We are what we talk about.

Postingan ini masih kelanjutan dari postingan sebelumnya; tapi beda topik. Jadi, setelah menunggu cukup lama di KFC Royal Plaza di lantai 1, Mas Deka, Alex, plus Tante Vila baru muncul. Ooh, ternyata Alex mengira kami semua akan ngumpul di KFC daerah food court di lantai paling atasnya Royal. Tapi yaudahlah ya, karena sudah ketemu; Tante & Deka pesen makan dulu. Aku nemenin Alex ngobrol sambil nanya-nanya hidupnya, kuliahnya dia di Brunei sama liburannya di Jawa Timur.

Ya, sebenernya aku nggak berharap topik-topik berat bakal mendominasi pembicaraan kami karena kami semua di sini sedang dalam masa liburan. Jadi, ya kan mending cerita soal macetnya Surabaya atau soal film terbaru yang bakal rilis di 2016 atau rempongnya Alex di Tulungagung daripada harus ngasih deskripsi soal perbandingan sosial ekonomi antara Indonesia dan Brunei.

And, tadaaa…. it turned to be heavy conversation since Tante and Deka eventually joined on the table. Deka raised the research question prettily and Alex just answered it seriously. Laa… yah… dua anak ini. Akhirnya, mau nggak mau aku sama Tante Vila pun nimbrung soal pajak, inflasi, MEA, hegemoni yang mungkin dilakukan Sultan, pembangunan properti di Brunei vs di Indonesia, dan tetek bengek lainnya sampai debat seru di KFC. Luckily we did it in English; which I hoped most of people there didn’t notice what was actually being talked. Totally academic. Untung masih diselipi guyonan soal hubungannya Alex sama Finie yang ternyata berakhir sebagai teman biasa. Ffiuh…

Bukannya gak setuju sih, tapi aku ngerasa gak enak sama Alex karena dia lagi liburan di sini, seems like he escapes from his life for a moment. But for me personally, I really miss such conversation; because you know my topic with my girls in these recent days are so dominated with lovey-dovey future marriage stuffs which frequently get me tired and a bit hopeless. I needed some triggers and think tank partners to wake me up and boost my spirit to achieve something. I barely need that.

Nah, sedikit nguping di belakang dan di depan meja kami; sekelompok anak-anak kuliahan yang mungkin lagi hang out sama geng ceweknya -mirip dengan apa yang kulakukan sama anak-anak Power Ranger kalo lagi suntuk-; jelas… pembicaraan mereka nggak pernah jauh dari topik menggantung hubungan pribadi, make up, keuangan, dosen, sama keluarga. Tipikal cewek-cewek urban di Indonesia. Dan menurutku, topik-topik seperti ini berujung pada mengeluh tanpa solusi.

Jadi mikir sendiri… bener kalo Roosevelt pernah bilang,

Great minds talk about ideas,

Small minds talk about people.

Ini bukan menggeneralisasi kalo anak-anak muda di Indonesia nggak punya pemikiran yang bagus dan baik lho ya; cuma, kalo pemilihan topik sehari-hari masih seperti itu, jelas negara ini akan sangat lambat perkembangannya. Terlalu banyak mengeluh tanpa solusi yang pasti dan bisa langsung dieksekusi. Tapi, ada beberapa faktor yang belum bisa aku pastikan juga; soal frekuensi komunikasi, soal kedekatan antar persona, atau soal durasi mereka berbicara dan lingkungan tempat tinggal mereka.

Ya, setidaknya aku tau bahwa komposisi topik pribadi dengan pengembangan diri harus disesuaikan porsinya. Dengan siapa, kapan, di mana, dan bagaimana kita berbicara tentu saja mendefinisikan siapa kita sebenarnya. Di era MEA ini, Indonesia butuh anak-anak muda yang pemikirannya jauh ke depan, tetapi melangkah dengan pasti mulai sekarang.

Advertisements