Pagi ini, seorang bule bernama Ian R. dengan medoknya bilang “Opo iku?” kepada para peserta PTE Academic Presentation di Kelt Graha Family Surabaya. Logatnya yang separuh British separuh Suroboyoan sontak membuat beberapa mahasiswa yang beruntung dari berbagai kampus di Surabaya itu nggegek habis-habisan. Wajar, Ian yang masih setia jadi warga England tinggal di Indonesia sejak tahun 2002; 14 tahun.

Pertanyaannya adalah, kenapa Ian bisa sampai mengucapkan opo iku? Ceritanya, Ian itu “marah” plus kayanya “muak” melihat orang Indonesia berbondong-bondong ngambil tes IELTS sama TOEFL tapi nggak tau kalau ada tes alternatif yang lebih simpel, akurat, tajam dan terpercaya, plus aman: PTE Academic. Jujur saja, aku baru tahu kalau masalah sekuritas IELTS yang muahal itu pernah rusak reputasinya dan untuk yang mendapat versi amannya, peserta tes wajib membayar lebih supaya valid dan bisa digunakan sebagai persyaratan masuk ke kampus-kampus di luar negeri. Harga normalnya USD180; masih plus-plus kalau mau ambil yang level sekuritinya lebih tinggi.

 

Klik untuk terhubung dengan Web PTE Academic

 

Nah, Pearson; sebuah publishing company yang sangat terkenal di dunia (mis. Penguin Books, Longman, dll) juga mengeluarkan salah satu tes Bahasa Inggris yang menguji bagaimana kita berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Lalu, apa bedanya dengan tes IELTS dan TOEFL?

  1. PTE Academic menggunakan komputer; bahkan untuk sesi speaking nya juga dinilai melalui komputer. Mungkin kita akan bertanya; bagaimana komputer bisa menilai cara berbicara, akurasi, aksen, dan apapun terkait kemampuan berbicara kita? Menurut Ian, jadi dengan sistem secanggih sekarang, cara kita berbicara akan dibandingkan dengan koding native speaker dari ribuan aksen Bahasa Inggris di seluruh dunia yang telah dibuat oleh tim teknisi Pearson berdasarkan level-level tertentu. Pemilihan sistem computer based test ini untuk menjaga keobjektifan penilaian yang sedikit sulit ditentukan ketika sesi speaking di tes IELTS (pengujinya manusia biasa, yang kadang punya khilaf dan salah, dan moody).
  2. Tesnya terintegrasi dan model tesnya tidak berubah. Ini berlawanan sekali dengan TOEFL ITP/PBT atau iBT yang masih terpisah antara masing-masing komponen pengujiannya. Jadi, untuk tahu model tesnya, buka simulasi gratisnya di Youtube dengan kata kunci: PTE Academic. Whoa, it’s totally free from the official testing center. Ah iya, komponen yang diuji adalah: Speaking+Writing, Reading, dan Listening. Sekilas mungkin sama; tapi menurutku, dua tes ini Read Aloud dan Dictation menarik. Kok, disuruh baca keras-keras, emang kita bodoh banget sampai harus tes baca? Oh hey… jangan remehkan kemampuan membaca. Kita dikatakan mahir membaca kalau kita mampu menangkap pesan dalam bacaan; artinya kita sudah tidak membaca seperti anak kecil yang sekedar baca. See? Atau menulis ulang kalimat yang kita dengar dari seorang native speaker dengan kecepatan normal sesuai dengan apa yang ia ucapkan tanpa kehilangan atau kelebihan satu kata pun! Now, we have to listen, not just hearing.
  3. Hasil tes PTE Academic bisa diketahui paling lambat 5 hari kerja. Tapi kata Ian, rata-rata hasil tesnya bisa dilihat sebelum 48 jam. Dan komponen penilaiannya juga menggunakan range 0-90. Bisa dikonversikan ke nilai CEFR. Cocok buat orang Indonesia yang sukanya, “Saya pergi ke Australia bulan depan. Butuh tes yang cepet dan akurat.” Oiya, durasi tesnya 3 jam dan sekuritinya amat, sangat ketat. Bayangin, di ruang tesnya, tiap orang ada CCTVnya yang langsung didatangkan dari London. Fully certified. Okay. to be continued.

Buka linknya di sini ya untuk belajar simulasi tesnya!

Advertisements