai, goncangan yang keras, makhluk buas yang mengancam, dan awan gelap untuk membuktikan ketangguhan sang nahkoda menyelamatkan kapalnya. Tentu saja ini bukan kerja yang leha-leha, kan?

Thanks guys, you made me very grateful tonight; despite many obstacles I had been through, I know it makes me even stronger. Thanks for our philosophical talk tonight. Because I realize that life does have secrets we never knew. Thus we can learn each other by listening, or feeling, or just knowing it for a while; see Allah’s hand just works out in every single of our destiny.

Advertisements