Hari pemberangkatan tiba. Upacara pelepasan mahasiswa KKN Kebangsaan telah selesai dilaksanakan. Kami bersiap untuk diberangkatkan menjadi beberapa gelombang. Peserta dibagi menjadi 4 gelombang keberangkatan; grup Lingga, grup Karimun, grup Batam, dan grup Bintan. Di empat kepulauan itulah kami akan ditempatkan.

Kami adalah gelombang kedua. Tiket PP menuju dan dari tempat KKN sudah ditanggung oleh universitas penyelenggara. Tetapi kalau ingin wisata sendiri di tengah-tengah waktu KKN, tentu saja menggunakan biaya sendiri.

Sekali lagi aku masih merasa takjub karena aku harus menempuh jalur udara, darat, dan laut untuk mencapai tempat KKN. Dari pulau Bintan ke Kabupaten Karimun di kepulauan Karimun saja butuh waktu 3 jam perjalanan laut. Lalu, kami perlu meneruskan perjalanan ke Desa Lebuh selama satu jam dengan kapal ferry yang sudah disiapkan. Kami kira, kami akan turun di desa tersebut, tapi ternyata kami turun dari ferry di dermaga desa tetangga dan harus naik mobil pick up ber-14 berikut dengan seluruh barang bawaan kami selama sekitar 15 menit. Setelah agak lama tinggal di sana, kami baru tahu jika akses ke Desa lebuh hanya 3 kali sehari di jam-jam tertentu saja dan dengan kapal-kapal tertentu pula.

Nah setelah diterima oleh para pemangku desa, kami terharu karena sudah disiapkan tempat tinggal yang layak dan diberi perkakas rumah tangga layaknya pengantin baru. Kami tinggal di sebuah bekas puskesmas desa yang meskipun kata masyarakat setempat seram, tapi nyaman ditinggali. Well, kami berusaha sebisa mungkin menjaga tempat itu agar terjaga kebersihannya dan kerapihannya. Di desa lain, ada kelompok yang bahkan belum dapat tempat tinggal atau malah kena ribut dengan masyarakatnya. Kami bersyukur desa yang akan kami tempati menyambut kami dengan hangat, layaknya saudara jauh yang baru pulang setelah sekian lama.

Sekali lagi, karena desa ini ada di pulau terpencil yang hanya berjarak 45 menit dari Malaysia, soal transportasi, listrik, sinyal, dan teknologi masih sangat sulit. Listrik, bisa dibilang hany 9 jam per dua hari sekali. Itupun kalau obor di pembangkit listrik sedang mati, bisa tiga hari sekali. Sinyal, asalkan bisa internetan dengan jaringan Edge saja sudah beruntung. Sementara teknologi tercanggih adalah komputer di kantor desa, genset, dan beberapa televisi ber-parabola di rumah-rumah warga. Kulkas, mesin cuci, dan pompa air masih jadi barang mewah. Di desa lain, ada beberapa kelompok yang mendapat fasilitas lengkap layaknya hotel, karena memang mereka ditempatkan di daerah wisata. Tapi kami bersyukur karena bisa menikmati sensasi KKN yang sesungguhnya.

Inilah Indonesia yang masih membutuhkan perhatian dan sentuhan tangan-tangan mereka yang katanya akademisi canggih lulusan kampus ternama. Inilah lahan yang seharusnya digarap para pemuda Indonesia dan tak boleh sampai jatuh ke tangan bangsa asing hanya karena pemuda Indonesia kurang kepedulian terhadap nasib mereka. Biarlah pemerintah sibuk dengan kebijakan mereka, tapi harus ada orang yang juga memperhatikan kehidupan mereka yang ada di pelosok negeri.

Setelah berkenalan dengan warga dan mengamati daerah sekitar, kami mulai merapikan agenda program kerja dengan briefing setiap malam dan menyusun jadwal piket. Karena tema wajib proker kami adalah ekowisata bahari, kami mulai merancang jadwal jalan-jalan sekaligus proyek dokumentasi kelompok. Proker lain yang tak kalah penting adalah pengajaran di sekolah, perayaan 17 Agustus, dan sosialisasi nilai-nilai kebangsaan. Proker ini harus dimanajemen begitu rupa karena akan menjadi konten website sebagai salah satu bentuk laporan kami.

Jangan tanya soal tantangan hidup bersama 13 orang dengan 13 budaya berbeda. Kami seringkali terlibat konflik, tapi layaknya keluarga; akan kami selesaikan secara dewasa. Ada perubahan dalam hidup yang mulai terasa dari masing-masing pribadi kami. Rupanya hukuman push up 20 menit berdampak nyata menjaga kami tetap bersatu di tengah-tengah konflik yang mendera. Selain itu, kami juga saling berbagi resep, tradisi, dan cerita dari rumah masing-masing. Rasanya menyenangkan ketika kamu tahu kamu tidak menanggung beban hidup sendirian di negara ini. Ternyata ada mereka di luar sana yang juga ikut merasakan penderitaan itu tetapi tetap semangat menjalani hidup.

Menjelang akhir kegiatan, kelompok kami mendapatkan kunjungan dari dosen pembimbing kami dan dosen Univ. Negeri Lampung (dosennya Saroh). Selain itu, tentu saja kami menyempatkan liburan sejenak sebelum masa penarikan. Kami jalan-jalan dua kali; sekali bersama pak Kades dan pak Sekdes, sekali bersama kelompok kami sendiri. Fixed, I really miss those moments.

Setelah tepat 30 hari, kami ditarik kembali dari daerah penempatan. Ada beberapa siswa yang sengaja berpamitan sebelum mereka berangkat sekolah, ada beberapa yang meliburkan diri, dan tentunya para warga yang menjadi keluarga kami selagi kami jauh dari rumah masing-masing. Situasinya sangat emosional dan tentunya kami akan sangat rindu dengan kehidupan di sana. Sesampainya kami di Tanjung Pinang, kami mempersiapkan presentasi laporan kegiatan serta penutupan. Tidak banyak yang dilakukan selain menjalani waktu lambat-lambat, karena kemungkinan kami akan berjumpa sedikit saja dan dalam waktu yang lama. Ini pula yang jadi perbedaan besar dengan KKN reguler. Di mana mereka akan berjumpa kelompoknya dengan mudah; sementara kami harus punya waktu khusus untuk sekadar bersua.

Tapi bukankah dengan jarak kita akan saling menjaga kenangan? Dan bukankah dengan rindu kita akan menjaga hubungan?

KKN Kebangsaan, bagaimanapun bentuknya, adalah menemukan Indonesia. Seutuh-utuhnya. Pastikan namamu ada dalam daftar peserta KKN Kebangsaan tahun berikutnya!

Advertisements