Search

Acatraveler's Diary

which of the favours of your Lord will you deny

Category

Campus

You (#1)

It is like a general love story one has ever made. Simple, cute, and always happy in the beginning; but mostly terrible in the end. But to make it different, I want to say it through the song lyrics. It surely would have mixed lyric from .

This first one, I would like to write about

My whole world changed from the moment I met you. And it would never be the same.
(I Do – 911)

It was a hot afternoon. I was really hungry, and exhausted. Thinking about my future plans in doing research funded by the Ministry of Higher Education in my campus, my mind gave up to my starving stomach to go to the canteen. That day, I conducted semi-quantitative research in my former high school; so I asked some teachers to help me spreading the questionnaires to their students. In a brief, I did on research about innovative learning and teaching styles using 8 ways of students interests. However, they seemed to be not liking the research activities. Yeah, I understood.

Back to my story. I walked to the canteen. And there he was. I admit that I have written this part of story many times. However this was how everything begins; and I always love to play it over and over again. I ordered a meal, spicy chicken with rice and salad. He ordered a bowl of noodle. Just because I recognized him as the same-year schoolmate and my bestfriend’s friend, I waved to him and requested him to sit with me.

I had not known him in person before, but that time, it was different. He asked me what I was doing there and so did I. From this simple conversation, I knew a fact that he just published one of his campus’ event in my school. He also started to tell me everything, about his study in one of the most expensive private campus in the city. About his riding hobby, about his organization in campus. And I sat there listening to him and replying his stories with mine. Well, it was a fine afternoon and a discussion with such an old friend. (wait, an old friend?) It was just like I met him after a long separation (?). After this, we got back to our campuses.

Not long after that, my lecturer assigned me to do a field research about youth culture. Then, i remembered that he was active as the member of big-bike community. Actually, I had several communities to be researched; K-pop lovers, gamers, football fans, and muslim youth. Yet, I decided to choose his community because I thought an issue related to the big-bike driver was becoming a hot topic on the media. From there, I contacted him starting to discuss about the topic with more intense frequency. I attempted to reduce the gap. I followed him and arranged some meetings with the other members of community. I, of course interviewed him and his friends to acquire the data I sought. He also gave me some videos to understand how the moto-lovers would do anything for their motorcycles (his analogy about his bike is like a hot-and-sexy girl). Yes, this community was so masculine (not to discuss around gender limitation and perspective).

I got so comfortable with these activities, research I meant. And maybe with him too. Because every time I got engaged with his community and the books, and the interviews, and the scripts, I was happy all day. Despite its complicated and messy schedules, I was smiling all day to make the thoughtful and resourceful report. Certainly, in the end, I got an A for the research!

And in the end, it turned out to be an unstoppable temptation.

A great kick start about my research career has begun. Projecting myself as a keen, diligent, and fearless researcher in the future drives me to take further steps to have more research, more presentation, and as a result, more journeys! After all that research on his community, I got a summer camp scholarship in National University of Singapore; it was my first time abroad. I had to present my research in the most prestigious conference on earth, Inter Asia Cultural Studies; where all of my audiences are the professors, PhD and master candidates, and international journalists (you know, even my Dean was there) just because my presentation had the similar topic with Mr. John Roosa and his wife, one of prominent scholars from Canada experts on history and human rights. The next year, I was also invited in a conference in Cambodia and short program in Japan, the country I had been dreaming for six years.

This is why I name this episode with the very first line of 911 song. Because simply when I met him, my whole world really changed.

Tugas Cowok dan Cewek

​Hari itu, pertandingan voli di Desa Lebuh telah selesai. Kami, anak-anak KKN, kompak pulang bareng dari lapangan, jalan kaki. Kegiatan jalan kaki dari lapangan ke posko yang meskipun sebentar ini telah meninggalkan kenangan tersendiri. 

Jadi, di tengah jalan kami berdiskusi soal pembagian kerja cowok dan cewek di posko. Awalnya gara-gara para cowok mengeluh karena kelihatannya malam itu tak ada makanan, padahal mereka sudah seharian kelelahan di lapangan, tapi tak ada yang pulang untuk piket masak. Sementara para cewek membela diri dengan alasan capek kalo harus terus-terusan masak di dapur untuk 14 orang dengan peralatan plus listrik yang sangat terbatas. Ya, sebagai cewek yang juga kebagian piket masak, aku memang merasa kelelahan karena harus berada di dapur dari pagi sampai sore, mengingat banyaknya bahan yang harus dimasak. Istirahat hanya ketika makan siang dan makan malam.

Akhirnya kami saling berdebat. Para cowok menyalahkan cewek karena merasa tugas seringan itu saja tak mampu dilakukan. Sementara mereka harus bikin plang jalan, konsolidasi warga, dan rapat bersama Pak Kades, yang mengkonsumsi waktu serta tenaga lebih banyak. Lalu para cewek mengeluh karena terperangkap kebosanan di dapur dan posko. Kami, para cewek kota yang memang biasanya kelayapan di luar rumah (karena harus kuliah, ngerjakan tugas, atau kerja), seakan menemukan neraka kalau harus di posko sepanjang hari dengan urusan kompor dan rumah tangga. Dan para cewek menyalahkan cowok karena begitu sampai posko, malas-malasan kalau disuruh beli air galon atau cuma bantu cuci piring atau cuma ngangkat air. Marah-marah pula kalau makanan belum siap. Memangnya para cewek ini pembantu, bisa disuruh-suruh begitu saja.
Tak cuma sampai di situ, kami meneruskannya dengan membicarakan bagaimana  menjadi suami atau istri yang baik dan ideal. Karena menjadi suami atau istri yang baik juga menyangkut sebaik apa mereka mengerjakan tugasnya terkait peran  di dalam rumah tangga.
Tapi perdebatan ini berakhir ketika Bang Ian bilang, “Sebentar, lalu apakah kita di sini suami istri?”

Dan sontak membuat kami tertawa malu-malu. Lalu kami sadar, bahwa di sini kami adalah keluarga yang, memang harus saling membantu. Yang harus mencintai tanpa lelah. Yang harus menerima seburuk apapun masalahnya, lalu memecahkan masalahnya bersama-sama.

Kepo Soal KKN Kebangsaan #1

Seperti KKN biasanya, tapi yang luar biasa adalah kita akan bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Ini, kesan pertama yang kudapatkan begitu tau bahwa aku akan mengikuti KKN Kebangsaan 2016.

Ah, tapi baiknya aku bercerita dulu, apa itu KKN Kebangsaan. Inisiator program KKNK adalah para dosen dari Universitas Hassanuddin, Makassar; Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; dan Universitas Andalas, Padang; lalu berkoordinasi di bawah naungan Dirjen DIKTI. Dimulai pada tahun 2014, para inisiator ini mengumpulkan mahasiswa dari berbagai pulau dan suku di Indonesia untuk mengabdi di wilayah-wilayah perbatasan negeri. Agar mahasiswa tak angkuh dengan arogansi kedaerahan, agar mahasiswa mengerti bahwa bangsa Indonesia bukan hanya sekelumit orang di daerahnya saja, agar mahasiswa belajar menghadapi kenyataan yang dirasakan di tengah-tengah masyarakatnya. Buat apa jadi mahasiswa kalau cuma berdiam diri di dalam menara gading yang disebut kampus? Kampus itu salah satu tempat belajar, tapi masyarakat adalah tempat mempraktikkan ilmu yang sudah didapatkan.

Sejak 2016, KKNK diputuskan untuk diadakan sekali setahun setiap bulan Juli-Agustus. Wilayah yang dijadikan target KKN adalah wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terisolir), di mana pembangunan masih sangat minim dan seringkali tak terjamah pemerintah pusat. Ada pola unik yang diterapkan panitera inti KKNK, jika tahun ini di wilayah barat Indonesia, tahun berikutnya di wilayah timur; begitu seterusnya. Kapan wilayah tengah (Jawa)? Hm, sepertinya Jawa sudah terlalu mainstream dan sudah terlalu banyak kampus yang memperhatikan daerah lokalnya.

Lalu, bagaimana kampus-kampus menyeleksi mahasiswanya? Ada beberapa yang menerapkan sistem pengumpulan berkas dan wawancara. Untuk Unair, biasanya tergantung fakultasnya; dan tetap saja ada persyaratan yang harus dipenuhi. Yakni, harus memiliki IPK di atas 3 dan pengalaman berorganisasi di internal atau eksternal kampus yang dibuktikan dengan sertifikat atau SK. Sedikit bocoran, setiap bulan Mei-Juni, tanyalah ke pihak dekanat. Adakah lowongan untuk KKN Kebangsaan tahun ini? Siapa tahu kamu yang beruntung untuk mendapatkan satu tempat mewakili Unair di KKNK.

Tentang kuota mahasiswa, biasanya memang disesuaikan dengan kemampuan universitas penyelenggara dan tema yang diusung KKNK tahun tersebut. Tahun 2016, Unair memberangkatkan 14 mahasiswa dari FISIP, FEB, FIB, FKM, FST, dan FH dengan tema Ekowisata Bahari. Tahun 2017, rencana temanya belum dibahas, tapi akan dilaksanakan di Universitas Negeri Gorontalo. Bersiaplah menyambutnya! 

Sebuah Kemewahan

Apakah semua wanita suka belanja? Absolutely yes.

Apakah semua wanita suka belanja make up dan dress cantik? Belum tentu!

Bagiku, sebuah kemewahan adalah ketika aku bisa membeli dan membaca buku-buku yang dibaca para pemimpin dunia. Ketika aku bisa terlarut dalam cerita yang mampu mengubah dan menggerakkan seseorang untuk menjadi lebih baik. Ketika aku bisa mendengarkan pidato inspiratif dari orang yang melakukan sesuatu untuk orang lain.

Bahkan, di suatu masa, aku pernah didistraksi agar lebih “meng-upgrade” penampilan, daripada isi pikiran. Sempat tergoda, tapi rupanya cinta sejatiku yang selalu jatuh pada buku-buku berkelas tak bisa dikhianati begitu saja. Buku-buku itu tetap memanggil dengan sendirinya, dan aku patuh dengan panggilannya.

Well, bukan berarti kemudian aku acuh dengan penampilan. Tapi, setelah penampilan cukup kusesuaikan dengan “standar”, buku-buku itu terus saja menjadi sebuah kemewahan yang terus kukejar. Ya, ilmu di dalamnyalah yang membuatku terkesima.

Karena ini yang kupercaya: wanita yang hanya cantik, tidak akan mampu untuk menciptakan generasi tangguh berikutnya. 

Penyakit Mahasiswa (yang sudah lama di) Jawa: Katak dalam Tempurung

Hari ini aku cukup lama berbincang dengan salah satu temanku, Icha, setelah dia pulang dari kegiatan PPAN di China. Icha, anak kuliahan asal Gresik yang selalu bersemangat dan berambisi tapi realistis ini sedang aktif-aktifnya membina kelompok masyarakat di bantaran kali Jagir, di bawah payung organisasi Urban Care Community.

Obrolan kami berdua awalnya karena aku ingin mencoba “melakukan pengabdian yang benar-benar memanfaatkan ilmuku” di bidang media dan studi budaya bekerja sama dengan komunitasnya; tapi ternyata hal ini melebar hingga kami membahas soal pengalamannya di China dan ceritaku soal KKN Kebangsaan. 

Satu kesamaan kami terhadap dua program yang menyatukan para mahasiswa Indonesia itu adalah, “Ternyata Indonesia tak hanya berisi orang Jawa dan Bali.”

Wajar saja, ketika program itu berlangsung, kami ‘dikumpulkan’ dalam satu wadah dan diberi suatu proyek untuk dikerjakan bersama. Kami ini; sudah orang Jawa tulen, sekolah tak pernah pindah dari Pulau Jawa, tiap hari berbahasa Jawa, menikmati hiburan-hiburan urban di Jawa, dan terkena efek dari pemerintahan zaman Soeharto yang Jawa banget dari orang tua-orang tua kami; hanya bisa meratapi rasa malu dan cupet karena belum pernah merasakan asyik serta serunya berkumpul dengan saudara-saudara dari Sabang sampai Merauke. 

Sebenarnya, sudah sejak pulang KKN Kebangsaan aku memendam topik ini untuk ditulis, tapi sekarang baru menemukan waktu yang tepat untuk menuliskannya (di antara deadline paper dan ppt diskusi besok). 

Oke, balik lagi. Icha bercerita dengan sangat antusias bahwa dia tak pernah bosan menyanyikan dan mendengarkan lagu daerah dari seluruh Nusantara, plus menari kalau bisa. “Musik mereka itu juga seru lho, Mik…“. Dan bahkan dia bilang tak ada lagi lagu bernuansa barat selama ia berada di bus yang membelah daratan China. 

“Aku sampai merinding waktu kita nyanyi lagu Gemufamire dan Indonesia Tanah Air Beta di depan Pemerintah China,” lanjutnya.

Percayalah, aku pun merasakannya dari caranya bercerita. Dia sampai menggoyang-goyangkan badannya demi mengingat ritme lagu yang dimainkannya. 

Begitupun denganku. Selama ini, aku hanya menyaksikan orang suku Melayu, Batak, Dayak, Bugis, NTT, atau Papua hanya melalui buku dan internet. Tak pernah bergaul dan berinteraksi secara langsung dengan mereka. Kalaupun ada, paling keluarga dari Bude yang asli Bugis, dan itupun hanya kulakukan 4 tahun sekali ketika aku berkunjung ke Kalimantan atau Bude yang ke Surabaya. Di luar itu, hidupku penuh drama produksi Barat, Korea, dan kadang film apik Indonesia (re: Jawa Urban).

Lalu, tiba-tiba saja pengumuman KKN Kebangsaan datang dan memanggilku untuk mengabdi ke pelosok negeri di ujung barat laut Indonesia, dekat dengan Malaysia dan Singapura. Di sinilah aku bertemu dengan para mahasiswa hebat dari daerah yang tak kenal lelah berjuang demi kesetaraan sosial di banyak bidang. Tidak meratanya pembangunan infrastruktur dan suprastruktur di daerah mereka justru menjadikan mereka pejuang tangguh, yang kerap menyuarakan tuntutan dan teguran keras kepada pemerintah Indonesia di pusat (Jawa), tapi beritanya seringkali dibungkam dan (mayoritas) mahasiswa di Jawa acuh terhadap mereka ini. 

Mungkin memang karena para mahasiswa di Jawa sudah sangat nyaman dengan zonanya, dengan gadget, internet, dan segala kemewahan hidup yang ditawarkan di sini; mereka kadang lupa soal perjuangan saudara-saudara mereka di luar Jawa. Dan seperti kata Ben Anderson, menjadi katak dalam tempurung yang sengaja memenjarakan pikiran-pikirannya, dan berhenti peduli pada sesama.

Duh, separah itukah para mahasiswa di Jawa? Duh! Kelak, setelah ini, aku paham bahwa untuk mengisi kemerdekaan, tak cukup kita melihat Indonesia dari kacamata sempit dari Pulau Jawa saja. Karena sudah seharusnya kita melihat dari sudut pandang saudara kita yang lain; kan katanya Bhinneka Tunggal Ika. Kok masih ogah mengenal negaranya sendiri?

AriReda: Suara Hati

Seorang filsuf estetika, Walter Benjamin, pernah berkata, “Ketika manusia sudah mulai mengkonsumsi karya seni (cetakan industri budaya) populer, mereka akan kehilangan kenikmatan menyaksikan karya berkualitas yang masih penuh dengan aura di dalamnya.”

Malam itu, aku dikompori seorang senior progresif untuk menemaninya datang menemui Mbak Reda. Sejak pertama kali memberikan poster acara via Whatsapp, dia gembira bukan main karena akhirnya bisa reunian dengan Mbak Reda setelah sekian lama. Tapi tetap saja, aku masih clueless, who is this woman.

“Itu lho, AriReda. Yang bikin musikalisasi puisinya Sapardi.” 

Merekognisi kata Sapardi Djoko Damono sebagai salah satu sastrawan terbesar di Indonesia, naluri ketertarikanku sebagai anak sastra langsung bangkit. Ah, it must be something related with literature and classy stuff.

“Wah, pasti keren, Mbak!” 

Tak butuh waktu lama untukku mengetik nama AriReda di Youtube dan Instagram. Aku mendapatkan video AriReda sedang membawakan puisi Sapardi yang terkenal se-jagad Indonesia, Hujan Bulan Juni dengan alunan musik akustik yang lembut, tapi menggugah. Pun di Instagram, alih-alih mendapatkan akun Mbak Reda, aku tertumbuk pada akun IG Nadine Chandrawinata yang menceritakan pertemuannya dengan Mas Ari dan Mbak Reda di suatu acara. Artis yang akhir-akhir ini sibuk menjadi petualang tersebut tak henti-hentinya memuji karya mereka berdua dengan kata-kata “suara teduh, alunan indah” dan semacamnya. 

Selama ini, aku adalah penikmat musik-musik mainstream yang populer pada jamannya, tapi aku juga tak seberapa suka lagu-lagu sekarang yang liriknya (kebanyakan) tak berbobot dan terlalu vulgar. Aku juga tak belajar begitu dalam soal musik, meskipun itu adalah salah satu bentuk seni; setidaknya aku sedikit tahu soal mana musik yang bagus untuk dinikmati. Nah, mendengarkan musikalisasi puisi ala AriReda adalah sesuatu yang baru buatku, dan aku punya feeling, konser malam itu akan menakjubkan!

Dulu aku juga pernah melakukan musikalisasi puisi di kelas 9 & 10. Meskipun aku melakukannya karena guruku memberi tugas, entah kenapa aku jadi suka perpaduan antara musik dan puisi. Keduanya menyatukan tiga elemen yang berbeda; kata, suara, dan rasa. Puisinya jadi lebih cepat meresap dan mudah dimengerti, sementara musiknya punya lirik yang bermakna, tak sekedar nyanyian biasa. Tapi ya namanya tugas anak sekolah, musikalisasi pun dilakukan ala kadarnya, dan guruku oke-oke saja dengan variasi puisi ala kelompokku. Di sinilah kesan pertamaku terhadap musikalisasi puisi, hingga aku mendengar suara berbeda dari musik yang dibawakan AriReda, dengan rasa yang semakin kaya!

Kembali ke masa kini. Jadi, kami berdua telah datang bahkan sejak sebelum acara dimulai. Seniorku itu berharap supaya bisa menemui Mbak Reda in person dan ngobrol banyak dengannya. Aku sih, manut saja. Tapi ternyata, AriReda memang baru hadir di depan kami 10 menit menjelang waktu tampil mereka. Begitu ada Mbak Reda, seniorku itu langsung menghampiri, memeluk, sekaligus mencak-mencak kegirangan. Dan, hal yang kurang lebih sama dilakukan Mbak Reda. Mereka pun ngobrol tanpa henti, sampai akhirnya diminta salah satu kru untuk bersiap manggung. Kesan pertamaku, Mbak Reda orangnya jauh dari ngartis dan pasti termasuk orang-orang dinamis yang manis. Aku dibuat penasaran dengan latar belakang mereka di luar identitas mereka sebagai seniman.

Tak lama, Mas Ari dan Mbak Reda naik ke panggung. Mas Ari sudah siap dengan gitar akustiknya, Mbak Reda dengan buku teks puisinya. Tampilan mereka sederhana saja; nuansa hitam elegan, tapi tetap chic dikenakan. Rupanya, Mbak Reda tak suka jauh dengan audiensnya. Diajaknya kami semua maju satu cm sampai ke depan panggung, hal yang tak dilakukan band-band lain pengisi acara malam itu. Tentu saja, dengan senang hati kami melakukannya. 

Seperti biasa, mereka memperkenalkan diri, mencoba menjawab penasaran anak-anak muda di depan mereka. Ternyata, Mbak Reda adalah salah satu mahasiswi Sastra Perancis UI di tahun 1980-an, yang juga menjadi mahasiswi Pak Sapardi. Sementara Mas Ari adalah penikmat sastra yang dengan senang hati mewujudkan mimpi Pak Sapardi untuk memperkenalkan puisi kepada masyarakat dalam proyek musikalisasi puisi di zaman itu. 

Jadi, bisa dibayangkan lah, berapa usia para sesepuh ini sekarang. Aku salut dengan semangat mereka yang tak berhenti berkarya di usia yang seharusnya menikmati kemapanan seperti beliau. 

Tanpa banyak basa-basi lagi, Mbak Reda mulai memberikan pernyataan di awal lagu tentang puisi yang akan dinyanyikannya. Aku berharap lagu pertama adalah Hujan Bulan Juni, tapi ternyata yang terpilih adalah puisi berjudul Gadis Peminta-minta; aku pernah membacanya ketika sedang mengerjakan UN SMA. Mendengarkan suara teduh (aku setuju dengan istilah Nadine) Mbak Reda serasa melihat langsung kehidupan gadis kecil yang diceritakannya dalam puisi. Nyata. Ada. Tau kan, rasanya ingin menangis di depan anak kecil tapi di sisi lain, ada rasa untuk membuatnya tetap tegar? Begitulah. 

Apakah ngantuk mendengarkan musik ini? Sama sekali nggak ada ngantuk. Sama ketika aku mendengarkan River Flows in You atau Kiss The Rain nya Yiruma; bukan ngantuk yang kudapat. Baper iya…. 

Cuma ada yang aneh dengan reaksi orang-orang sekitar. Dari awal band pembuka, banyak yang matanya tak fokus dengan penampil di depan. Bahkan, tepuk tangan terasa canggung. Segala bentuk gadget (Smartphone, kamera digital, go pro, DSLR, tele) berseliweran untuk mengambil momen-momen langka yang kerap terjadi saat waktunya tak terduga. Bukan malah menikmati konser dan musiknya… 

Hal yang berbeda terjadi sejak Mbak Reda meminta penonton maju agar lebih dekat dan hampir tak berjarak. Semuanya terbius dengan dentingan gitar akustik Mas Ari, suara bening Mbak Reda, dan lirik-lirik indah para sastrawan dalam puisi. Meskipun banyak di antara wajah-wajah ini yang tak mengerti (mungkin mereka juga sudah biasa dan suka  aliran mainstream) dengan maknanya, tapi setidaknya kami mencoba mengapresiasi musik sejujur-jujurnya dengan cara sepenuhnya fokus pada sang penampil. AriReda telah berhasil mengajak kami untuk “merasakan lebih dalam” dan “lebih peka” dengan “yang terlihat biasa”.

Di sini aku baru paham, apa makna perkataan Walter Benjamin di atas. Bahwa “aura” suatu karya seni, akan terlihat dan terasa dalam bentuk aslinya. Tentu saja berbeda dengan jika kita menikmati musik atau karya seni laiannya via media apapun. Menikmati secara langsung dan di tempat yang tepat memang memberikan sensasi tersendiri, dengan keberadaan ruang dan waktu yang khusus. Ia menciptakan pengalaman yang nantinya menjadi memori-memori kita. Mungkin bisa diceritakan, untuk memberi pelajaran di masa depan yang mungkin akan semakin cepat dan dinamis. 

Mungkin, generasi depan sudah tak tau lagi, betapa asyiknya menikmati karya klasik secara live, atau bagaimana serunya bertemu para seniman secara langsung dan bertukr pikiran dengan mereka; seiring dengan semakin berkembangnya teknologi media dan mudahnya industrialisasi budaya. (Maaf topiknua tetiba berat). 

Semoga kelak mereka masih diberikan kesempatan untuk mendengarkan dan menikmati seni yang berkualitas yang tak cuma mementingkan kuantitas atau penggemar. Tapi seni yang benar-benar dilahirkan dari kegelisahan hati para penciptanya, yang biasanya menjadi jawaban pemenuhan jiwa.

Optimisme dan Nasionalisme: Kunci Kehidupan di Era Global

Kelompok KKN Kebangsaan Desa Lebuh dari berbagai universitas negeri di Indonesia. Saya mengenakan jaket almamater Universitas Airlangga warna biru tua; posisi kedua dari kanan.

           Perkenalkan. Saya terlahir tanggal 11 Mei dua puluh satu tahun yang lalu, dengan nama Annisa Rochma Sari. Saya bersyukur atas tiga kata yang menyusun nama saya karena tidak perlu pening memikirkan penambahan atau pengurangan nama saat membuat paspor. Apa pasal paspor ini begitu penting? Saya hobi jalan-jalan, tetapi saya belum pernah merantau dari rumah orang tua saya di Tuwowo 3/15 Surabaya. Perjalanan yang saya tempuh banyak mengajarkan arti hidup sekaligus memberikan saya bekal kehidupan yang jarang saya dapatkan di bangku-bangku pendidikan formal.

            Sementara ini, Jepang merupakan negara terjauh yang pernah saya kunjungi. Dengan surat tugas beserta dana dari Departemen Sastra Inggris Universitas Airlangga, berangkatlah saya menunaikan tugas selama sepuluh hari di Jepang. Lagi-lagi saya belajar sembari melakukan perjalanan di berbagai situs sejarah Jepang pasca perang. Rasa optimis bangsa Jepang terhadap kekuatan bangsanya sendiri pun menginspirasi saya untuk percaya pada bangsa Indonesia. Sebagai perwujudannya, saya menulis karya berjudul “Nationalism of the Youth in Good News From Indonesia” untuk proyek skripsi. GNFI merepresentasikan kekuatan optimisme generasi muda Indonesia serta menjadi contoh gerakan inspiratif di tengah gempuran imaji negatif media terhadap kondisi sosial suatu bangsa. Tema optimisme membangun bangsa itulah yang membuat karya tersebut terpilih untuk dipresentasikan dalam konferensi ilmu sosial di Zaman University, Kamboja.

            Perjalanan berikutnya membawa saya ke Pulau Belat, Provinsi Kepulauan Riau, dalam rangka melaksanakan KKN Kebangsaan 2016. Selama 30 hari, saya ditakdirkan untuk hidup bersama 13 mahasiswa dari 12 universitas negeri di Indonesia. Melalui KKN Kebangsaan, semangat nasionalisme tumbuh beriringan dengan optimisme. Persatuan dan kekompakan kami dijaga oleh rasa nasionalisme, sementara optimisme menyetabilkan langkah kerja kami.

            Soekarno berkata bahwa cukup dengan 10 pemuda; ia akan mengguncang dunia. Saya bertekad menjadi bagian dari 10 pemuda tersebut dengan terus menyebarkan berita positif mengenai Indonesia melalui kegiatan magang di GNFI. Saya tidak ingin optimisme dan nasionalisme mati di tengah guncangan globalisasi yang begitu dahsyat di era ini.

Value Your Every Memory

Dunia ini sudah terlalu bising; entah itu bising dengan suara mesin yang rasanya semakin cepat dan menderu-deru atau bising dengan pencitraan manusia kebanyakan soal apa yang tidak bisa dibawa mati. Oh ya, aku lupa… dengan menulis ini; aku pun semakin menambah kebisingan dunia; tapi semoga kebisingan ini sedikit bermanfaat.

Malam ini aku sharing banyak hal dengan Mbak Dee, a night-night talk (literally meaning, borrowing the term from Fitz-Simmons in Agents of S.H.I.E.L.D series), seorang teman sekaligus kakak yang baru saja kukenal lewat program volunteering di Rumah Bahasa. Satu hal yang menarik selain soal beasiswa yang biasa kami bahas adalah value our every memory. Khusus night-night talk kali ini, kami hanya ingin ngobrol dan makan dengan nyaman, tidak terganggu oleh HP atau chat-chat dari media sosial yang terus saja tanpa henti berkicau.

Banyak studi dan penelitian yang sudah membahas soal dampak teknologi yang membuat kita semakin asing antara satu sama lainnya. Menurut ulasan profesor entah siapa itu namanya, manusia cenderung mengalami hiperkomunikasi beberapa tahun belakangan ini. Ya, jadi manusia lebih mudah berkomunikasi via elektronik ketimbang ngobrol secara langsung. Kita jadi lebih aktif dan atraktif di wall dan chat room daripada di forum diskusi; kita jadi lebih peduli via obrolan di grup daripada silaturahmi dengan kerabat dan sahabat kita; kita jadi lebih sulit dan bingung memikirkan apa yang mau dibicarakan dengan orang secara langsung daripada mengetik status di FB yang entah kenapa seperti semudah saat kita curhat; pernah mengalaminya?

The thing is, technology is our distraction. Aku setuju dengan pendapatnya McLuhan (*bukan nama salah satu artis boyband Korea) yang berkata bahwa teknologi mengubah cara otak kita bekerja; dan itu berarti teknologi pelan-pelan mengubah kehidupan kita. Di satu sisi, teknologi memang membantu kita mempermudah segalanya; tapi di sisi lain, teknologi juga mengurangi daya pikir otak kita. Inilah yang berujung pada kurangnya kemampuan kita untuk menghargai momen-momen bersama orang lain. Akibatnya, ketika kita makan dengan keluarga, sahabat, atau orang lain dan saat itu kita sedang mainan gadget; rasanya segala hal yang ingin kita lakukan bukan memperhatikan orang-orang yang ada di dekat kita; tapi memperhatikan dunia luar yang sepertinya sangat menarik; dan sebenarnya tidak terlalu esensial untuk kita. Selanjutnya jelas, komunikasi akan sedikit berantakan; kecuali kalau misalnya kita tipe orang-orang yang mudah mencari bahan pembicaraan dan membuat suasana kembali ceria.

Ya, dibandingkan dengan orang yang ada di dekat kita; yang mungkin kita sudah tau siapa dia; dunia luas di balik layar gadget jauh lebih menantang dan menarik untuk dijelajahi lebih jauh. That’s human. Normal. Everyone is a wanderer. Normal. Tapi, sekali lagi, kalau kita mampu menghargai momen kita dengan manusia lain; banyak hal yang bisa diceritakan, banyak hal yang bisa dibahas dan dibagi, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran.

Sesuai kata Om Pram; manusia tidak akan habis untuk diceritakan.
Mulailah dengan mengabaikan gadget kapanpun kita berkomunikasi dengan orang lain. Hati dan mata seseorang yang ada di dekat kita itu, menyimpan rahasia dan dunia yang jauh lebih indah daripada dunia ciptaan teknologi. Karena keduanya ciptaan Tuhan Yang Maha; sementara teknologi, tak sesentipun mampu menandingi kekuasaanNya yang begitu sempurna. Sesederhana itu.

Unbearable Questions for Scholarship Hunters

image

Jadi, apa jawabanmu?
Bukan;

Yang penting adalah BAGAIMANA caramu menjawabnya.
Dari pengalamanku diwawancarai dan bertanya pada scholarship hunters, sebenarnya tidak ada trik khusus untuk menjawab dengan jawaban paling ‘bersayap’, ‘bagus’, atau ‘menarik’. Kenapa? Tentu saja setiap manusia hadir dengan cerita yang berbeda, pengalaman yang bervariasi, dan sikap hidup yang tak sama.

Sekali lagi, bagaimana caramu menjawabnya akan membuktikan bagaimana caramu berpikir. Dan faktor itulah yang akan sangat dipertimbangkan oleh pemberi beasiswa. Yang mereka cari, adalah orang-orang outstanding; yang berbeda dan unik. Yang mampu mencari sudut pandang lain dan tau untuk apa dan bagaimana sudut pandanh itu digunakan. Yang mampu menghasilkan sesuatu dari sudut pandang itu.

Pertanyaan-pertanyaan itu sama; tapi mereka yang outstanding akan tau bahwa kejujuran adalah segalanya. Kejujuran itu akan terpancar sendirinya dari hati yang melakukan kerja nyata, aksi nyata, dan hanya perlu sedikit skill untuk menyajikannya dengan manner dan fluency yang baik.

Di dalam antologi esai yang memuat 50 esai pendaftaran kampus Ivy League (Harvard, Princeton, Columbia Universty, etc); kejujuran dan pengalaman personal itu dikemas dalam jawaban yang well structured, well mannered, dan well planned. Karena hal itu membuktikan bahwa orang-orang itu berhasil mengambil dan mengaplikasikan pelajaran dari hal-hal sederhana di sekitarnya. Ya, tiap orang jelas mendapat pelajaran; tapi tidak setiap orang cukup cerdas dan berbesar hati mengambilnya.

Think about it!

Up ↑