​Hari itu, pertandingan voli di Desa Lebuh telah selesai. Kami, anak-anak KKN, kompak pulang bareng dari lapangan, jalan kaki. Kegiatan jalan kaki dari lapangan ke posko yang meskipun sebentar ini telah meninggalkan kenangan tersendiri. 

Jadi, di tengah jalan kami berdiskusi soal pembagian kerja cowok dan cewek di posko. Awalnya gara-gara para cowok mengeluh karena kelihatannya malam itu tak ada makanan, padahal mereka sudah seharian kelelahan di lapangan, tapi tak ada yang pulang untuk piket masak. Sementara para cewek membela diri dengan alasan capek kalo harus terus-terusan masak di dapur untuk 14 orang dengan peralatan plus listrik yang sangat terbatas. Ya, sebagai cewek yang juga kebagian piket masak, aku memang merasa kelelahan karena harus berada di dapur dari pagi sampai sore, mengingat banyaknya bahan yang harus dimasak. Istirahat hanya ketika makan siang dan makan malam.

Akhirnya kami saling berdebat. Para cowok menyalahkan cewek karena merasa tugas seringan itu saja tak mampu dilakukan. Sementara mereka harus bikin plang jalan, konsolidasi warga, dan rapat bersama Pak Kades, yang mengkonsumsi waktu serta tenaga lebih banyak. Lalu para cewek mengeluh karena terperangkap kebosanan di dapur dan posko. Kami, para cewek kota yang memang biasanya kelayapan di luar rumah (karena harus kuliah, ngerjakan tugas, atau kerja), seakan menemukan neraka kalau harus di posko sepanjang hari dengan urusan kompor dan rumah tangga. Dan para cewek menyalahkan cowok karena begitu sampai posko, malas-malasan kalau disuruh beli air galon atau cuma bantu cuci piring atau cuma ngangkat air. Marah-marah pula kalau makanan belum siap. Memangnya para cewek ini pembantu, bisa disuruh-suruh begitu saja.
Tak cuma sampai di situ, kami meneruskannya dengan membicarakan bagaimana  menjadi suami atau istri yang baik dan ideal. Karena menjadi suami atau istri yang baik juga menyangkut sebaik apa mereka mengerjakan tugasnya terkait peran  di dalam rumah tangga.
Tapi perdebatan ini berakhir ketika Bang Ian bilang, “Sebentar, lalu apakah kita di sini suami istri?”

Dan sontak membuat kami tertawa malu-malu. Lalu kami sadar, bahwa di sini kami adalah keluarga yang, memang harus saling membantu. Yang harus mencintai tanpa lelah. Yang harus menerima seburuk apapun masalahnya, lalu memecahkan masalahnya bersama-sama.

Advertisements