Jadi ini merupakan bentuk implikasi dari keruwetanku dalam mengerjakan proposal skripsi yang padahal cuma 3 – 4 halaman itu.

Jika kau tanya apa bidangku, konsentrasiku adalah cultural studies. Terdengar baru? Ya. Sangat baru di Indonesia. Tapi mungkin kalau aku bilang Sastra Inggris, jawaban itu mungkin terlalu mainstream dan kau akan jatuh meremehkanku, menganggapku berkuliah “pada tempat kuliah yang mengajariku seperti tempat kursus bahasa Inggris biasa”. Tepat sekali, aku memilih jawaban Cultural Studies karena ku ingin kau tak meremehkanku.

Lalu, apa yang aku pelajari? Secara umum, aku hanya belajar 3 hal; identitas, ideologi, dan budaya. Selalu berputar-putar dalam kerangka itu. Tapi entah mengapa para akademisi cultural studies macam Rousseau, Hall, Foucault, atau Heidegger, atau bahkan Marx terlalu meruwetkannya lewat berbagai macam cara. Mereka adalah para konseptor handal. Kami sangat pandai mempersoalkan hal-hal yang bahkan sangat sederhana dan pragmatis menjadi sangat kompleks.

Jadi jangan heran jika kita sedang asyik-asyiknya nonton film Civil War, aku akan iseng bertanya, kok bisa sih cuma si Natasya masuk tim superheronya si Cap? Sutradaranya pingin mengklaim isu feminisme kah? Atau, eh ada gak ya superhero yang gay? Dan mungkin kau akan menganggapku berisik atau bahkan menoleh dengan tatapan tak paham nan kosong; lalu memintaku untuk diam saja sepanjang film diputar.

Atau, misalnya kita sedang santai di kafe langganan kita yang interiornya, atmosfirnya, masakannya, namanya, hingga lokasinya sangat “instagram”-able, macam Arung Senja (contoh aja sih, bukan promosi merk, tapi kafe ini contoh yang sempurna). Ng, maksudku, kalau kita foto di tempat itu dan kemudian diunggah di instagram, banyak yang akan memencet tombol ♥ di foto kita. Jelas, aku akan bertanya, apakah gaya hidup kelas menengah sekarang pindah ke kafe? Apa filosofi kopi untuk kaum kelas menengah ini? Benarkah di era postmodern ini kelas-kelas sosial memang sudah tidak lagi tersekat-sekat hanya karena kaum kaya dan papa berkumpul di satu tempat?

Atau bahkan bagaimana pilihan tempat toilet yang bisa mengekspresikan bentuk nasionalismemu; melalui discourse analysis dan dekonstruksi kata. Ya, isu toilet di Jepang menjadi bahasanku dalam tugas mata kuliah CCCS (contemporary critical and cultural studies). Tapi kurasa aku tidak membawa bukti dan bahasan yang cukup dalam, ah tapi biarlah dosenku yang menilai.

Begitulah; setelah kuamati, dan kupikir dengan kritis, segala bentuk keisengan ini sebenarnya bersumber dari pemikiran Derrida yang dekonstruktif. Apa itu? Segalanya adalah ketidakstabilan. Dan ketidakstabilan ini juga berlaku pada setiap argumen serta interpretasi atau meaning-making process yang kita lakukan. Jadi, jika aku menginterpretasi A adalah A, aku benar. Jika kau mengartikan A adalah B, kau juga benar. Atau jika si Z menginterpretasikan A adalah dirinya, dia juga benar. Kau setuju? Tidak juga tidak apa-apa.

Tapi, keburukan dari pemikiran Derrida ini (yang menjadi pangkal dari posmodernisme) adalah relativitas yang tidak terbatas; yang bisa saja membenarkan semua pendapat serta interpretasi sehingga tidak ada satu pijakan pasti atau kebenaran mutlak. Siapa saja bisa benar, asal didukung dengan argumentasi logis yang kuat dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Tapi, sejauh mana kita bisa mengukur bahwa argumentasi itu logis dan kuat? Sejauh mana itu bisa dipertanggungjawabkan? Sejujurnya, belum ada alat ukur yang pas; sementara ini hermeneutik masih sahih digunakan untuk mengukur kekuatan akal ini.

Hm, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika mahasiswa-mahasiswa jurusan hukum mempelajari ini; bisa-bisa jurusan mereka ditutup karena menganut paham yang terlalu relatif ini. Ah iya, besok-besok aku ingin mengkritik Derrida saja kalau sudah Ph.D. Dia tidak melihat akibatnya di masa kini, orang-orang jadi gampang curiga dengan yang lain; isu-isu rasialisme, xenofobia, dan terkait identitas lainnya justru semakin berkembang. Memang benar jika ratusan tahun yang lalu Derrida mengusulkan ini untuk melakukan kritik sosial karena media belum secanggih sekarang. Tapi semenjak teknologi berkembang dengan sangat cepat, dan segalanya menjadi transparan, teori ini justru bisa memicu perang; karena setiap orang bisa bersikeras dengan interpretasi dan argumennya. Mereka yang berambisi kuat menguasai dunia (kupikir ini hanya terjadi di film Power Ranger), menggunakan pola pikir seperti ini untuk mengacak-acak berbagai negara melalui pembenaran tindakannya melakukan penyerangan di negara-negara itu.

Contohnya, tragedi bom di Hiroshima. Itu sebenarnya tindak lanjut dari sebuah proyek akademisi untuk mengetahui efektivitas dan kekuatan bom. Konyol bukan? Dengan memanfaatkan konteks kondisi AS dan Jepang yang sedang perang, tindakan pengeboman itu bisa jadi benar. Ah, si Derrida ini.

Rupanya, keisengan ini dampaknya serius juga ya? Sudahlah, aku akan melanjutkan menulis proposal skripsiku yang temanya belum sedahsyat skripsinya Derrida. Doakan aku lulus semester depan dengan segala keisengan yang kuciptakan ini.

Advertisements