Dunia ini sudah terlalu bising; entah itu bising dengan suara mesin yang rasanya semakin cepat dan menderu-deru atau bising dengan pencitraan manusia kebanyakan soal apa yang tidak bisa dibawa mati. Oh ya, aku lupa… dengan menulis ini; aku pun semakin menambah kebisingan dunia; tapi semoga kebisingan ini sedikit bermanfaat.

Malam ini aku sharing banyak hal dengan Mbak Dee, a night-night talk (literally meaning, borrowing the term from Fitz-Simmons in Agents of S.H.I.E.L.D series), seorang teman sekaligus kakak yang baru saja kukenal lewat program volunteering di Rumah Bahasa. Satu hal yang menarik selain soal beasiswa yang biasa kami bahas adalah value our every memory. Khusus night-night talk kali ini, kami hanya ingin ngobrol dan makan dengan nyaman, tidak terganggu oleh HP atau chat-chat dari media sosial yang terus saja tanpa henti berkicau.

Banyak studi dan penelitian yang sudah membahas soal dampak teknologi yang membuat kita semakin asing antara satu sama lainnya. Menurut ulasan profesor entah siapa itu namanya, manusia cenderung mengalami hiperkomunikasi beberapa tahun belakangan ini. Ya, jadi manusia lebih mudah berkomunikasi via elektronik ketimbang ngobrol secara langsung. Kita jadi lebih aktif dan atraktif di wall dan chat room daripada di forum diskusi; kita jadi lebih peduli via obrolan di grup daripada silaturahmi dengan kerabat dan sahabat kita; kita jadi lebih sulit dan bingung memikirkan apa yang mau dibicarakan dengan orang secara langsung daripada mengetik status di FB yang entah kenapa seperti semudah saat kita curhat; pernah mengalaminya?

The thing is, technology is our distraction. Aku setuju dengan pendapatnya McLuhan (*bukan nama salah satu artis boyband Korea) yang berkata bahwa teknologi mengubah cara otak kita bekerja; dan itu berarti teknologi pelan-pelan mengubah kehidupan kita. Di satu sisi, teknologi memang membantu kita mempermudah segalanya; tapi di sisi lain, teknologi juga mengurangi daya pikir otak kita. Inilah yang berujung pada kurangnya kemampuan kita untuk menghargai momen-momen bersama orang lain. Akibatnya, ketika kita makan dengan keluarga, sahabat, atau orang lain dan saat itu kita sedang mainan gadget; rasanya segala hal yang ingin kita lakukan bukan memperhatikan orang-orang yang ada di dekat kita; tapi memperhatikan dunia luar yang sepertinya sangat menarik; dan sebenarnya tidak terlalu esensial untuk kita. Selanjutnya jelas, komunikasi akan sedikit berantakan; kecuali kalau misalnya kita tipe orang-orang yang mudah mencari bahan pembicaraan dan membuat suasana kembali ceria.

Ya, dibandingkan dengan orang yang ada di dekat kita; yang mungkin kita sudah tau siapa dia; dunia luas di balik layar gadget jauh lebih menantang dan menarik untuk dijelajahi lebih jauh. That’s human. Normal. Everyone is a wanderer. Normal. Tapi, sekali lagi, kalau kita mampu menghargai momen kita dengan manusia lain; banyak hal yang bisa diceritakan, banyak hal yang bisa dibahas dan dibagi, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran.

Sesuai kata Om Pram; manusia tidak akan habis untuk diceritakan.
Mulailah dengan mengabaikan gadget kapanpun kita berkomunikasi dengan orang lain. Hati dan mata seseorang yang ada di dekat kita itu, menyimpan rahasia dan dunia yang jauh lebih indah daripada dunia ciptaan teknologi. Karena keduanya ciptaan Tuhan Yang Maha; sementara teknologi, tak sesentipun mampu menandingi kekuasaanNya yang begitu sempurna. Sesederhana itu.

Advertisements