Salah satu kebiasaan unikku saat ini adalah jalan-jalan malam mengitari beberapa ruas jalan utama di Surabaya bersama Mbak Dee. Tentu saja ini bukan jalan-jalan biasa yang hampa; tapi adalah sesi belajarku di luar kelas tentang apapun. Mulai soal dunia pasca kampus, dunia dewasa, dunia percintaan, hingga sedikit ke dunia relijius. Bersama Mbak Dee, aku menemukan sosok yang bisa kuajak berdiskusi dengan sudut pandang yang lebih luas. Dia telah bertemu dengan bermacam wajah orang dari seluruh nusantara dan luar negeri. Bisa dikatakan, Mbak Dee adalah mentorku, selain Pak Riyo, atau Mbak Euis, atau Mbak Dian.

Jalan-jalan malam pun merupakan agenda yang mengasyikkan karena aku bisa bertukar pikiran, meski kaki lumayan capek.

Start dari Rumah Bahasa setelah Maghrib, kami menapaki trotoar sambil mengamati, kadang juga mengambil foto di beberapa sudut Kota Surabaya. Menjadi turis di kota sendiri rupanya lumayan mengasyikkan, mencoba mengeja kehidupan urban yang berlalu terlalu dinamis. Kesamaan kami soal ketertarikan pada media dan segala kompleksitasnya, serta aktivitas pendampingan masyarakat membuat kami betah ngobrol, bertukar pikiran selama perjalanan. Inilah barangkali yang disebut sebagai belajar sambil jalan.

Malam ini temanya adalah cerita soal bangunan tua yang telah beralih fungsi, kerja di media, dan perspektif masing-masing soal demo 4/11. Rutenya adalah dari Jalan Urip Sumoharjo kemudian putar balik ke Jalan Basuki Rahmat, lalu memotong ke arah Coffee Toffee Taman Prestasi. Sudah biasa kulewati memang, tapi tak pernah dalam langkah yang lambat dan penuh perhatian mengenai gedung-gedung di sebelah kanan atau kiri jalan. Cerita tentang gedung-gedung kuno di pusat kota Surabaya memang penuh kisah mistis dan Mbak Dee cukup tau gedung mana saja, as always. Yang kami lakukan hanyalah melewatinya sambil kasak-kusuk soal nasib gedung yang kadang dibiarkan atau malah dibeli investor untuk dirombak menjadi tempat usaha, tak berani mengambil fotonya.

Dari sini, menyambunglah kami dengan cerita soal kehidupan pasca kampus yang terhubung pada topik proyek kerja di media. Mau tak mau, Mbak Dee membeberkan saat dia menjadi wartawan salah satu koran dengan oplah terbesar di negeri ini. Yang, tentu saja, ritme kerjanya sesuai dengan ideologi serta idealisme tempat kerjanya, tapi sayangnya tak selaras dengan idealisme dirinya. Lalu, tak ingin aku tahu secara parsial, Mbak Dee memaparkan cerita soal seniornya yang kerja di salah satu harian yang “lebih serius” dan “lebih akademik”, sebagai alternatif jika aku ingin meneruskan karir di industri media. 

“Masuklah di media yang tepat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang idealis. Karena dengan begitu, kamu akan punya sudut pandang yang lebih luas, daripada sekedar mengamini agenda mediamu,” begitulah kata Mbak Dee. Atau dengan kata lain, jangan ulangi kesalahanku untuk masuk di media yang salah. 

Tetap saja, aku merasa bahwa aku khawatir jika harus bekerja di media yang cukup kritis, karena itu mungkin akan melawan dogma agama yang sudah kupercayai. Tapi kemudian, Mbak Dee menyuruhku untuk membaca ulang Al Quran, hadits, dengan lebih teliti dan berkonsultasi pada para ahli agama (ustadz/ah) yang berpandangan “kontekstual”, Cak Nun atau al-Ghazali misalnya.

Dari situlah, kemudian kami sepakat jika agama Islam menyuruh kami agar lebih kritis dalam memaknai narasi Quran, yakni jalan orang-orang yang telah diberikan nikmat pada mereka. Sepakat bahwa bahasa Quran adalah bahasa “kasih” seperti arti kata Islam sendiri, “selamat”. Ah, ini mengingatkanku akan tujuan para tokoh dalam kisah 99 Cahaya di Langit Eropa; untuk menjadi agen Muslim yang baik.

Termasuk tentang peristiwa 4/11 di Jakarta; Mbak Dee berpendapat bahwa sebenarnya masalah penuntutan itu bisa dimediasi. Karena demo kemarin toh ternyata ditunggangi oleh kepentingan politik. Ya, meskipun banyak Muslim yang memang berniat melakukan aksi damai lillahi ta’ala tetapi mereka tak sadar bahwa mereka juga dimanfaatkan para tokoh yang butuh panggung.

Menurutku, para pendemo memang tak sepenuhnya salah; karena mereka belajar ‘bersuara’ dengan aksi damai untuk membela nilai-nilau Islam. Tapi mungkin, jika mereka sadar bahwa momen seperti itu rawan ditunggangi kepentingan politik dan oknum, mereka akan lebih waspada untuk mengorganisasi aksinya.

Lalu, jalan-jalan malam ini akan bersambung ke agenda berikutnya, pulang ke rumah.

Advertisements