Once upon a time…

begitulah cerita ala-ala princess dimulai. Tetapi beberapa hari terakhir, banyak cerita princess di sekitarku; entah via sosmed atau di dunia maya. Yap, pernikahan; di mana seorang wanita menyamar sehari menjadi seorang princess nan cantik jelita, didampingi oleh pangeran berkuda putihnya. *keliatan banget kebanyakan nonton film Disney dan masih termakan ideologi latennya*

nah, daripada #baper doang karena masih belum waktunya, aku memilih untuk (lagi-lagi) penasaran bagaimana para pasangan ini “menyatu”. Ada tiga cerita; dan ketiganya membuatku kagum sekaligus takjub menyaksikan Allah menyatukan ketiga mempelai ini.

cerita pertama; tentang pernikahan yang tidak direncanakan sama sekali; tapi tiba-tiba terlaksana dengan penuh barakah dan hikmat karena didasarkan atas keyakinan mutlak akan takdirNya. Ia adalah sepupu salah satu temanku; kami pernah menjalin kontak, tapi tidak lama. Si akhwat ini “tiba-tiba” saja di-SMS oleh seseorang yang ternyata sudah lama stalking ; meminangnya; dan mempertimbangkan matang-matang keputusannya. Setelah shalat istikhoroh dan berkonsultasi dengan keluarga, si akhwat setuju dan mereka pun menikah.

cerita kedua; ini tentang pernikahan kakak sahabatku. Dulunya, sang kakak pernah beberapa mengalami kisah getir soal hubungan dekatnya dengan seseorang. Tetapi, setelah ia fokuskan untuk melakukan hal baik, ridho, dan bersabar atas apa yang digariskan; akhirnya,  ia menemukan seorang bidadari jelita, hafidzhah, dan putri salah seorang ulama. Santun dan halus akhlaknya; cerdas; dan berpendidikan tinggi. Keluarganya pun terhormat. Lantas mereka menikah dengan penuh keharuan, penuh kejutan, serta barakah.

cerita ketiga; tentang pernikahan yang diidam-idamkan. Mereka berdua adalah teman sekelasku ketika SD. Entah bagaimana, mereka dekat semenjak satu tahun yang lalu. Keduanya bertemu setiap hari, saling berkabar, chatting, dan dating. Kali ini, terkesan agak sedikit terpaksa; meskipun mereka mengidamkannya. Tetapi, sepertinya ada yang kurang.

cerita yang pertama dan kedua; mungkin terasa sakit di awal; tetapi manis di akhirnya. kedua pasangan itu saling menemukan setelah perjalanan panjang mereka dengan dirinya masing-masing yang mungkin penuh luka, penuh tangis, tapi juga tawa. Lantas mereka belajar; dan memahami bahwa hati akan kembali pada pemiliknya; sejauh apapun ia pergi; sejauh apapun ia dipisahkan. Maka bagi mereka, lebih baik menyendiri hingga gilirannya terpenuhi; datang sebagai kejutan yang indah, saat Allah menilai mereka siap.

cerita yang ketiga; mungkin terasa indah di awal; tetapi agak hambar di akhirnya. Pernikahan idaman itu terlaksana; hanya saja tidak semua orang berbahagia. Dari mana aku tahu? Kupikir itu tidak perlu diceritakan, tetapi begitulah. Keduanya bertemu; tetapi akhirnya tidak menjadi kejutan yang ditunggu-tunggu.

Ah, begitulah, kenapa Disney tidak memberikan jangka waktu yang terlalu lama bagi sang pangeran dan putri untuk menikah; sejak perkenalannya. Karena waktu perkenalan yang terlalu lama, justru membuat kisah setelah happy forever ever after menjadi sedikit hambar dan tidak menarik. Dan, Disney tidak pernah sengaja menampilkan sang pangeran dan putri berada terlalu lama dalam ketidakpastian sesi perkenalan. Karena hidup justru lebih tampak indah dengan hadirnya kejutan spontan.

Advertisements