Seorang filsuf estetika, Walter Benjamin, pernah berkata, “Ketika manusia sudah mulai mengkonsumsi karya seni (cetakan industri budaya) populer, mereka akan kehilangan kenikmatan menyaksikan karya berkualitas yang masih penuh dengan aura di dalamnya.”

Malam itu, aku dikompori seorang senior progresif untuk menemaninya datang menemui Mbak Reda. Sejak pertama kali memberikan poster acara via Whatsapp, dia gembira bukan main karena akhirnya bisa reunian dengan Mbak Reda setelah sekian lama. Tapi tetap saja, aku masih clueless, who is this woman.

“Itu lho, AriReda. Yang bikin musikalisasi puisinya Sapardi.” 

Merekognisi kata Sapardi Djoko Damono sebagai salah satu sastrawan terbesar di Indonesia, naluri ketertarikanku sebagai anak sastra langsung bangkit. Ah, it must be something related with literature and classy stuff.

“Wah, pasti keren, Mbak!” 

Tak butuh waktu lama untukku mengetik nama AriReda di Youtube dan Instagram. Aku mendapatkan video AriReda sedang membawakan puisi Sapardi yang terkenal se-jagad Indonesia, Hujan Bulan Juni dengan alunan musik akustik yang lembut, tapi menggugah. Pun di Instagram, alih-alih mendapatkan akun Mbak Reda, aku tertumbuk pada akun IG Nadine Chandrawinata yang menceritakan pertemuannya dengan Mas Ari dan Mbak Reda di suatu acara. Artis yang akhir-akhir ini sibuk menjadi petualang tersebut tak henti-hentinya memuji karya mereka berdua dengan kata-kata “suara teduh, alunan indah” dan semacamnya. 

Selama ini, aku adalah penikmat musik-musik mainstream yang populer pada jamannya, tapi aku juga tak seberapa suka lagu-lagu sekarang yang liriknya (kebanyakan) tak berbobot dan terlalu vulgar. Aku juga tak belajar begitu dalam soal musik, meskipun itu adalah salah satu bentuk seni; setidaknya aku sedikit tahu soal mana musik yang bagus untuk dinikmati. Nah, mendengarkan musikalisasi puisi ala AriReda adalah sesuatu yang baru buatku, dan aku punya feeling, konser malam itu akan menakjubkan!

Dulu aku juga pernah melakukan musikalisasi puisi di kelas 9 & 10. Meskipun aku melakukannya karena guruku memberi tugas, entah kenapa aku jadi suka perpaduan antara musik dan puisi. Keduanya menyatukan tiga elemen yang berbeda; kata, suara, dan rasa. Puisinya jadi lebih cepat meresap dan mudah dimengerti, sementara musiknya punya lirik yang bermakna, tak sekedar nyanyian biasa. Tapi ya namanya tugas anak sekolah, musikalisasi pun dilakukan ala kadarnya, dan guruku oke-oke saja dengan variasi puisi ala kelompokku. Di sinilah kesan pertamaku terhadap musikalisasi puisi, hingga aku mendengar suara berbeda dari musik yang dibawakan AriReda, dengan rasa yang semakin kaya!

Kembali ke masa kini. Jadi, kami berdua telah datang bahkan sejak sebelum acara dimulai. Seniorku itu berharap supaya bisa menemui Mbak Reda in person dan ngobrol banyak dengannya. Aku sih, manut saja. Tapi ternyata, AriReda memang baru hadir di depan kami 10 menit menjelang waktu tampil mereka. Begitu ada Mbak Reda, seniorku itu langsung menghampiri, memeluk, sekaligus mencak-mencak kegirangan. Dan, hal yang kurang lebih sama dilakukan Mbak Reda. Mereka pun ngobrol tanpa henti, sampai akhirnya diminta salah satu kru untuk bersiap manggung. Kesan pertamaku, Mbak Reda orangnya jauh dari ngartis dan pasti termasuk orang-orang dinamis yang manis. Aku dibuat penasaran dengan latar belakang mereka di luar identitas mereka sebagai seniman.

Tak lama, Mas Ari dan Mbak Reda naik ke panggung. Mas Ari sudah siap dengan gitar akustiknya, Mbak Reda dengan buku teks puisinya. Tampilan mereka sederhana saja; nuansa hitam elegan, tapi tetap chic dikenakan. Rupanya, Mbak Reda tak suka jauh dengan audiensnya. Diajaknya kami semua maju satu cm sampai ke depan panggung, hal yang tak dilakukan band-band lain pengisi acara malam itu. Tentu saja, dengan senang hati kami melakukannya. 

Seperti biasa, mereka memperkenalkan diri, mencoba menjawab penasaran anak-anak muda di depan mereka. Ternyata, Mbak Reda adalah salah satu mahasiswi Sastra Perancis UI di tahun 1980-an, yang juga menjadi mahasiswi Pak Sapardi. Sementara Mas Ari adalah penikmat sastra yang dengan senang hati mewujudkan mimpi Pak Sapardi untuk memperkenalkan puisi kepada masyarakat dalam proyek musikalisasi puisi di zaman itu. 

Jadi, bisa dibayangkan lah, berapa usia para sesepuh ini sekarang. Aku salut dengan semangat mereka yang tak berhenti berkarya di usia yang seharusnya menikmati kemapanan seperti beliau. 

Tanpa banyak basa-basi lagi, Mbak Reda mulai memberikan pernyataan di awal lagu tentang puisi yang akan dinyanyikannya. Aku berharap lagu pertama adalah Hujan Bulan Juni, tapi ternyata yang terpilih adalah puisi berjudul Gadis Peminta-minta; aku pernah membacanya ketika sedang mengerjakan UN SMA. Mendengarkan suara teduh (aku setuju dengan istilah Nadine) Mbak Reda serasa melihat langsung kehidupan gadis kecil yang diceritakannya dalam puisi. Nyata. Ada. Tau kan, rasanya ingin menangis di depan anak kecil tapi di sisi lain, ada rasa untuk membuatnya tetap tegar? Begitulah. 

Apakah ngantuk mendengarkan musik ini? Sama sekali nggak ada ngantuk. Sama ketika aku mendengarkan River Flows in You atau Kiss The Rain nya Yiruma; bukan ngantuk yang kudapat. Baper iya…. 

Cuma ada yang aneh dengan reaksi orang-orang sekitar. Dari awal band pembuka, banyak yang matanya tak fokus dengan penampil di depan. Bahkan, tepuk tangan terasa canggung. Segala bentuk gadget (Smartphone, kamera digital, go pro, DSLR, tele) berseliweran untuk mengambil momen-momen langka yang kerap terjadi saat waktunya tak terduga. Bukan malah menikmati konser dan musiknya… 

Hal yang berbeda terjadi sejak Mbak Reda meminta penonton maju agar lebih dekat dan hampir tak berjarak. Semuanya terbius dengan dentingan gitar akustik Mas Ari, suara bening Mbak Reda, dan lirik-lirik indah para sastrawan dalam puisi. Meskipun banyak di antara wajah-wajah ini yang tak mengerti (mungkin mereka juga sudah biasa dan suka  aliran mainstream) dengan maknanya, tapi setidaknya kami mencoba mengapresiasi musik sejujur-jujurnya dengan cara sepenuhnya fokus pada sang penampil. AriReda telah berhasil mengajak kami untuk “merasakan lebih dalam” dan “lebih peka” dengan “yang terlihat biasa”.

Di sini aku baru paham, apa makna perkataan Walter Benjamin di atas. Bahwa “aura” suatu karya seni, akan terlihat dan terasa dalam bentuk aslinya. Tentu saja berbeda dengan jika kita menikmati musik atau karya seni laiannya via media apapun. Menikmati secara langsung dan di tempat yang tepat memang memberikan sensasi tersendiri, dengan keberadaan ruang dan waktu yang khusus. Ia menciptakan pengalaman yang nantinya menjadi memori-memori kita. Mungkin bisa diceritakan, untuk memberi pelajaran di masa depan yang mungkin akan semakin cepat dan dinamis. 

Mungkin, generasi depan sudah tak tau lagi, betapa asyiknya menikmati karya klasik secara live, atau bagaimana serunya bertemu para seniman secara langsung dan bertukr pikiran dengan mereka; seiring dengan semakin berkembangnya teknologi media dan mudahnya industrialisasi budaya. (Maaf topiknua tetiba berat). 

Semoga kelak mereka masih diberikan kesempatan untuk mendengarkan dan menikmati seni yang berkualitas yang tak cuma mementingkan kuantitas atau penggemar. Tapi seni yang benar-benar dilahirkan dari kegelisahan hati para penciptanya, yang biasanya menjadi jawaban pemenuhan jiwa.

Advertisements