Stephen R. Covey, dalam bukunya the 7th Habits of Effective People menyatakan bahwa

“We listen to reply, not to understand”

Kita mendengar untuk membalas, bukan untuk mengerti maksud orang lain.

Akhirnya aku paham dari kasus berikut. Suatu hari, beberapa teman dan juniorku sedang membahas salah satu kegiatan rutinan kampus yang cukup krusial. Aku sudah tak mau diundang karena merasa tak berhubungan dan punya sentimen yang cukup negatif atas acara itu. Aku tak mau menciptakan konflik kedua nanti. Tapi, kedua temanku memohon hingga aku segan menolaknya.

Di waktu yang ditentukan, kami berkumpul. Dari awal, aku berusaha tak terlalu ikut campur karena karakter juniorku, entah, memang sangat berinisiatif dan agak sulit menerima pendapat senior. Pun, begitu dengan kedua temanku. Toh, semester depan kami sudah wisuda, terlalu campur tangan akan dilihat sebagai bentuk meremehkan mereka, bukan? Tibalah membahas sesuatu yang sensitif: pelayanan pada senior saat kegiatan tersebut berlangsung.

Aku menyampaikan beberapa kekurangan juniorku dari kacamata senior angkatanku. Aku mendeskripsikan cara mereka menghubungi senior, melakukan briefing senior, hingga menyambut senior ketika hari H; dan itu banyak menimbulkan salah paham dan kekecewaan pada senior. Aku menjelaskan kenapa itu terjadi menurut sudut pandang senior.

Tapi, kemudian salah seorang juniorku membalas dengan melakukan pembelaan atas dasar efekfivitas tindakan mereka. Berdasarkan masalah yang mereka alami, tekanan yang mereka rasakan, dan sudut pandang mereka. Tak kusangka, aku juga langsung menyahut begitu saja dengan membandingkan apa yang dulu dikerjakan angkatanku dengan apa yang mereka kerjakan. Nada dan volume suaraku naik tanpa kusadari. Aku mulai bersikap emosional dan defensif. Aku mengungkapkan itu supaya para juniorku mendapatkan referensi yang lebih efektif ketimbang apa yang mereka lakukan; tapi alih-alih ditangkap sebagai acuan solusi, perbandingan itu malah memicu debat antara kami. Debat mengalir begitu saja antara aku dan beberapa junior, sementara dua temanku yang lain diam, mungkin mereka sudah paham pola pikir mereka dan sudah terlibat debat sebelumnya.

Hingga akhirnya, junior lain mengatakan ini dengan nada yang masih emosional, “Jangan membandingkan. Pilih saja yang paling efektif.” Aku tiba-tiba sadar bahwa kami tidak satu frekuensi dan kami hanya mendengar untuk membalas berdasarkan sudut pandang kami masing-masing, bukan berusaha mengerti dari sudut pandang orang lain. Jika begini terus, tentu tak akan ketemu solusinya. Begitu sadar, aku segera mengakui kesalahan yang kubuat dan menarik diri dari perdebatan itu. Lalu, moderator mengambil alih situasi dan mulai membahas solusi dengan lebih tenang dan adil.

Rupanya Covey benar, hanya sedikit manusia yang berani mendengar untuk mengerti. Listen to understand is much more difficult because we push our ego to let one’s ego intervene us. But, that’s what the real leaders and effective people do to make a solution.

Advertisements