Selama sebulan terakhir ini, aku dipanggil Mbak Yu oleh kawan-kawan KKN ku. Dimulai dari si Pebri dan Ranci, duo Batak yang tiap hari tidur sekamar denganku, se posko pun ikut-ikutan memanggilku dengan nama serupa.

Akibatnya, alam bawah sadarku pun merespon dengan ketahanan emosi yang luar biasa. Terminologi Mbak Yu dalam bahasa Jawa secara jelas menggambarkan peran seorang yang lebih tua, yang harus mampu mengayomi yang lebih muda. Meskipun secara usia, aku lebih muda dari mereka.

Menghadapi tiap pribadi mereka yang berasal dari suku selain Jawa seringkali membuatku tak mengerti, uring-uringan, jengkel, lelah, dan sebagainya. Terlalu banyak sesuatu yang berbeda dari batad kewajaran masyarakat sekitar rumahku. Tapi ajaib, panggilan Mbak Yu berhasil membuatku lebih sabar, lebih telaten, lebih nriman.

Padahal, aku tahu, itu adalah versi lain diriku. Tapi aku bersyukur, bahwa panggilan Mbak Yu justru mengubahku menjadi manusia yang baru, yang lebih mampu mengontrol ego dan emosi sesaat. Terima kasih ya kawan, sudah membantuku menemukan aku yang baru.

Advertisements