Kepercayaan orang-orang tua di Jawa zaman dahulu adalah memintakan melati yang dikenakan pasangan pengantin sebagai (mungkin) katarsis supaya putri perempuannya yang masih lajang cepat menikah.

It is kind of superstitious thingy, as if in the Western countries, a single guest who could catch the flower bucket thrown by the bride would hopefully marry soon.

Nah, kemarin salah seorang saudaraku menikah, dan kami pun bertandang ke rumahnya. Mbah uti, tentu saja memintakan melati sang pengantin untukku. Tadaaa… Ternyata melatinya dibungkus cantik di keranjang-keranjang mini yang cocok jadi pajangan, jadi gampang dibawa pulang. Padahal, biasanya dironce untuk dipakai pengantin… Tak apalah, kalo begini kan, bisa buat hiasan toh…

Akhirnya setelah nyampe rumah dan berkutat kembali dengan skripsi, keranjang mini berisi melati ini kuletakkan di atas tumpukan buku, jurnal, laptop, dan tetek bengek lain berbau akademis. Ya…. Semoga semua benda ini menjadi harum, dan siapa tau dia yang entah siapa itu yang ditakdirkan untukku segera datang ke rumahku karena mencium bau melati ini. Hihihi.

image

Advertisements