Setelah terpilih melalui seleksi universitas, apa yang harus dilakukan? Apa yang perlu disiapkan? Bagaimana skema kegiatan KKNK? Di mana kita akan ditempatkan? Bagaimana kita akan mengenal kawan-kawan sekelompok? 

Kita wajib berkoordinasi dengan teman satu universitas dan pihak LP3M atau LP4M di universitas masing-masing. Mereka akan memberitahu prosedur standar meliputi pendanaan hingga pembuatan laporan KKN. Dalam hal ini, Unair memberikan fasilitas pendampingan dari staf untuk perwakilan mahasiswa, tiket pesawat pulang-pergi, dan sejumlah uang saku. Sementara ketika pelaksanaan KKN, universitas penyelenggara dan DIKTI (serta mungkin sponsor) akan membiayai seluruh dana pelatihan, dana program kerja, hingga akomodasi peserta. Kami juga mencari sponsor dan mempersiapkan uang pribadi untuk persiapan dalam kondisi darurat. Berdoa sajalah semoga semua aman terkendali.

Pihak LP4M juga akan mendaftarkan kita ke website resmi KKNK. Di sinilah nanti para mahasiswa universitas penyelenggara akan menghubungi teman-teman sekelompoknya melalui nomor yang tertera di website.

Ajaibnya, seluruh peserta KKNK 2016 sudah terhubung via grup Line beranggotakan 400 lebih mahasiswa. Kami pun saling berbagi informasi, berkenalan, dan beruluk dalam di grup tersebut. Berharap-harap cemas dan menebak-nebak keseruan yang akan terjadi saat saling bertatap muka.

Kelompokku di’satu’kan oleh Saroh, mahasiswa Universitas Negeri Lampung yang sudah lebih dulu di-invite lewat Line oleh mahasiswa UMRAH, universitas penyelenggara KKNK 2016. I was totally excited to meet them in person, knowing that they would live with me for 30 days! Mereka adalah orang-orang ini: Randa dari Univ. Riau; Saroh dari Univ. Negeri Lampung; Resti dari UIN Suska Riau; Ani dari Univ. Negeri Makassar; Rizky dari Univ. Sriwijaya, Palembang; Bang Tasim dari Univ. Syiah Kuala, Aceh; Ranci, Adel, Silpi dari UMRAH, Tanjung Pinang; Rio dari Univ. Negeri Bengkulu; Dea dari Univ. Negeri Jambi; Pebri dari Univ. Negeri Tanjungpura, Pontianak; dan Bang Ian dari Unhas, Makassar. Setelah lengkap dan saling terhubung dalam grup khusus, kami berbagi tugas dan melengkapi keperluan apa saja yang dibutuhkan selama KKNK.

Rata-rata teman-temanku yang mengikuti KKN reguler akan membawa perlengkapan seperti pindah kos-kosan. Rasanya tak mungkin juga membawa barang-barang sebanyak mereka; apalagi bagasi pesawat juga membatasi kuota barang bawaan. Diputuskanlah para mahasiswa dari UMRAH yang membawa sebagian besar perkakas yang agak berat dan sebagian akan meminjam dari warga. Semua ini karena medan yang akan kami lewati lebih berat dan menuntut kami untuk lebih fleksibel. Karena itu banyak dari kami yang membawa tas carrier daripada koper. 

Di tengah keseruan kelompok menyiapkan barang bawaan dan kenalan, datanglah informasi di mana kami akan ditempatkan. Kami paham bahwa daerah 3T memang agak sulit dijangkau dan membutuhkan waktu tempuh yang lama untuk mencapainya. Akhirnya, setelah kami tahu akan ditempatkan di Desa Lebuh, kami segera mencari tahu via internet tentang lokasi, budaya, masyarakat, hingga laporan berita desa itu. Kami belum pernah ke sana dan kami sendiri baru akan bertemu ketika di Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Aku merasa aneh karena baru kali ini melakukan pengabdian tanpa survei terlebih dulu. Kami mengumpulkan segal informasi yang bisa dikumpulkan dan mulai menyiapkan diri, saling mengingatkan, saling menyemangati. 

Hingga tibalah kami di Hotel Sunrise City, Tanjung Pinang. Tak terlalu mewah, tapi cukup bagus meski kami harus tidur bertumpuk, berjajar, bersempit-sempitan mengingat seharusnya kami tidur di barak tentara. Awalnya, kami masih berkumpul dengan teman satu universitas, tapi kemudian para TNI membariskan kami untuk apel dan mengelompokkan kami berdasar peleton sesuai kelompok KKN.

Kami akan ditempa secara fisik dan mental selama 3 hari sebelum pemberangkatan KKN. Dijaga dan diawasi oleh TNI. Pagi hari sebelum materi, kami diharuskan mengikuti apel pagi, senam, dan sarapan. Setelahnya kami harus mengikuti pembekalan mental berupa materi-materi kebangsaan dan materi terkait tema KKN. Selama tiga hari itu pula kami akan mengenal, menyusun proker khusus di luar proker wajib, berinteraksi, dan menyesuaikan diri dengan kelompok KKN. Mereka yang akan menemani selama 30 hari.

Saat itu, peletonku termasuk peleton yang paling lelet karena cowoknya pemalas tapi pesolek. Kami sering kena hukum, hingga puncaknya kami harus push up selama 20 menit saat jam 2 pagi karena satu orang terlambat mengumpulkan tugas. Para cewek tak kurang-kurang cerewetnya mengingatkan dan memarahi para cowok yang nyantai setiap saat. Tapi karena kami tak ingin mengorbankan kekompakan kami, hukuman jam 2 pagi itu menjadi bukti solidaritas sekaligus pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terbukti, kelompok kami mampu mengatasi konflik apapun dengan kepala dingin dan terkondisikan selama di lapangan. Kami saling berbagi sekaligus menjaga rahasia, saling menjaga satu sama lain. Saling mengisi dan saling berkorban. Hingga kami tetap menjadi saudara sepulang KKN.

Meski ada beberapa masalah yang terjadi, and shit always happens, kami tetap optimis bahwa kami mampu melewatinya. Menurutku itu penting mengingat kami hidup bersama dengan 13 kepribadian dan pikiran yang berbeda.

Advertisements