Dulu sekali, aku pernah bertemu dengan seorang anak perempuan yang cerdas, baik hati, dan shalihah. Hingga orang tua teman-teman lelakinya ingin menjadikannya calon menantu mereka di masa depan. 

Kenapa bisa begitu?

Dia adalah gadis yang manis; jawaban tegas dengan pandangan yang luas membuat banyak orang terkagum. Saat itu, memang belum ada internet, tapi ia adalah seorang kutu buku kelas wahid. Dari biografi Rasulullah, ilmuwan dunia, hingga novel Harry Potter serta DaVinci Code tandas dibacanya. Karena itu, dia menjadi gadis yang tak malu bertanya dan menjawab pertanyaan, atau mengusulkan jawaban yang benar dengan bukti saat ia tahu orang lain melakukan hal yang salah.

Ia suka bernyanyi dan bermain musik. Lagu favoritnya adalah lagu-lagu Siti Nurhaliza dan Rossa. Warna suara mereka mewarnai hari-hari gadis itu. Ternyata, dia dulu pandai menari; dari tari tradisional hingga tari modern. Ia pandai sekali, hingga ia pernah berpikir bahwa kelak, ia akan menjadi penari saja. Tentang menari, suatu saat dia cerita bahwa hanya dialah yang bisa melakukan gerakan kepala sesuai instruksi guru tari di sekolahnya, hingga ia didapuk sebagai asisten tari untuk mengajari teman-temannya. Senyumnya mengembang dan matanya bersinar-sinar saat ia menceritakannya padaku. Ah, ia juga suka mengkombinasikan nada dari tuts-tuts keyboard dengan jemari pendeknya. Jadi, selagi ada kesempatan, dia mengiringiku dengan melodinya saat aku tiba-tiba mendendangkan sebuah lagu. Hebat kan, dia… Bisa membaca nada suaraku. 

Tapi, jangan salah. Meski begitu, gadis ini juga pandai melantunkan shalawat dan ayat suci Al-Quran. Shalatnya selalu tepat waktu, di masjid pula. Ustadz dan ustadzahnya sering terkesima dengan bacaan tajwidnya yang mendekati sempurna. Karena itulah, dia diminta menjadi lead vocal shalawat di TPA nya. Ia selalu di peringkat teratas kelas mendaras Quran, dan duduk paling depan saat kelas Ta’lim. Di sekolah, saat teman-temannya masih belajar Iqro’, dia sudah lancar membaca Quran dengan tilawah dan tajwid.

Ah ya, dia adalah sang ketua kelas yang selalu juara kelas. Dia sering jadi juara olimpiade mata pelajaran matematika, sains, dan bahasa Inggris. Dia agak komplain soal guru-gurunya sering usul kepada orang tuanya untuk mengadakan “selamatan” setiap pasca lomba. “Uang hadiahku kan akan berkurang…”, katanya. Aku tertawa, kubilang “Tidak. Itu namanya sedekah, dan itu akan membuat hartamu semakin berkah”.  Dia juga percaya, bahwa kemampuan berbahasa asing itu akan membawanya pergi ke tempat-tempat di buku yang dibacanya. Suatu hari.

Untuk itu, dia harus mempersiapkan ketrampilan hidup yang diasah lewat Pramuka. Dia adalah ketua regu Anggrek 3. Ia selalu memastikan bahwa setiap anggota bekerja sesuai kemampuannya untuk mencapai tujuan bersama; tak jarang, regunya acapkali unggul dibanding yang lain. Tapi, jika ada seseorang yang kesulitan, ia tak ragu membantunya.

Lalu, karena suatu dan lain hal; aku harus pergi meninggalkannya sendirian. Tapi aku berjanji padanya untuk kembali dan mendengar kisah lengkapnya. Dia pun berkata, “Kalau kau kembali, aku ingin kau mendengar kisah cintaku.” Ya, gadis seusianya sudah bisa merasakan perasaan itu. Baiklah. Aku pun mengucapkan salam perpisahan padanya. Dia melambaikan tangan padaku.

Sekarang, waktuku sudah agak longgar, dan aku rindu sekali padanya. Aku ingin mendengar ceritanya lagi. Kuhampiri ia. Tapi, ke mana perginya? Mungkinkah dia sembunyi?

Sungguh, aku ingin bertemu dengannya.

Advertisements